Sosial

Opini : Peran Ulama Aceh Masa Penjajahan Belanda

ACEHTERKINI.COM | Sejak Islam pertama kali sampai ke Aceh, ulama telah memainkan peran penting dalam berbagai aspek kehidupan rakyat Aceh. Dalam hal ini, sejumlah ahli memandang bahwa faktor jaringan ulama telah memberikan warna intelektual di Aceh. Kehadiran mereka saat itu juga sangat diharapkan oleh masyarakat untuk mengajar ajaran-ajaran Islam.
Secara ideal konseptual maupun historis sosiologis, peran ulama dan umara dalam kehidupan umat Islam sangat signifikan. Ulama maupun umara sama-sama mendapat atensi memadai dalam teks-teks suci Islam, sehingga memiliki kedudukan istimewa. Peran ulama di Aceh, khususnya Dalam bidang ilmu pengetahuan, ulama juga berperan sejak awal  terbentuknya masyarakat Islam secara politik yakni masa kesultanan Aceh. 
Jon Faisal
Para ulama memiliki penguasaan ilmu-ilmu keagamaan yang luar biasa luas, baik ilmu fiqih, ilmu akidah, dan ilmu tasawuf. Benar bahwa pada prinsipnya setiap muslim dapat menalar dan membuat keputusan (ijtihad) masing-masing dalam masalah agama, tetapi karena kebanyakan individu tidak mempunyai pengetahuan agama yang memadai yang memungkinkan untuk melakukan penilaian independen mereka, kemudian disarankan untuk mengikuti hasil ijtihad atau fatwa ulama atau mazhab tertentu. Dengan demikian kedudukan ulama secara teologis dan sekaligus sosiologis diabsahkan.
Karena mempunyai pengetahuan agama yang mendalam sekaligus mempunyai kualitas kesalehan (ketaqwaan) dan ketinggian akhlaq serta integritas dan gerak kemasyarakatannya dalam berbagai lapisan sosial, menyebabkan mereka sangat dihormati kaum muslimin lainnya, sehingga menurut Azyumardi Azra, pendapat-pendapat mereka dianggap mengikat dalam berbagai masalah, bukan hanya menyangkut masalah keagamaan, tetapi sering pula dalam masalah lain.
Sebagai penyebar syari’at agama, ulama senantiasa berkiprah dalam kegiatan tabligh dan ta’lim sebagai bentuk awal daripada pengajaran dan pendidikan yang pada perkembangannya secara estafet dianggap sebagai fungsionaris institusi pendidikan agama Islam dalam berbagai bentuknya. 
Kehadiran mereka tampaknya tidak hanya diperlukan dalam otoritas keagamaan saja, namun lebih jauh dibutuhkan pula dibidang-bidang lain. Kehadiran mereka disemua bidang merupakan penjaga dan pemelihara nilai-nilai syari’at agama.
Menelusuri kiprah ulama dalam realitas politik Islam, tampaknya karena alasan-alasan tertentu tidak begitu diminati oleh mereka. Keengganan mereka melibatkan diri dalam kancah politik secara langsung, karena pemahaman mereka terhadap politik sebagai kekuasaan sangat sederhana sekali. 
Kegiatan politik seringkali dikonotasikan sebagai makar, sehingga alternatif yang diambil adalah menarik diri (uzlah) dari kehidupan ramai (politik kekuasaan) untuk kemudian khusyu’ di bidang pembinaan umat yang bebas dari pengaruh yang beraneka ragam. Namun demikian tidaklah berarti mereka melepaskan diri dari tanggung jawab politik tersebut. Tanggung jawab akhir yang mereka berikan biasanya terekspresi dalam bentuk do’a.
Selain itu para ulama dulu juga menjadi penasehat para raja. Dengan demikian , segala keputusan mereka akhirnya menjadi kebijakan kerajaan dalam bidang agama.Hingga saat sebelum kedatangan penjajah dari benua Eropa, ulama di Aceh telah dijadikan sebagai panutan dalam pengembangan tradisi keilmuan Islam. Karena itu, tidak sedikit dari mereka yang kemudian menyebarkan ajaran Islam ke daerah lain seperti Sumatera Barat dan pulau Jawa. Bukan hanya disitu, karya-karya ulama yang tinggal di Aceh dijadikan bahan rujukan dalam tradisi keilmuan Islam di Nusantara.
Peran dan fungsi ulama di tengah-tengah masyarakat bukan hanya sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai otoritas yang menjadi rujukan masyarakat dalam berbagai persoalan sosial budaya dan persoalan-persoalan keseharian. 
Oleh karena itu pada masa penjajahan zaman Snouck Hurgronje, seorang advisor pemerintah kolonial dari Belanda, menyarankan kepada pemerintahannya untuk menekan para ulama dan membatasi ruang gerak mereka hanya dalam bidang keagamaan dan seremonial ibadah saja.
Mengusir penjajah. Kemampuan rakyat Aceh dalam melawan Belanda selama puluhan tahun, bukan hanya terletak pada kekuatan senjata, bantuan dari Negara-negara Islam, kelihaian politik pimpinan kerajaan. faktor  utama yang telah membawa rakyat Aceh dengan ikhlas rela mati dimedan perang adalah karena pendidikan Islam yang telah meresep kedalam diri sejak masa kanak-kanak yang ditanamkan dalam lingkungan pendidikan dayah, dan lingkungan keluarga. Keyakinan yang teguh membaja inilah yang merupakan beton bertulang yang sukar untuk dihancurkan oleh kolonialisme.
Orang Aceh saat itu dianggap sebagai penjahat dan pembunuh oleh Belanda, karena melawan pemerintahannya, Semua gerakan tersebut dimotori oleh para ulama, dan dayah adalah pusat kekuatan dan sumber inspirasi bagi berbagai gagasan ke arah perjuangan dan perubahan. 
Ulama Aceh dulu juga telah berhasil mencetak kader ulama melalui doktrin ideologi ke Islaman sehingga para masyarakat saat itu menggugah rasa semangat dalam mengusir para Belanda. Kekompakan ulama dulu terbukti karena hari ini tidak ada lagi yang nama nya penjajahan Belanda di Aceh,  Sejarah mengakui Belanda angkat kaki dari bumu Aceh Serambi Mekkah ini tidak lepas dari andil ulama.
Memang sudah seharusnya, seorang ulama dalam kapasitasnya sebagai warastul-anbiya (Pewaris Nabi), Ulama ulama harus mengimplementasikan dan melestarikan misi kenabian, paling tidak harus mengemban peran tablig, tabyin, tahkim dan uswah dalam kehidupan nya. 
Ulama Aceh telah mengemban peran religious ini, bahkan pernah membuktikan diri dalam mengemban peran politik (Siyasah). Pasang surut peran ulama Aceh bisa kita cermati pada sejarah Aceh sejak keberdaan nya didaerah hingga kini.
Peran ulama pada masa kesultanan Aceh Darussalam (Akhir abad 16-19) telah menyebar luaskan keseluruh Nusantara. Pada akhir abad ke 16 hingga pertengahan abad 17 M, telah ada beberapa ulama yang sangat terkenal pada kerajaan Aceh darussalam. Para ulama di Aceh dulu selain berperan memberi kontribusi dalam melawan penjajah belanda juga menyebarkan ajaran Islam.
Demikian pada peran pelaku ekonomi dan bisnis, rakyat Aceh pada masa itu menjadikan ulama sebagai tempat rujukan dalam menjalankan transaksi perniagaan nya, berpegang dengan pendapat ulama dalam menentukan laba dan rugi, dan menunggu keputusan ulama apakah barang niagaan nya haram atau halal diperjual belikan. 
Peran ulama di Aceh sebagai bapak pendidikan dan kiblat umat ditandai dengan tumbuhnya  Dayah atau pesantren sebagai lembaga tertua di Aceh. justru eksistensi lembaga pedidikan ini lebih tua berbanding dengan lembaga pendidikan al-Azhar di Timur Tengah. Karena di tinjau dari sebutan dayah yang bersal dari zawiyah yang di artikan sebagai sudut atau ruang belajar misalnya Zawiyah Cotkala lebih klasik dibandingkan dengan kalimat Jami’ah yang diartikan sebgai Universitas misalnya Jami’ah al-Azhar. dalam perkembangan nya dayah terus men
Menelusuri Peran ulama Aceh pada masa dulu dasarnya sangat luas karena mencontoh peran ulama pada era Nabi yang melingkupi aspek agama, sosial, budaya, politik tata Negara,politik kekuasaan. Ulama berperan menjadi penegak hukum agama, pengembang pendidikan, penjaga moral umat, penasihat raja, pembahruan pemikiran termasuk fiqih Indonesia, penyebar agama ke Nusantar, pejuang melawan penjajah, penggerak organisasi ulama termasuk majelis ulama, dan pemimpin masyarakat dan pemimpin wilayah. 
Secara historis peran nya juga besar karena berdirinya kerajaan Aceh banyak dipengaruhi oleh ulama. Bahkan ada beberapa periode dimana peran ulama malah lebih luas lagi sehingga berfungsi sebagai penguasa itu sendiri atau juga menjadi pejuang melawan penjajahan. Dari berbagai peran ulama yang telah penulis sebutkan di atas berdasarkan catatan sejarah di buku-buku, dengan mengambil kesimpulan bahwasanya ulama-ulama seperti dulu sangat di nantikan dan di dambakan dalam kehidupan masyarakat Aceh. maka proses pengkaderan ulama di Dayah sangat urgen untuk di perhatikan. Agar proses pendidikan kaderisasi ulama di Aceh benar-benar berjalan dengan efektif. 

Oleh: Jon Paisal, S.Kom.I
Penulis adalah Mahasiswa Pasca UIN- Ar- Raniry Banda Aceh
Alumni Dayah Darul Muta’alimin Meulaboh Aceh Barat
faisal.jon@yahoo.com

To Top