Ekonomi

Tak Kantongi Izin, Usaha Sarang Walet Menjamur di Abdya

Lobang-lobang pada bangunan bertingkat di kawasan perkotaan Blangpidie dijadikan sebagai tempat usaha sarang burung walet, Kamis 2 November 2017

Foto | Rizal

ACEHTERKINI.COM | Usaha sarang burung walet di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) terus menjamur seiring banyaknya toko bangunan bertingkat di Pusat Kota Blangpidie. Namun, usaha tersabut dilaporkan sejak belasan tahun terakhir tidak mengantongi izin dari pemerintah setempat.

Seiring berjalannya waktu, usaha tersebut tampak semakin mulus tanpa hambatan apapun. Usaha sarang burung walet itu dikelola dalam bangunan toko yang membuka usaha dagang dan usaha lainnya.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Firmansyah, ST Kamis (2/11/2017) membenarkan kalau usaha sarang burung walet yang tersebar di sejumlah kecamatan dalam kabupaten setempat belum memiliki izin dan berjalan secara ilegal.

Usaha ini telah berjalan sejak lama, tanpa adanya pengawasan dari Pemkab Abdya, bahkan tidak diketahui berapa jumlahnya.

Firman mengaku banyak laporan masyarakat yang merasa terganggu, karena usaha tersebut berdiri di kawasan ramai penduduk bahkan di pusat kota kabupaten. Namun, upaya penindakan tetap belum bisa dilakukan sebab terkendala dengan qanun yang belum disahkan.

“Pada akhir 2016 lalu, kita telah mengajukan qanun atau Perda sarang burung walet, namun hingga saat ini dalam tahap evaluasi di Kementerian Keuangan RI, karena menyangkut dengan tarif atau pajak yang akan dikenakan kepada pelaku usaha,” ungkapnya.

Menurutnya, sampai saat ini usaha itu belum mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat maupun daerah. Sebab, tidak ada pendapatan asli daerah yang diperoleh dari usaha dimaksud.

Dilain sisi, Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Abdya juga mendesak Pemkab Abdya untuk menutup sejumlah usaha sarang burung walet di kawasan Blangpidie karena dianggap memiliki dampak buruk terhadap masyarakat.

Hal itu dibenarkan Miswar SH selaku Ketua YARA Perwakilan Abdya. Menurutnya, sarang burung walet tersebut dinilai sangat menganggu warga, karena selain suaranya yang berisik, sarang itu juga akan menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan warga yang bermukim di disekitarnya.

Untuk itu, Pemkab Abdya tidak adil dalam memberikan izin usaha. Bagi usaha warung kopi atau kios kecil yang penghasilannya tidak seberapa diharuskan memiliki izin usaha. Sementara usaha burung walet dengan keuntungan sekali panen saja jauh lebih besar, tidak memiliki izin pemerintah.

“Kami menilai, usaha sarang burung walet ini sangat mengganggu kenyamanan masyarakat, karena menimbulkan kebisingan, apalagi pemutaran rekaman suara burung walet dari pengeras suara ini tidak mengenal waktu,” paparnya singkat. (Rizal)

Comments
To Top