Nasional

Semester I 2017, Pariwisata Indonesia dan Vietnam Bersaing Ketat

Pariwisata Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh

Dream.co.id

ACEHTERKINI.COM | Industri pariwisata Indonesia memiliki musuh baru di Asia Tenggara. Setelah melibas Thailand yang tren kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada semester pertama 2017 hanya 4,41 persen, Indonesia kini bersaing ketat dengan Vietnam.

Tren kunjungan wisman ke Indonesia dan Vietnam pada paruh pertama 2017 menunjukkan pertumbuhan tertinggi di Asia Tenggara.

Seperti dilansir dari situs jaringan JPNN, Aleuhat (13/8/2017), laman TTR Weekly melaporkan, Vietnam dikunjungi 6.206.336 wisman sejak Januari hingga Juni 2017.

Wisataman Tiongkok, Korea Selatan adalah penyumbang turis terbesar bagi Vietnam.

Sementara itu, Indonesia dikunjungi 6,48 juta wisman sepanjang semester pertama 2017. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah itu melesat 22,42 persen dibandingkan periode yang sama 2016. Saat itu, kunjungan wisman mencapai 5,20 juta.

Indonesia digempur turis asal Tiongkok, Singapura dan wisatawan asal Australia sepanjang Januari – Juni 2017.

Namun perihal trend kunjungan wisman ini, Vietnam memiliki kendala serius. Sebab mayoritas turis enggan kembali ke Vietnam.

Laman Vietnamnet, Selasa (1/8/2017) melaporkan, sebanyak 70 persen turis enggan pelesiran ke Vietnam lagi. Banyak hal yang membuat travelista enggan menjadi repeater.

Mulai pencurian, kemacetan, kebersihan makanan, dan polusi di Vietnam.

Selain itu, turis juga kecewa terhadap pedagang lokal karena ditipu dengan barang berkualitas rendah.
Berbagai kasus itu menjadi fokus utama dalam Forum Sektor Swasta Vietnam yang dihelat 31 Juli lalu.

Mereka berkaca pada kejadian 2016. Saat itu, Vietnam dibanjiri sekitar sepuluh juta wisman. Namun, hanya sedikit yang mau kembali lagi ke Vietnam.

“Beberapa kasus yang buruk menodai citra Vietnam. Sebab, saat ini informasi menyebar dengan cepat melalui internet. Warga lokal harus lebih memperhatikan keamanan turis. Selain itu, kebijakan juga harus lebih baik,” ujar Kepala Administrasi Pariwisata Nasional Vietnam Nguyen Van Tuan.

Nah, berkaca dari kasus Vietnam, Indonesia harus lebih bekerja keras menata pariwisata agar travelista mau menjadi repeater.

Apalagi, Indonesia memiliki modal besar untuk menggenjot pariwisata. Yakni, wisata halal alias family friendly tourism.

Berdasarkan riset Mastercards-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2017, Indonesia menduduki posisi ketiga di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab.

Sedangkan pada 2016, Indonesia berada di urutan keempat di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Turki.
Menpar Arief Yahya sudah menulis CEO Message, “Waspadai Vietnam” untuk memberi warning internal Kemenpar.

Vietnam dan Indonesia adalah 2 negara yang masuk top 20 the fastest growing tourist visitor, dan dilaporkan telegraph.co.uk.

“Saat ini persaingan bukan yang besar mengalahkan yang kecil, tetapi yang cepat mengalahkan yang lambat. Vietnam dan Jepang dua contoh negara yang cukup cepat, melakukan deregulasi dan memberi kemudahan wisman datang ke sana,” kata Arief.

Comments
To Top