Sosial

Opini : Karakter Pemimpin Bangsa Aceh

ACEHTERKINI.COM | Pemilihan Kepala Daerah secara serentak telah kita laksanakan dengan penuh harapan melahirkan pemimpin yang berkualitas dan amanah, walaupun upaya penataan dan mengatasi krisis pemimpin belum berjalan secara optimal karena kita masih juga mengalami krisis multimensional dalam kepemimpinan. Sehingga di era reformasi yang dinamis ini mengharuskan kita melakukan perubahan mengenai makna kepemimpinan. Sehingga jangan sampai terjadi kegamangan dalam memilih tipe pemimpin-pemimpin yang tepat untuk negeri yang tercinta, terutama di Aceh sebagai  Negeri Syariat Islam.
Regulasi yang berganti, pemilu dilakukan setiap kali, tapi reformasi dan perbaikan sangat sulit terwujud. Sehingga terkesan pergantian kepemimpinan hanya identik dengan pergantian orang dan penyingkiran lawan yang dulu berkuasa. Padahal memimpin tidak semata berkuasa namun yang terpenting ada kemauan politik untuk mengelola segala sumber daya negara demi kemakmuran rakyat semata. 
Aceh hari ini membutuhkan pemimpin berkarakter, baik di tingkat eksekutif, legislatif, dan yudikatif karena pemimpin bangsa Aceh untuk menuju Aceh yang makmur, aman dan sejahtera.  Sekarang kita melihat kurangnya keteladanan perilaku pemimpin; ucapan, pernyataan, diplomasi dalam penyelesaian masalah mendasar yang dihadapi bangsa ini. Sense-of crisis hampir-hampir punah karena didominasi kepentingan (interest) pribadi, kelompok, partai dan golongan, bisnis lebih mendominasi, yang terjadi dalam kehidupan masyarakat..
Pemimpin yang berkarakter kuat, cerdas, disiplin, tegas, terbuka dan jujur adalah impian masyarakat kita semua. Di Aceh  memiliki banyak calon pemimpin yang berkarakter yang kuat. Hanya saja, kadang kala karakter yang dimilikinya bisa menjadi lenyap ketika dihadapkan pada kehidupan nyata di dunia pemerintahan (eksekutif, legislatif dan yudikatif) bilamana kedudukan dan kekuasaan menjadi tujuan utama. 
Mukhsinuddin, M. Juned Syuib
Pemimpin berkarakter yang diharapkan oleh rakyat adalah pemimpin yang berani mengambil keputusan demi pembelaan terhadap nasib rakyat. Pemimpin yang memiliki semangat seperti itu yang harus diberi amanah sekaligus dukungan oleh rakyat. Untuk itu dibutuhkan sistem dan budaya politik yang sehat dan partisipatif. Dengan demikian orientasi organ-organ politik seharusnya mengacu pada kepentingan kesejahteraan rakyat sehingga tidak mendistorsi esensi demokrasi yang telah dipilih sebagai prinsip-prinsip penyelenggaraan negara, termasuk dalam memilih pemimpin.
Makna dari Pemimpin
Dengan krisis yang semakin akut, terutama krisis politik dan ekonomi, bangsa ini terseok-seok menatap masa depan. Krisis ekonomi nasional dan ekonomi global sudah terbukti banyak melahirkan keresahan sosial baru. Untuk menuntaskan krisis politik dan ekonomi yang melanda negara ini, akar-akar penyebabnya haruslah segera dikikis habis. Oleh karena itu, dalam menata kehidupan demokrasi yang matang, segenap warga bangsa diharapkan memilih pemimpin yang kredibel dan kafabilitas tinggi.  
Pemimpin yang hanya menjadi solidarity maker juga bukanlah pemimpin yang efektif. Apalagi pemimpin yang hanya terkenal sebagai tipe administrator yang berwatak birokratis. Dalam keadaan yang tidak normal ini, pemimpin dengan kualitas primalah yang kita butuhkan, hari ini di Aceh, yaitu pemimpin yang berkarakter dan memiliki integritas serta memiliki visi yang jelas dalam menyelesaikan segala permasalahan bangsa Aceh.
Di masa depan, persoalan kita sudah sangat berbeda, dan untuk menghadapinya dibutuhkan tipe kepemimpinan yang juga berbeda. Cepat atau lambat, masyarakat kita akan semakin kritis dan mulai mengerti hak-haknya. Mereka tidak ingin hanya menjadi obyek yang terus menerus diatur oleh pemimpin mereka. Pemimpin saat ini juga diharapkan mampu membuat inovasi kebijakan yang berani dan berdampak jauh serta mampu menghadapi persoalan ekonomi yang baru, seperti tuntutan pemerataan dan keadilan. 
Dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, organisasi, perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat didefinisikan, bahwa pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat, sikap dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Sedangkan kekuasan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan apa yang diinginkan pihak lainnya sehingga sebuah planning kerja bisa dilakukan.
Mengapa ketiga kata tersebut memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan? Hal itu karena untuk menjadi seorang pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat-sifatnya atau kewenangan yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan. 
Teori kepemimpinan yang menjadi dasar mengapa seseorang diangkat menjadi pemimpin antara lain; pertama karena sifatnya yang identik dengan karakteristik khas seperti fisik, mental dan kepribadian yang dikaitkan dengan atribut pribadi dari para pemimpin tersebut yang dianugerahi beberapa ciri yang tidak dimiliki orang lain. Di antaranya intelegensia, kepribadian dan karakteristik fisik. Kedua; karena kepribadian perilaku serta ketiga karena situasi. Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau pun jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negeri yang dipimpinnya.
Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri  dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang proses internal (leadership from the inside out).
Membentuk  Pemimpin Berkarakter
Pemimpin itu harus punya  karakter, punya kredibilitas, menjadi inspirasi keteladanan dan mampu menumbuhkan harapan. Pemimpin berkarakter sudah barang tentu bukan sosok karbitan atau yang hanya mengandalkan pengalaman jabatan, jam terbang politik, dan deretan panjang aktivitas kemasyarakatan, tanpa catatan prestasi yang jelas dalam semua kiprahnya itu. Pemimpin berkarakter adalah pemimpin yang mampu membuat perubahan masa depan bagi rakyat dan memperjuangkan perubahan itu dengan melakukan perubahan mendasar dalam pemerintahan dan masyarakatnya dengan bertopang pada nilai-nilai masyarakatnya sendiri.  
Di samping berkarakter pemimpin juga diharapkan memiliki kredibilitas. Ini menyangkut komitmen, integritas, kejujuran, konsistensi dan keberanian seorang pemimpin untuk bertanggung jawab atas pilihannya. Bukan jenis pemimpin dengan mental “tempe”, selalu ragu-ragu dan serba lambat mengambil keputusan di antara sekian banyak pilihan yang memang mustahil sempurna. Pemimpin yang kredibilitasnya mumpuni, sejak semula diberi amanah siap mempertanggung jawabkan kegagalan tanpa mencari kambing belang. Pemimpin itu lebih suka mencari apa yang keliru untuk diperbaiki ketimbang mencari siapa yang patut disalahkan. Kredibilitas juga mengandung pengertian adanya ketenangan batin seorang pemimpin untuk memberikan reaksi yang tepat terutama dalam keadaan kritis. Selain itu juga kredibilitas menyangkut aspek kecakapan dan ketrampilan teknis memimpin.
Pemimpin berkarakter juga menjadi inspirasi keteladanan. Boleh jadi ini aspek kepemimpinan yang terpenting dan sekaligus teramat sulit untuk kita temukan kini. Banyak pemimpin hari ini yang gagal menjadi sumber inspirasi keteladanan. Mereka tidak sanggup berdiri di barisan terdepan dalam memberi teladan dari dirinya dan lingkungan kekuasaannya yang terdekat. Pemimpin yang inspiratif, semestinya sanggup secara otentik menunjukkan ketulusan satunya ucapan dengan tindakan, satunya seruan dengan pelaksanaan, satunya tekad dengan perbuatan. Menjadi  pemimpin seperti ini sebagai lambang harapan bersama, sumber kesadaran arah (sense of direction) dan sumber kesadaran tujuan (sense of purpose).
Aktualisasi karakter kepemimpinan yang diharapkan adalah yang mampu mengantarkan anak bangsa dari ketergantungan (dependency) menuju kemerdekaan (independency), selanjutnya menuju kontinum maturasi diri yang komplit ke saling tergantungan (interdependency), memerlukan pembiasaan melalui contoh keteladanan perilaku para pemimpin yang bergerak di eksekutif, yudikatif dan legislatif dalam demokrasi yang kondusif. Habitat yang dapat dijadikan persemaian karakter pemimpin itu antara lain harus dapat menumbuh suburkan dan mengembangkan perilaku dan sifat-sifat yang berikut ini adalah, pertama, kesadaran diri sendiri,  jujur terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain, jujur terhadap kekuatan diri, kelemahan dan usaha yang tulus untuk memperbaikinya. 
Kedua, seseorang pemimpin cenderung memperlakukan orang lain dalam organisasi atas dasar persamaan derajat, tanpa harus menjilat ke atas menyikut kesamping dan menindas ke bawah.  Bisa memimpin berempati terhadap bawahannya secara tulus. Ketiga, memiliki rasa ingin tahu dan dapat didekati sehingga orang lain merasa aman dalam menyampaikan umpan balik dan gagasan-gagasan baru secara jujur, lugas dan penuh rasa hormat kepada pemimpinnya. Keempat, bersikap transparan dan mampu menghormati lawan politik dan belajar dari mereka yang bisa memberikan baik untuknya. 
Kelima, memiliki kecerdasan, cermat dan tangguh sehingga mampu bekerja secara professional keilmuan dalam jabatannya. Keenam, memiliki rasa kehormatan diri dan berdisiplin pribadi, sehingga mampu dan mempunyai rasa tanggungjawab pribadi atas perilaku pribadinya. Tidak seperti saat ini para pemimpin saling lempar ucapan pedas terhadap rekan sejawatnya yang berbeda aliran politiknya. Ketujuh, Memiliki kemampuan berkomunikasi, semangat membangun  “team work“, kreatif, percaya diri dan inovatif.
Pemimpin berkarakter adalah yang memiliki keunggulan khas, dapat diandalkan, dan memiliki daya tahan dalam kesulitan dan persaingan. Selain keunggulan spesifiknya pada sisi inteligensia, pemimpin yang berkarakter juga dituntut untuk menguasai moral capital yang kuat. Moral dalam arti ini adalah kekuatan dan kualitas komitmen para pemimpin dalam memperjuangkan nilai-nilai, keyakinan, tujuan, dan amanat penderitaan rakyat. Kapital di sini bukan sekadar potensi kebajikan seseorang, melainkan potensi yang secara aktual menggerakkan roda politik. Dengan begitu, yang dikehendaki bukan sekedar kualitas moral individual, namun juga kemampuan politik untuk menginvestasikan potensi kebajikan perseorangan ini ke dalam mekanisme politik yang bisa mempengaruhi perilaku orang lain.
Pemimpin berkarakter menjalankan praktek pemerintahan sebagai seni menciptakan berbagai kemungkinan dengan mengandalkan visi dan argumen yang masuk akal. Kalau pemimpin seorang teknokrat, ia adalah seorang teknokrat-plus atau dalam terminologi yang akhir-akhir ini mulai populer, seorang (teknokrat yang politisi). Dari itu pemimpin dan kepemimpinan dapat membedakan antara “pemerintah” dan pelayan masyarakat. Pemimpin berkarater mengelola pembangunan sebagai proses pembentukan nilai yang berkesinambungan, bukan hanya sekadar berkuasa untuk lima tahunan. Tanpa semua itu pemimpin akan gagal mengajak rakyatnya untuk bergerak (moving the people) mengatasi carut-marut keadaan. Rakyat yang enggan diajak bergerak menjemput perubahan adalah pertanda gagalnya kepemimpinan. Di sana tidak muncul pemimpin berkarakter kuat, punya kredibilitas terjaga, sanggup menjadi inspirasi keteladanan dan mampu menumbuhkan harapan.
Pembentukan karakter seseorang pemimpin pada dasarnya menjadi tanggung jawab semua pihak dan warga bangsa. Oleh karena itu seluruh komponen hari ini  baik itu pemerintah dan masyarakat serta lembaga di bidang eksekutif, legislatif dan yudikatif bersama rakyat wajib menyediakan persemaian yang subur untuk pengembangan kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan pemimpin yang berkarakter. Untuk itu, instusi demokrasi yang telah menjadi ketetapan seluruh warga kita harus dijaga dan disusun berdasarkan prinsip-prinsip penyelenggaraan pemerintahan negara yang adil untuk mencapai kesejahteraan bersama, sebab kepemimpinan yang berkarakter dapat menjaga pembangunan yang sedang dilakukan di Aceh, dengan makmur dan sejahtera, selamat bagi pemimpin Aceh yang terpilih.  

Penulis : Mukhsinuddin, M. Juned Syuib , S,Ag, M,M 
Mahasiswa Doktoral Ilmu Manajemen Unsyiah Darussalam Banda Aceh,  
Dosen  pada STAIN Tgk Dirundeng  Meulaboh. Aceh Barat 
email : muhmuhsin@gmail.com

To Top