Layanan Publik

Warga Panto Cut Sangat Butuh Jembatan Penghubung

Karena tidak ada jembatan, sebuah kenderaan menyebrangi sungai panto di Desa Panto Cut, Kecamatan Kuala Batee, Abdya. Warga sangat membutuhkan pembangunan jembatan. Foto direkam 4 Oktober 2017

Foto | Rizal

ACEHTERKINI.COM | Warga Desa Panto Cut, Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) sudah lama berharap jembatan penghubung dalam desa setempat segera dibangun. Pasalnya, sejak desa itu berdiri, warga setempat harus melintasi sungai baik jalan kaki maupun menggunakan kendaraan untuk menyebrang.

Kepala Desa (Keuchik) Panto Cut, Sahibah, Rabu (4/10/2017) mengaku sudah beberapa kali mengusulkan pembangunan jembatan tersebut, akan tetapi hingga beberapa tahun lamanya masih belum juga membuahkan hasil.

Sahibah sudah mulai pesimis dengan usulannya itu, karena pengusulan yang dilakukannya bukan hanya sekali bahkan sudah beberapa kali tapi belum juga ditanggapi. “Cukup besar keperluan jembatan itu, disamping untuk warga setempat, juga untuk akses warga lainnya menuju perkebunan,” ungkapnya.

Katanya, sejak puluhan tahun tidak ada tanda-tanda untuk membangun jembatan diatas aliran sungai (Krueng) Panto tersebut. Bisa dikatakan, sejak jalan itu pertama kali dibuka belum terlihat upaya apapun agar jembatan itu segera terbangun.

“Meski belum ditanggapi, saya akan terus berupaya mengusulkan jembatan itu agar segera dibangun. Selama saya masih menjabat keuchik tak henti-hentinya melayangkan usulan baik melalui kecamatan, kabupaten bahkan ke provinsi, kalau perlu ke tingkat pusat juga akan kita lobi,” ujar Sahibah.

Sahibah mengutarakan, pada saat debit air sungai meluap, sejumlah warga terpaksa harus bertahan di rumah warga lainnya sembari menunggu surutnya debit air. Terkadang, jika debit air itu terus berlanjut, mereka terpaksa mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah.

“Untuk itu, kami bermohon kepada pemerintah agar membangun jembatan di atas aliran Krueng Panto dengan panjang perkiraan mencapai belasan meter. Jika itu sudah terbangun, tidak ada lagi warga yang tidak bisa pulang kerumahnya,” demikian Sahibah.

Jasmi salah satu warga yang sedang melintasi sungai tersebut menggunakan kendaraan roda empat mengaku sering terperosok di dasar sungai. Ia terpaksa harus meminta pertolongan warga untuk menarik kenderaannya dari dasar sungai.

“Memang sudah seharusnya ada jembatan di atas sungai tersebut, mengingat banyaknya warga yang sering hilir mudik melintasi sungai yang tak jauh dari pusat perbelanjaan Kecamatan Kuala Batee,” tuturnya singkat.

Terkait hal itu, Kabid Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Abdya, Afrida Surya ST yang dihubungi terpisah, membenarkan tentang adanya usulan pembangunan jembatan rangka baja di Desa Panto Cut, Kecamatan Kuala Batee.

Malahan, Afrida bersama tim sudah membuat rencana anggaran biaya (RAB) untuk pengadaan rangka baja. Sayangnya, pada tahun 2017 tidak didukung dengan persediaan anggaran daerah. “Kemungkinan akan diusulkan kembali pada tahun 2018,” ungkapnya.

Dalam perencanaan yang telah dirilis pihaknya, panjang jembatan tersebut mencapai 50 meter yang terbentang diatas Krueng Panto, dengan anggaran biaya keseluruhan mencapai Rp.10 miliar lebih termasuk abudmen. “Tetap akan kita upayakan bersamaan dengan sejumlah jembatan lainnya yang belum terbangun dalam tahun ini,” katanya singkat. (Rizal).

Comments
To Top