Ekonomi

Petani Menjerit, Harga Gabah di Abdya Anjlok

Petani di Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Abdya sedang memotong padi dengan mesin perontok. [Foto | Rizal}

Foto | Rizal

ACEHTERKINI.COM | Harga gabah kering di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) pada awal musim panen hingga memasuki pertengahan masim MT Gadu 2017 secara perlahan mulai anjlok. Kondisi tersebut membuat petani di kabupaten yang berjulukan breuh pade sigupai itu menjerit.

Lamudin, petani di Kecamatan Tangan-Tangan kepada wartawan, Rabu (23/8/2017) mengaku menjual harga gabah yang baru saja dipanen Rp.3.900 per kilogram. Ia menggunakan mesin pemotong padi sekaligus perontok.

Sedangkan dengan menggunakan jasa tukang potong padi harga gabah ditampung oleh agen pengepul antara Rp.4.200-4.300 perkilonya.

Pada musim tanam (MT) Rendengan tahun 2017 lalu, ia bersama petani lainnya dapat menjual gabah kering seharga Rp.4.500 per kilogram jika dipotong dengan mesin pemotong padi. Sedangkan menggunakan jasa tukang potong padi ditampung seharga Rp.5000 perkilo bahkan bisa lebih.

“Kali ini jauh berbeda dengan musim-musim tanam sebelumnya, petani harus mengeluarkan biaya besar dari mulai garap lahan, penanaman, pemeliharaan hingga musim panen. Jika menggunakan jasa tukang potong padi maka biayanya sampai Rp.600 ribu untuk sepertiga hektar lahan termasuk biaya membajak dan menanam padi juga dengan harga yang sama,” ujar Lamudin.

Belum lagi ditambah ongkos mesin perontok dan biaya angkut gabah dari lahan sawah ke rumah juga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Sementara, jika menggunakan jasa mesin pemotong padi sekaligus perontok, petani harus mengeluarkan biaya Rp.35 ribu per karung goni besar.

“Biaya yang dikeluarkan petani tidak sebanding dengan nilai jual gabah yang ditampung oleh para pengepul. Para pengepul menampung harga gabah petani seharga Rp3.900-4000 per kilogram, ini hal yang sangat mencekik leher petani,” kata Lamudin.

Akibat terus anjloknya harga jual gabah, petani merugi dan tidak cukup untuk membiayai musim tanam kedua. Sebab, semua biaya seperti pemotongan padi dan biaya lainnya meningkat tajam, sehingga modal yang dikeluarkan petani lebih besar dari pada hasil penjualan padi.

Hasil ubinan rata-rata untuk musim tanam lalu mencapai 8,3 ton per hektar, berbeda dengan musim tanam kali ini rata-rata ubinan dipastikan menurun, lantaran tidak sedikit tanaman padi milik petani yang diserang hama wereng.

Bahkan ada tanaman padi milik petani yang mengalami puso serta ada petani yang tidak dapat memanen padinya sebulirpun.

Sementara itu Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya, Hamdan membenarkan kalau harga gabah saat ini lebih rendah bila dibandingkan dengan harga gabah pada panen di musim tanam lalu.

“Kami belum mengetahui secara pasti apa penyebab rendahnya harga gabah saat ini, nanti akan kita cek dulu,” kata Hamdan singkat. (Rizal)

To Top