Sosial

Rayakan Hari Kemenangan dengan Fitrah Islam

ACEHTERKINI.COM | Sebagaimana lazimnya, di penghujung bulan Ramadhan ketika mega merah di jemput malam, bulanpun berlalu, maka gema takbirpun berkumandang menyambut kemenangan. Pertanda bahwa Hari Raya akan segera tiba.

Begitulah umat muslim sedunia menyambut kedatangan Idul Fitri dengan hati yang bersih dan kesucian jiwanya. Semua itu adalah berkah dari hasil perjuangan melewati hari-hari genap sebulan penuh dengan berpuasa, menahan diri dari segala rasa haus dan lapar dan tidak hanya itu, kita telah mampu menjalani dengan segala bentuk ibadah lainnya sehingga membentuk jati diri kita sebagai manusia yang sebenar-benarnya.

Ibadah puasa yang sejatinya merupakan rukun islam ketiga, sangat berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, sangat berarti dan langsung ada kaitannya dengan Tuhan. Artinya, bentuk ibadah puasa secara batiniah langsung terikat dengan Allah dan pahalanya pun berlipat ganda, buktinya ibadah puasa dapat menciptakan kita kembali kepada fitrah manusia, bersih hati dan suci jiwa. Setelah sebulan penuh berturut-turut kita menjalaninya, kini kita memasuki hari kemenangan dalam keagungan-Nya. Lalu bagaimanakah sikap kita menyambutnya hari kemenangan itu?

Banyak sekali yang salah kaprah dalam menyambut kedatangan hari besar tersebut. Hanya sebahagian kecil saja yang benar-benar bertawajuh kepada Allah. Sementara yang lainnya sibuk bereforia dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Katakanlah misalnya; membakar petasan; berkeliling kota di malam hari; membakar meriam bambu; dan lain sebagainya.

Padahal bertakbir memuji kebesaran Allah dan memuliakan tamu agung yang telah pergi meninggalkan kita yaitu perginya bulan Ramadhan adalah hal yang sangat bermanfaat. Betapa besarnya kekuasaan Tuhan tatkala bulan itu lebih dekat memancarkan cahayanya secara berbeda di titik koordinatnya di atmosfer tegak dalam pangkuan perut bumi saat itu.

Jika di ibaratkan sebuah senter. Maka tidak heran bila kita membayangkan bahwa Tuhan lah yang langsung memegang ujungnya, sementara relung cahayanya menerawang ke bumi. Tidakkah kita sedikit berpikir bahwa pada saat itu bulan sangat dekat dengan kita, merengkuh, memeluk jiwa kita dalam tadarusnya.

Kini, dia telah pergi dengan keharuan rindu yang membuncah pada kita memberi harap pada kita manusia sebagai hamba Nya yang taat. Sungguh besar kemulian bulan dalam kesyahduan dan keagungan Nya.

Terlepas dari semua itu, seakan bulan sedang menangis dan hanya berpesan pada kita agar senantiasa memuliakannya. Memuliakan sesama demi menjaga ukhuwah yang indah seperti memuliakannya untuk kembali ke bumi. Apalagi saling berkunjung menyambung tali silaturrahmi; saling memaafkan sesama; merawat apa yang telah bulan bawakan kepada kita yaitu seperti Ramadhan yang sudah berlalu.

Tidak ada yang dapat menyangkal Titah Nya sekalipun matahari yang garang bersinar cerah, menyalak menjulurkan merah api di pagi hari, dan gerah di siang yang terik. Semua itu telah mampu kita jalani dengan berpuasa. Maka bulan Ramadhan itu bergembira. Mungkin itulah makna lain dari bulan berbeda dari seribu bulan lain yang datang menapaki bumi.

Kenapa kita berbalik. Kita merayakan kepergiannya. Seharusnya kita merayakan kedatangannya. Maka kepergiannya merupakan suatu keniscayaan yang tak terperi. Semua isi semesta tak mampu membendung kesedihan. Lat batat kayei batee pun ikut serta bersama kepergiannya yang akan berlalu setahun kemudian.

Hanya orang-orang yang beruntunglah yang akan mendapatkan kemenangan. Artinya adalah orang-orang yang telah mampu berpuasa dengan segenap jiwa dan hatinya. Sehingga keikhlasan ibadah mereka serta merta dapat melihat dirinya dalam fitrah yang mulia. Sebagai manusia yang lemah ternyata kita dapat menerima keampunan di sisi Nya di akhirat kelak. Dan sebagaimana janji Nya, bahwa pahala di bulan Ramadhan akan menjadi penerang di gulita malam, saat ini bulan Ramadhan telah berpulang ke dalam pangkuan Nya.

Di sisi inilah kita dapat mengambil iktibar bahwa penduduk bumi hanyalah seumpama sebutir debu yang berterbangan. Namun hanya orang-orang yang beribadah dengan segenap keihklasanlah yang dapat merasakan hal tersebut. Semua itu akan dapat kita rasakan melalui fitrah di hari kemenangan yang besar ini.

Maka, handai taulan sahabat semua, mari kita membenahi diri. Dalam membesarkan hari kemenangan yang mulia raya ini, janganlah oleh kita membuat sesuatu sesuka hati, yang dapat membuat Tuhan murka. Janganlah kemenangan menjadi ria dan membawa mudharat. Memenuhi mesjid-mesjid dengan bertakbir pada Allah merupakan cerminan umat muslim yang toleran. Belum lagi dengan memperlombakan kebaikan demi citra positif bagi kemaslahatan hidup. Seperti membangun komunitas-komunitas gema takbir menghias seantero wilayah kita.

Jangan sampai menjadikan lebaran dengan citra negatif yang dapat meniru cara perayaan agama lain.
Sebagai umat muslim. Kita seharusnya mengetahui apa yang kita inginkan. Di sini, menurut hemat saya. Bukanlah mengajak membuat sesuatu yang berlebihan, melainkan realita telah membuktikan bahwa malam lebaran, toko-toko penuh dan sesak dengan orang-orang belanja; takbir di mesjid hanya sebentar; ibu-ibu menyibukkan diri dengan toples dan gorden; anak muda sibuk mangkal di jembatan. Dan masih banyak citra negatif lainnya yang tidak mencerminkan muslim sejati.

Padahal, sungguh sangat di sayangkan. Malam lebaran adalah juga termasuk malam mulia, Tuhan menerima segala doa tanpa ijabah, selain itu setiap arwah mengunjungi rumahnya masing-masing atas perintah Allah. Maka kita dianjurkan untuk menunaikan zakat fitrah; bersedakah; menyantuni anak-anak yatim. Sebagaimana Rasullullah dalam teladannya.

Rasulullah pada pagi hari raya Idul fitri, setelah shalat di mesjid, sempat melihat seorang anak di sudut pagar di antara anak-anak yang lain dengan keadaan kotor dan berpakaian lusuh. Tanpa banyak bertanya. Oleh baginda langsung membekapnya dan membawanya pulang ke rumah. Setelah memandikan dan menghiasnya dengan pakaian baru, dengan senang hati beliau memberinya makanan agar bisa berhari raya ceria seperti anak-anak lainnya. Ketika beliau tahu anak itu sudah yatim, baginda langsung menciumi pipinya.

Bukankah itu suri tauladan yang baik? Maka sudah sepatutnya kita mengubah cara pandang berhari raya. Agar arwah orang tua kita pun mendapat bekal di malam lebaran yang fitrah ini. Juga dapat memperkokoh pondasi islam di seluruh sudut pelosok dunia tentunya. dan tidak heran jika bulan Ramadhan sudah berlalu takbirpun akan bergema. Ucapan Minal Aizin Walfaizin, Mohon Maaf lahir dan batin.

Penulis : Afridany Ramli
Alamat : Pasi ie-leubeue, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie.
Penulis merupakan Koordinator di LSM Genber Aceh

To Top