internasional

Inilah 11 MoU Kerja Sama Amerika dengan Indonesia

ACEHTERKINI.COM | Indonesia dan Amerika Serikat (AS) berkomitmen untuk meningkatkan kerja sama di bidang energi dan teknologi. Hal ini ditandai dengan adanya penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang bersifat business to business. Tercatat ada 11 MoU dengan nilai mencapai 10 miliar dolar AS.

Dari jumlah tersebut, dua penandatanganan MoU disaksikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla dan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence. Kerja sama tersebut yakni antara ExxonMobil dengan PT Pertamina (Persero) untuk pembelian Liquefield Natural Gas (LNG) sebesar 1 juta ton per tahun untuk 20 tahun ke depan, dimulai pada 2025.

Selain itu, ada pula kerja sama antara PT PLN (Persero) dengan Intra Capital LLC untuk mengimplementasikan sistem infrastruktur metering canggih (advanced metering infrastructure) di Indonesia. Fase percobaan proyek ini akan diawali dengan 1,000 meter di Bali, dilanjutkan dengan fase kedua, yang mencakup hingga 4,5 juta meter di jaringan listrik Jawa-Bali.

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence bersama Presiden RI Joko Widodo

Proyek ini akan menggunakan teknologi mutakhir yang dihadirkan oleh konsorsium AS, yang mencakup General Electric, Siemens USA, eMeter, Trilliant, dan lainnya. Nilai total proyek adalah 2 miliar dolar AS, dengan pengembangan dan pendanaan putar kunci dari Pacific Infra Capital.
Sementara penandatanganan Mou lainnya disaksikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia Ignasius Jonan dan Wakil Duta Besar AS untuk Indonesia Brian McFeeters. Perjanjian kerja sama tersebut antara lain:

Applied Materials dan PT PLN (Persero), untuk meningkatkan infrastruktur transmisi listri Indonesia. Applied Materials akan menggunakan tekonologi pembatas arus gangguan (fault current limiter) untuk meningkatkan infrastruktur 500 KW PLN.

Greenbelt Resource dan PT Jababeka Infrastruktur menandatangani kesepakatan untuk mengembangkan fasilitas pengolahan limbah di Jababeka, yang dinamakan JababECO. Proyek ECOsystem ini yang menggunakan teknologi terdepan AS ini akan mewujudkan sustainable circular economy  atau  sistem ekonomi “melingkar” berkelanjutan dengan mengolah sampah makanan perkotaan menjadi berbagai macam  produk  termasuk etanol, pakan ternak, pupuk, dan air suling. Fase pertama  senilai 4,5 juta dolar AS, dengan nilai penjualan produk tambahan sebesar 6 juta dolar AS secara kumulatif selama lima tahun berikutnya.

Haliburton dan PT PLN telah menandatangani dua kesepakatan untuk mengembangkan sumber daya panas bumi Indonesia. Pada Februari 2017, kedua belah pihak menandatangani kontrak manajemen proyek terintegrasi senilai  34 juta dolar AS untuk melakukan pengeboran dan merampungkan sumur panas bumi di Tulehu, Ambon.

Kedua belah pihak juga telah menandatangani kesepakatan untuk membentuk aliansi strategis jangka panjang untuk pengembangan energi panas bumi. Dalam kerangka ini, kedua perusahaan akan mengembangkan konsesi panas bumi PLN, termasuk investasi potensial dari AS.

Honeywell telah dipilih oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) untuk menyediakan 34 mesin turboprop TPE331 untuk NC212i selama empat tahun ke depan, yang akan meningkatkan kemampuan pesawat tersebut. Selain itu, Honeywell akan memberikan pelatihan TPE331 kepada para pakar mesin PTDI untuk meningkatkan keterampilan pemeliharan lini dan mentransfer pengetahuan teknis ke perusahaan berbasis lokal. Kesepakatan ini akan meningkatkan kinerja PTDI sebagai produsen pesawat, sekaligus membuka lapangan pekerjaan di AS.

Lockheed Martin. Dalam kesepakatan ini, Angkatan Udara Indonesia akan membeli sniper advanced targeting pods produksi Lockheed Martin. Teknologi canggih, yang akan melengkapi pesawat F-16A/B yang ditempatkan di Pangkalan Udara Iswahyudi ini, akan meningkatkan ketahanan maritim dan wilayah Indonesia dalam menjalankan operasi bersama Amerika Serikat dan mitra-mitra regional lainnya. Lockheed Martin akan memproduksi sniper ATP di Orlando, Florida dan bekerja sama dengan AU untuk melatih para pilot beserta personil pemeliharaan.

NextGen dan Samarinda, Kalimantan Timur menandatangani nota kesepahaman awal untuk proyek pengolahan 800 ton per hari limbah rendah karbon atau pupuk biochar. Fasilitas ini akan memproses sampah kota menjadi listrik dan pupuk organik biochar sebesar 18 MW untuk mendukung pertanian setempat. Proyek bernilai total 70 juta dolar AS ini akan dibangun, dimiliki, dan dioperasikan oleh NextGen dan mitra-mitranya dengan pendanaan swasta.

Nota kesepahaman tersebut akan menyediakan kerangka untuk mengembangkan proyek dan proses pendanaan, dan akan diikuti oleh kesepakatan akhir untuk mengolah sampah antara Samarinda dan perusahaan proyek NextGen. Proyek ini juga mencakup fasilitas pertanian dalam ruangan yang dimiliki bersama yang dikembangkan oleh Endless Sky Low Profit Limited Liability Company yang berbasis di AS, yang akan dioperasikan oleh perusahaan sosial baru untuk menciptakan lapangan kerja bagi pemulung sampah yang kini aktif bekerja di tempat pembuangan akhir (TPA) di Samarinda. Proyek ini sangat mungkin menjadi fasilitas gasifikasi limbah rendah karbon menjadi energi pertama yang beroperasi di Indonesia.

PowerPhase menandatangani kesepakatan dengan anak perusahaan PT PLN (Persero) untuk megirimkan  produk Turbophase yang telah dipatenkan guna meningkatkan efisiensi dan hasil pembangkit listrik tenaga gas. Kesepakatan tersebut mencakup rencana implementasi secara bertahap, dimulai dari studi kelayakan, dan dilanjutkan dengan proyek awal 100 MW, dengan rencana implementasi penuh 2.000 MW.

Proyek-proyek ini akan menggunakan teknologi canggih AS untuk meningkatkan efisiensi dan daya hasil turbin yang sudah ada, sekaligus memperbaiki profil emisi lingkungan. Proyek ini akan menggunakan pendekatan putar kunci, termasuk pendanaan dari PowerPhase. Nilai total proyek adalah 80 juta dolar AS untuk fase satu dan sekitar 1,6 miliar dolar AS untuk skala penuh. Implementasi penuh akan menghemat biaya pembangkit listrik sebesar 11,6 miliar dolar AS selama 20 tahun.

Ormat Technologies Inc., sebuah perusahaan Amerika dengan kantor pusat di Reno, Nevada, berserta mitra-mitranya, akan menyediakan 110 MW untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi di Sarulla, Sumatra Utara. Saat telah dikembangkan secara penuh nanti, proyek ini akan menghasilkan tenaga sebesar 320,8 MW, dengan nilai total proyek sebesar 1,7 miliar dolar AS, dan 260 juta dolar AS diantaranya adalah nilai peralatan yang disediakan oleh Ormat untuk proyek tersebut.

Proyek Panas Bumi Sarulla menggunakan teknologi ramah lingkungan, yang memastikan pengunaan sumber daya panas bumi secara optimal dan berkelanjutan, untuk menghadirkan kapasitas isi ulang yang bersih dan berbiaya efektif. Proyek ini, yang merupakan salah satu pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di dunia, mendukung dan menciptakan lapangan kerja dalam bidang teknologi bersih, baik di Amerika Serikat maupun Indonesia.

General Electric (GE) bersama mitra-mitranya telah berkontribusi dalam proyek 35.000 MW dengan menyediakan listrik sebesar 600 MW, dan telah terpilih sebagai penyedia jasa tekhnologi untuk proyek pembangkit 2.650 MW.  Hal  ini mencakup mesin turbin paling efisien di dunia, 9HA, yang membantu mengurangi biaya produksi listrik di Indonesia, menghemat bahan bakar, dan mengurangi emisi karbon.

Sumber : Republika

To Top