Pendidikan

29 Dosen ISBI Aceh Tuntut Copot Rektor

Peresmian ISBI Aceh

Foto | dok. acehterkini

ACEHTERKINI.COM | Berita terkini dari Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Aceh mengabarkan sebanyak 29 dosen melakukan mosi tak percaya kepada rektor. Mereka bahkan mengirimkan mosi tersebut ke Menristekdikti, meminta rektor dicopot.

“Para dosen juga mengundurkan diri dari jabatan pimpinan di ISBI Aceh, tapi kami tetap terus mengajar para mahasiswa,” kata Rasyidin, Rabu (31/5/2017). Dia salah satu dosen yang ikut menandatangani mosi tak percaya.

Menurutnya, aksi itu memuncak pada Senin lalu, saat para dosen menghadap rektor di kampus yang terletak di Jantho, Ibu Kota Aceh Besar itu. Kepada rektor, mereka memberikan surat meletakkan jabatan pimpinan yang ditandatangani di atas materai.

Salah seorang Ketua Prodi di ISBI, Arif Budiman menyampaikan ada 24 item persoalan yang terjadi di ISBI Aceh yang menjadi pemicu mereka menanggalkan jabatan. Di antaranya adalah sistem kekeluargaan (nepotisme) terlalu besar di lingkungan staf Kependidikan kerja ISBI Aceh dan Rektor melegalkannya. Selanjutnya juga sampai hari ini tidak ada kejelasan kurikulum yang dipakai sementara kurikulum pendirian sudah ditinggalkan.

Persoalan lain, ISBI Aceh belum melakukan akreditasi, padahal menurut aturan paling lambat dua tahun ISBI harus sudah terakreditasi, ini dikarenakan ketidaktahuan Rektor dalam hal pengelolaan Perguruan Tinggi. “Juga belum ada satu Dosen pun yang memiliki NIDN, sebagai syarat mengajar dan akreditasi,” katanya.

Kerenanya, dalam surat mosi tak percaya, mereka meminta Menristekdikti untuk meninjau kembali SK perpanjangan jabatan Rektor ISBI Aceh, dan memakzulkan untuk dicopot. Juga meminta Menristekdikti untuk melakukan reformasi birokrasi di ISBI Aceh, agar Kolusi, Korupsi dan Nepotisme dapat diberantas sesuai nawacita.

Sementara itu, Rektor ISBI Aceh DR Ahmad Akmal mengatakan kecewa atas sikap para dosennya yang tiba-tiba melakukan aksi seperti itu. Semua yang diprotes sedang dalam proses. Karena membutuhkan waktu termasuk dalam pengurusan IDN untuk dosen maupun akreditasi sebagian jurusan. “Mereka hanya tak sabar saja.”

Terkait dosen yang mundur dari jabatan seperti kepala prodi dan lainnya, Ahmad mengatakan mengangkat mereka jadi pimpinan untuk mendidik agar bisa menjadi pemimpin. Juga untuk membantu menjalankan segala kegiatan di kampus. Juga tidak pernah menghalangi kemajuan dan ide-ide para dosen. “Semua saya dorong untuk kemajuan, tetapi melalui mekanisme dan prosedur yang jelas.”

Kendati kecewa atas sikap bawahannya, Ahmad mengaku tak ingin memperpanjang masalah. “Tapi saya tetap akan merangkul mereka dan membicarakannya baik-baik,” katanya.

Menurutnya, apa yang terjadi lebih kepada kesalahanpahaman saja di kampus ISBI Aceh. Karena banyak yang belum mengerti aturan pemerintah terutama terkait pendidikan tinggi.

Sumber : Tempo

To Top