Sosial

Keturunan Raja Desak Pemerintah Selamatkan Situs Kerajaan Aceh

Teuku Saifullah Bin Teuku Hasymi El Hakimi

Foto | Arif

ACEHTERKINI.COM | Salah seorang keturunan Raja Aceh, Teuku Saifullah Bin Teuku Hasymi El Hakimi mendesak Pemerintah Aceh untuk menyelamatkan situs-situs makam kerajaan Aceh yang kini sudah mulai terkikis oleh pembangunan, salah satunya adalah proyek pembangunan Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) di Kawasan Gampong Pande dan Gampong Jawa, Kota Banda Aceh.

Menjawab wartawan, Aleuhat (3/9/2017), keturanan ke XIII Raja Daya itu mengatakan, di kawasan antara Gampong Pande dan Gampong Jawa, Kecamatan Kutaradja itu ada kuburan Waliyullah, atau makam Sultan Aceh dan bekas Istana Aceh yang dinamakan Istana Darul Dunia.

“Namun karena ada proyek IPAL, situs-situs kerajaan Aceh itu mulai terkikis,” kata Teuku Saifullah usai menghadiri acara Peumeunap dan Seumeuleung Raja di Komplek Pemakaman Po Teumeurehom Glee Jong, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, Aleuhat.

Gubernur Aceh dan instansi terkait kata Saifullah harus mencari itikad baik. “Jangan kita melupakan moyang kita, dan bagaimana naifnya kalau sampah hari ini menumpuk di atas kuburan Sultan Aceh,” tuturnya seraya mendesak pemerintah segera menyelesaikan masalah tersebut.

Sebelumnya LSM Peusaba mengkritik Pemerintah Pusat yang telah memberikan penghargaan kepada Pemerintah Kota Banda Aceh untuk proyek IPAL karena diduga telah menghancurkan komplek istana, dan makam di Darul Makmur Gampong Pandee dan Gampong Jawa Kota Banda Aceh.

Ketua LSM Peusaba, Mawardi Usman mengatakan penghargaan itu merupakan penghinaan terhadap sejarah dan peran ulama penyebar Islam di Aceh.

“Kami minta Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Nasional RI, Puan Maharani meninjau proyek IPAL di Banda Aceh itu sebelum memberikan penghargaan 40 Top Sinovik kepada Pemerintah Kota Banda Aceh,” kata Mawardi dalam keterangannya kepada acehterkini, pekan lalu.

Ia mendesak pemerintah menggunakan teknologi Geo Radar Scanning dan Tomography untuk menyelesaikan polemik keberadaan situs-situs kerajaan Aceh tersebut.

“Dengan teknologi itu akan terdeteksi seluruh kandungan yang ada di dalam tanah seperti nisan, tembikar, pondasi bangunan dan lainnya,” kata Mawardi Usman.

LSM Peusaba juga meminta Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh dan Ulama Dayah mengeluarkan fatwa tentang perlindungan situs sejarah Aceh. “Fatwa itu penting, karena ini adalah bukti peradaban Islam di Asia Tenggara dan harta berharga bagi dunia Islam di Aceh,” demikian Ketua LSM Peusaba, Mawardi Usman. [Arif/Firman]

To Top