Sosial

Soal Ganja, Pernyataan Hendrajid BNN “Dikecam”

Pemusnahan Ganja di Aceh Besar

Dokumentasi Aceh Terkini

ACEHTERKINI.COM | Berita dari media online merdeka.com terkait 90 persen masyarakat Aceh tak bisa pisah dari ganja menuai kecaman dari pegiat LSM anti narkoba dan masyarakat.

Dalam berita itu Kasubdit I Masyarakat Pedesaan BNN Hendrajid Putut Wigdado mengatakan, masyarakat Aceh tidak bisa dipisahkan dari Ganja. Sebab Ganja menjadi tanaman yang bermanfaat untuk diberdayakan.

“92 persen Ganja di Indonesia itu kan dari Aceh, kemudian 90 persen masyarakat Aceh itu kan tidak bisa dipisahkan oleh Ganja, karena akar budayanya dia itu seperti akar Ganja nya juga, dia makan berobat itu dari situ,” ujar Hedrajid di Santa Monica Resort Bogor, Jawa Barat, Sabtu (14/10).

Pernyataan ini menurut Ketua DPP Ikatan Keluarga Anti Narkoba (IKAN), Syahrul Maulidi tidak berdasarkan penelitian yang akurat.

“Atas dasar apa BNN bisa mengatakan angka 90 persen masyarakat Aceh tidak bisa lepas dari Ganja, saya rasa ini butuh suatu penelitian,” kata Syahrul kepada acehterkini, Senin (16/10/2017).

Menurut Syahrul angka 90 persen itu sangatlah tinggi. Kalau kami mengacu kepada penelitian yang dilakukan oleh Kejaksaan Tinggi Aceh yang dipaparkan dihadapan Gubernur Aceh pada tahun 2015 lalu bahwa masyarakat Aceh yang sudah terlibat dengan narkoba sekitar 60.486 jiwa dari lima juta pendudukan Aceh ketika itu.

“Semoga saja BNN tidak hanya menerka, tapi ada satu penelitian yang dilakukan terkait angka 90 persen tersebut,” ujar Syahrul.

IKAN mengapresiasi program Grand Design Alternatif Development (GDAD) oleh BNN, yaitu mengalihkan lahan agar petani Ganja menjadi petani tanaman yang produktif.

“Untuk program ini, saya rasa seluruh masyarakat Aceh harus mendukungnya, terutama masyarakat dan desa-desa yang berada di sekitra lahan Ganja tersebut,” kata Syahrul.

Sementara Ketua Lembaga Terpadu Permasyarakatan Anti Narkoba (Letupan) Mahdi Andela mengaku kaget dan sangat terkejut dengan pernyataan dari BNN itu.

“Ada pernyataan yang sesat disitu, petani Aceh tidak bisa disamakan dengan penanam Ganja,” kata Mahdi Andela melalui pesan singkatnya kepada acehterkini, Senin.

Menurut Mahdi, pernyataan BNN itu tujuannya proyek. “Kita sepakat dengan program BNN itu, tapi pernyataan 90 persen orang Aceh tidak bisa pisah dari Ganja itu sangat berbahaya, tidak mungkin 90 persen, harus berdasarkan riset darimana angka tersebut,” kata Mahdi.

Mantan Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Provinsi Aceh, Khairan juga terkejut mendengar pernyataan tersebut.

“Itu pernyataan tidak benar, tidak bisa begitu Hendrajid menyebutkan persen, harus berdasarkan riset,” ujar Khairan saat dihubungi, Senin.

Ia menuturkan pernyataan itu tidak bisa atas nama lembaga, tidak bisa mengatakan 90 persen orang Aceh tidak bisa pisah dari Ganja, tapi dititik-titik tertentu itu benar, misalnya Gampong Lamteuba di satu pemukiman, tapi juga tidak semua orang di pemukiman itu menanam ganja.

“Selama saya di BNN Provinsi Aceh dan empat tahun sebagai Kasie untuk Program Pemberdayaan Alternatif Development di BNN Aceh tidak pernah mendapatkan angka itu. Hendrajid perlu menjelaskan lagi angka 90 persen itu,” tuturnya.

Menurut Khairan, Aceh memang dikenal dengan daerah yang rawan Ganja, tapi di beberapa titik. “Kita pernah lakukan survey, misalnya di Nagan Raya dan di Gayo Lues itu masih ada penanam Ganja. Tapi kita tidak bisa mengeneralkan secara angka-angka seperti itu,” kata Khairan yang kini sudah bertugas di Dinas Pendidikan Aceh. [merdeka/Firman]

To Top