Sosial

Es Batang Terbatas, Nelayan Abdya Terancam Rugi

ACEHTERKINI.COM | Sejumlah nelayan di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) terancam mengalami kerugian karena tidak adanya pasokan es batang yang memadai di Abdya. Sehingga, untuk menyimpan sejumlah ikan, mereka terpaksa membeli es batang diluar daerah seperti Meulaboh dan Tapaktuan.

Aliman, salah satu nelayan di Abdya kepada wartawan, Rabu (26/4/2017) mengatakan, es batang yang diproduksi oleh pabrik milik Pemkab Abdya dan milik swasta yang berada dekat dengan kompleks Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Ujung Serangga, Kecamatan Susoh belum mampu memenuhi kebutuhan nelayan untuk membuat ikan tetap segar.

Es Batangan Untuk Nelayan – Ilustrasi

“Pabrik es yang beroperasi di Abdya belum mampu menampung semua ikan hasil tangkapan nelayan, sehingga kami terpaksa mendatangkan dari luar,” ungkapnya.

Dengan terbatasnya produksi es batang tersebut, memberikan dampak besar terhadap penghasilan nelayan karena ada dua faktor yang sangat berpengaruh yakni harga ikan akan rendah dan produksi tidak bisa maksimal.

Sementara itu, Kepala UPTD PPI Ujung Serangga, Ari Gunawan SP kepada wartawan, secara terpisah membenarkan kalau persediaan es batang di Abdya masih terbatas. saat ini yang beroperasi hanyalah Pabrik es milik Pemkab Abdya dan milik swasta.

Kalau, Pabrik milik Pemkab hanya mampu memproduksi es batang sebanyak 30 ton dalam sehari, sedangkan milik swasta hanya sekitar 15 ton. Dengan jumlah tersebut, pihaknya terpaksa membatasi penjualan es dalam kapasitas yang besar.

Bagi nelayan yang menggunakan kapal tangkap ikan dengan kapasitas diatas 30 GT (gros ton), mereka harus memesan es batang dari luar daerah, sebab kebutuhan mereka selama melaut bisa mencapai ratusan batang untuk satu unit kapal.

Sementara nelayan yang menggunakan kapal-kapal kecil bisa langsung mendapatkan es batang di pabrik dimaksud. “Pabrik yang ada saat ini hanya mampu menghasilkan 600 batang es dalam sehari. Jadi untuk kebutuhan nelayan kami hanya bisa mengeluarkan 500 batang, selebihnya untuk cadangan,” terang Ari.

Akan hal itu, DKP Abdya telah mengusulkan cold storage (ruang pendingin) kapasitas 100 ton ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) guna mengatasi persoalan nelayan dimaksud. Jika musim hasil tangkapan melimpah, nelayan bisa langsung menyimpan hasil tangkapannya tanpa harus khawatir terhadap kondisi ikan itu.

“Di PPI Ujung Serangga memang ada cold storage, namun kapasitasnya kecil hanya bisa menampung 30 ton ikan, sedangkan hasil tangkapan nelayan lumayan banyak. Mudah-mudahan saja permohonan yang kami ajukan segera terealisasi,” tutupnya. (RiZal]

To Top