Peristiwa

3 Mei Sejarah Hari Ini, Peristiwa Simpang KKA

ACEHTERKINI.COM | Tanggal 3 Mei merupakan hari yang tidak mudah untuk dilupakan oleh warga Aceh Utara terutama masyarakat Aceh pada umumnya. Kenapa tidak 18 tahun yang lalu tepatnya 3 Mei 1999 sebuah kenangan buruk, kenapa tidak saat itu Negara begitu semena-mena terhadap rakyat.

Peristiwa ini tercatat dalam wikipedia.org dan Amnesty International, hari itu adalah Hari Senin, banyak darah berceceran di simpang KKA, saat itu pasukan militer Indonesia menembaki kerumunan warga yang sedang berunjuk rasa memprotes insiden penganiayaan warga yang terjadi pada 30 April 1999 di Cot Murong, Lhokseumawe.

Tragedi Simpang KKA [Foto :acehdalamsejarah.blogspot]

Tragedi Simpang KKA juga dikenal dengan nama Insiden Dewantara atau Tragedi Krueng Geukueh. Simpang KKA adalah sebuah persimpangan jalan dekat pabrik PT. Kertas Kraft Aceh (KKA) di Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Peristiwa berdarah ini setiap tahun diperingati oleh masyarakat setempat. Sampai sekarang belum ada pelaku yang ditangkap dan diadili atas peristiwa tersebut.

Awalnya berkembang kabar mengenai hilangnya anggota TNI dari Kesatuan Den Rudak 001 Pulo Rungkom pada 30 April 1999. Kemudian pasukan militer Den Rudal melancarkan operasi pencarian masif yang melibatkan berbagai satuan, termasuk Brimob.

Saat melakukan penyisiran di desa, aparat melakukan penangkapan terhada warga lalu melakukan aksi kekerasan. Para korban mengaku dipukul, ditendang oleh aparat keamanan. Kemudian warga desa mengirim utusan ke komandan TNI setempat untuk bernegosiasi dan komandan TNI berjanji aksi ini tidak akan terulang lagi.

Pada 3 Mei 1999, satu truck tentara memasuki Desa Cot Murong dan Lancang Barat, tetap diusir masyarakat setempat. Warga yang berunjuk rasa bergerak ke masrkas Korem 011 untuk menuntut janji yang diberikan komandan TNI sebelumnya.

Siang hari itu Senin, pengunjuk rasa berhenti di Simpang KKA yang lokasinya dengan dengan Markas Korem, kemudian mengirimkan lima orang untuk berdialog dengan komandan. Ketika berdialog, jumlah tentara yang mengepung warga semakin banyak dan warga pun melempar batu ke markas Korem dan membakar dua sepeda motor.

Tragedi Simpang KKA [Foto :acehdalamsejarah.blogspot]

Setelah itu dua truck dari Arhanud yang dijaga Den Rudal 001 Lilawangsa dan Yonif 113 Jaya Sakti datang dari belakang dan mulai menembaki kerumunan pengunjuk rasa. Setelah insiden itu, beberapa kantong berisi mayat yang diberi pemberat batu ditemukan di dasar sungai. Pola pembuangan mayat ini diduga mengikuti pola yang diterapkan pada insiden sebelumnya di Idi Cut, atau tragedi Arakundo pada 4 Februari 1999.

Koalisi NGO HAM mencatat sedikitnya 46 warga sipil tewas, 156 orang mengalami luka tembak dan 10 orang hilang dalam peristiwa itu. Tujuh korban tewas adalah anak-anak. Sebuah monumen didirikan di tempat penembakan Simpang KKA.

Wiranto, Menteri Pertahanan sekaligus Kepala Angkatan Bersenjata mengatakan di sebuah stasiun televisi swasta bahwa tidak logis jika aparat negara menindas rakyat Aceh karena mereka dikirim ke sana untuk melindungi rakyat. Pihak militer yang terlibat dalam penembakan ini mengklaim menggunakan peluru karet sebagai bentuk pertahanan diri karena warga melempari maskas Koramil dengan batu.

Wiranto mengumumkan bahwa tentara PPRM akan dikerahkan ke Aceh untuk menangkap para provokator misterius yang bertanggung jawab atas peristiwa simpang KKA.

Tahun 2000, telah dilakukan penyelidikan dan pengkajian oleh Komisi Independen Pengusutan Tindak Kekerasan di Aceh yang dibentuk melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 88/1999. Dalam laporannya, komisi independen ini menyebutkan sebanyak 39 warga sipil tewas (termasuk seorang anak berusia 7 tahun), 156 sipil mengalami luka tembak, dan sekitar 10 warga sipil dinyatakan hilang.

To Top