Ekonomi

Masalah Petani di Abdya: Phonska Sulit Didapat, Padi Diserang Hama

Petani terpaksa memasang umbul-umbul dari kertas berwarna dan plastik untuk menangkal kehadiran hama burung termasuk orang-orangan mengusir burung dari tanaman padi, Senin (10/7/2017).

Foto | Rizal

ACEHTERKINI.COM | Berbagai macam jenis hama mulai menyerang tanaman padi milik petani di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Hama burung pipit, walangsangit termasuk wereng menjadi kendala utama yang harus dihadapi petani, sejak dua pekan terakhir. Hama-hama tersebut menyerang tanaman padi warga di wilayah Blangpidie dan Susoh yang sudah mulai mekar.

Selain di Blangpidie dan Susoh, hama wereng juga menyerang tanaman padi milik warga di Kecamatan Tangan-Tangan, Setia dan sebagaian Kecamatan Manggeng. Dengan kondisi tersebut petani mulai risau akan gangguan hama yang sulit untuk diatasi karena keterbatasan biaya untuk membeli pestisida sebagai penangkalnya.

“Memang pemerintah sudah membantu pupuk melalui dana desa, akan tetapi penyalurannya sudah terlambat, malahan ada desa yang hingga saat ini belum menerima pupuk bantuan itu, padahal tanaman padi sudah mulai membunting,” kata Sari, Senin (10/7/2017) salah satu petani di wilayah Tangan-Tangan.

Ia mensinyalir, kalau hasil panen kali ini akan menurun jika dibandingkan dengan tahun lalu. Keterbatasan pupuk subsidi seperti Phonska menjadi persoalan utama yang dihadapi petani di Abdya.

“Petani kelas bawah seperti kami ini hanya sanggup membeli pupuk yang disubsidi, kalau di atas itu kami tidak sanggup. Tapi sayang, pupuk phonska subsidi yang sesuai dengan pendapatan kami justru sulit didapat,” ungkap Sari kepada wartawan disela-sela mengamati hamparan tanaman padi yang terlihat daunnya mulai menguning.

Dikatakan Sari, masalah lain yang dihadapi petani juga banyaknya rumput (gulma) yang tumbuh dalam tanaman padi, sehingga asupan makanan saling berebutan dan membuat tanaman padi tumbuh tidak maksimal. “Faktor banyaknya rumput karena proses pengairan yang tidak maksimal ditambah dengan musim kemarau yang cukup panjang hingga satu bulan penuh,” tuturnya.

Salah seorang petani yang ditemui di lokasi, Hamdani mengaku jauh perbedaan antara padi zaman dahulu dengan sekarang. Kalau saat ini sangat tergantung pada pupuk dan obat pestisida lainnya agar tanaman padai tumbuh dan panen dalam jangka waktu 100 hari. Kalau padi zaman dulu bisa mencapai enam bulan sekali panen, akan tetapi perawatannya tidak seperti sekarang ini.

“Dulu kita sering melihat pelangkahan (waktu yang tepat) untuk menanam padi. Kalau sekarang tanpa pupuk dan pestisida maka tanaman padi tidak akan tumbuh maksimal,” kata Hamdani singkat.

Secara singkat, Kabid Produksi Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya Hamdan yang dihubungi wartawan, membenarkan adanya serangan burung pipit, walangsangit dan hama wereng. “Saat ini kita terus melakukan pemantauan disejumlah lokasi agar penyakit yang menyerang tanaman padi petani dapat segera teratasi,” ujarnya singkat. (Rizal).

To Top