Lingkungan

Hutan Lindung di Abdya Bakal Ditanami Jernang

Ilustrasi

ACEHTERKINI.COM | Sejumlah oknum masyarakat di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dalam beberapa tahun terakhir dilaporkan semakin ganas melakukan perambahan hutan disepanjang jalan Ie Merah, Kecamatan Babahrot hingga memasuki kawasan Trangon, Kabupaten Gayo Lues tepatnya dekat wilayah Krueng Sapi.

Akibat aksi perambahan hutan di Abdya itu, kondisi pergunungan terlihat semakin gundul. Bahkan perambahan hutan yang dilakukan oknum masyarakat ini telah jauh memasuki kawasan hutan lindung yang secara aturan tidak boleh dirusak dan harus terjaga keasliannya.

Kapolres Abdya AKBP Andy Hermawan Sik, MSc melalui Kapolsek Babahrot AKP Syamsuir kepada wartawan Selasa (11/7/2017) membenarkan kalau adanya segelintir oknum warga yang dengan sengaja melakukan perambahan hutan secara liar di seputaran kawasan hutan lindung sepanjang Jalan Ie Mirah, Kecamatan Babahrot hingga memasuki kawasan Terangun Kabupaten Gayo Lues tepatnya di wilayah Krueng Sapi.

Informasi yang didapat, lanjut Syamsuir, masyarakat setempat dikabarkan akan menanam jernang sejenis resin yang dihasilkan dari beberapa spesies rotan. Resin berwarna merah ini telah sejak lama diperdagangkan dan dimanfaatkan sebagai bahan pewarna, dupa, dan bahan obat tradisional.

“Kata mereka harganya cukup menggiurkan, sehingga membuat warga beramai-ramai untuk merambah hutan dan mewacanakan akan menanam jernang,” sebutnya.

Terkait dengan perambahan ilegal tersebut, Muspika Babahrot termasuk pihak kepolisian setempat telah mensosialisasikan kepada masyarakat dengan membuat himbauan baik secara lisan maupun tulisan agar tidak merusak kawasan hutan lindung.

Namun, berdasarkan pantauan di lapangan, aksi perambahan sepertinya terus berlanjut bahkan mereka tidak mengindahkan aturan yang telah dibuat tersebut.

“Kami telah memberikan himbauan dan peringatan, agar aksi merusak hutan ini segera dihentikan. Kalau juga tidak diindahkan, tentu akan dilakukan penindakan langsung di lapangan,” tegasnya.

Aksi perambahan hutan yang terjadi di kawasan tersebut juga menjadi keresahan sebagian warga di Desa Ie Merah, Kecamatan Babahrot. Kalau dibiarkan, kawasan hutan lindung yang berfungsi menjaga kestabilan alam, menjaga ketersedian air, serta penangkal terjadinya bencana longsor maupun banjir akan rusak begitu saja.

“Menebang pohon memang sangat mudah dan hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat, sementara untuk menanamnya butuh waktu bertahun-tahun hingga pohon itu dewasa,” kata warga setempat yang enggan disebutkan namanya.

Disisi lain, Kabid Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya, Mahyudin yang dihubungi terpisah menjelaskan, kalau aksi perambahan hutan memang sangat dilarang. Namun pihaknya tidak bisa berbuat banyak, sebab persoalan kehutanan merupakan wewenang Provinsi Aceh.

Sekilas Mahyudin menyebutkan kalau di tahun depan pihaknya akan membuat usulan pengadaan bibit jernang untuk masyarakat Abdya. Namun setelah adanya evaluasi kelompok penerima manfaat hingga survei ketersediaan lahan tempat penanaman bibit.

“Program ini masih dalam wacana kedepannya nanti, kalau diterima tentunya kami akan melakukan evaluasi di lapangan agar bibit itu tidak disalah gunakan,” demikian singkatnya. (Rizal)

To Top