Kesehatan

Opini : Endemik DBD di Negeri Adipura Banda Aceh

ACEHTERKINI.COM | Menurut data Plt Kandinkes Kota Banda Aceh dr. Warqah Helmi tentang Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Banda Aceh sejak Januari hingga Februari 2017 berjumlah 121 kasus, dimana pada Januari 2017 sebanyak 81 kasus dan pada bulan Februari 2017 sebanyak 40 kasus. Data ini berbeda dengan jumlah kasus DBD pada tahun 2016 yang hanya memiliki 12 kasus, sehingga peningkatan data tersebut membuat Kota Banda Aceh masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).
Penyakit demam berdarah dengue, istilah kedokterannya Dengue Hemorrhagik Fever (DHF), adalah penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang membawa virus dengue. Infeksi virus dengue inilah yang merupakan penyebab infeksi demam berdarah di mana terjadi kebocoran pembuluh darah yang dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat.
Umumnya penderita akan merasakan gejala demam mendadak tinggi 2-7 hari, sakit kepala, serta terasa nyeri pada otot, sendi, serta tulang. Pada hari ke 3 – 6 pada lengan, kaki dan menjalar ke seluruh tubuh, dapat terjadi pendarahan hidung, gusi, berak darah dan muntah darah, terjadi pembengkakan hati dan nyeri tekan, dan keadaan lebih parah dapat terjadi syok. Inilah bahayanya penyakit demam berdarah karena kekebalan tubuh kita akan ikut berkurang.
Anomali iklim dan buruknya penanganan lingkungan menyebabkan kasus demam berdarah meluas di Banda Aceh. Iklim yang sulit diprediksi membuat hujan terus terjadi sepanjang tahun dan kucuran air dari langit inilah yang membuat genangan semakin banyak. Perilaku terhadap kebersihan lingkungan adalah respon seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia.
Belum hilang dari ingatan kita sebagai warga kota Banda Aceh. Pada tanggal 22 Juli 2016 lalu, Wali Kota Banda Aceh, Hj Illiza Sa’aduddin Djamal SE hadir langsung ke Siak Provinsi Riau untuk menerima penghargaan anugerah Adipura Kirana 2016 yang diserahkan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. 
Kemewahan hingga kemeriahan dipertontonkan ke masyarakat bahwa telah berhasilnya Kota Banda Aceh dinobatkan sebagai penerima anugerah adipura yang diperoleh secara beruntun kedelapan kalinya oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tanggal 15 Juli 2016. 
Penghargaan ini, diberikan kepada kota atau kabupaten yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi melalui ‘Trade Tourism and Investment” yang berbasis pengelolaan lingkungan hidup. Pada kesempatan itu  Pemkot Banda Aceh memiliki harapan terhadap penghargan tersebut, agar dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan kota, dan memotivasi masyarakat untuk mempertahankan piala tersebut pada tahun depan.
Akan tetapi sekarang warga di daerah ini mulai ‘ketakutan’ mendengar serangan nyamuk yang kecil disebut Aedes Aegepty yang ‘sakti’, karena menjadi biang penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) yang kini wabahnya hampir sulit dicegah, dan bahkan sudah masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB) sebagai daerah endemi.
Buktinya, hanya perlu kurun waktu enam bulan, sejak Juli hingga Desember, nyamuk berkembang biak di air tergenang itu telah dilaporkan sebanyak 121 kasus yang tersebar dibeberapa kecematan seperti kecamatan baiturahman 13 kasus, Meuraxa 15 kasus, Syiah Kuala 15 kasus, Kuta Alam 11 kasus dan selebihnya kasus DBD terjadi dibeberapa kecamatan lainnya di Banda Aceh.
Harapan serta cita – cita terhadap penghargaan piala adipura yang diraih kota Banda tidak sesuai dengan status KLB DBD kota Banda Aceh. Piala adipura sesungguhnya memang layak untuk kota Banda Aceh, akan tetapi meraih penghargaan itu bukan berarti menjamin akan kebersihan lingkungan, Pemko Banda Aceh perlu melakukan pembenahan dalam berbagai bidang yang berhubungan dengan kebersihan kota, tidak hanya menjadikan kebersihan lingkungan hanya untuk mendapatkan piala adipura. 
Oleh karena itu, pemko Banda Aceh jangan terjebak dengan kebanggaan semu terhadap piala adipura, sehingga program kesehatan lingkungan tidak mendapatkan perhatian secara khusus. Pemerintah kota sudah seharusnya menghubungkan upaya meraih piala adipura dengan kepentingan masyarakat dalam mendapatkan kesehatan lingkungan, sehingga dapat melakukan tindakan preventif dalam mencegah penyebaran wabah penyakit DBD 
Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh harus memiliki program yang berkesinambungan untuk menekan kasus DBD, Hasil Akhir dari program dapat dinilai dengan melihat KLB DBD yang terjadi pada Bulan Januari – Februari 2017 yang masih tinggi dengan jumlah 121 kasus, dapat menjadi cerminan terhadap program yang dijalankan ternyata belum optimal dibandingkan tahun 2016 dengan kasus yang sangat sedikit. 
Idealnya kasus DBD dapat diminimalisasi bukan malah bertambah. Sebagai peringatan dan penyadaran bahwa wabah penyakit perlu tindakan preventif dan keseriusan semua pihak dalam menanggulanginya, Jika Dinkes Kota Banda Aceh memiliki program yang jelas dalam upaya pencegahan dan penanganan DBD, maka di masa mendatang endemi DBD bisa diturunkan. 
Banyak pihak mempertanyakan peran masyarakat terhadap lingkungan yang dianggap masih rendah, akan tetapi indicator ini bertolak belakang dengan penghargaan piala Adipura sebanyak 8 kali, penghargaan tersebut sudah membuktikan masyarakat sudah sadar dalam menjaga kebersihan lingkungan masing-masing. 
Akan tetapi proaktif masyarakat untuk membersihkan rumah dan lingkungan harus di tingkatkan, Partisipasi masyarakat dapat diwujudkan dengan melaksanakan gerakan kebersihan dan kesehatan lingkungan secara gotong-royong serta memotivasi kepada masyarakat secara terus menerus terhadap keberadaan jentik nyamuk tersebut, sehingga butuh peran semua pihak dalam menyadarkan masyarakat bahwasanya “kebersihan itu adalah sebagian dari iman”, karena lingkungan yang bersih  Insya Allah dapat mewujudkan kawasan sehat dan terbebas dari kasus demam berdarah dengue (DBD).

Oleh : dr. Said Aandy Saida, SpPD
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Aceh
Bagian Ilmu Penyakit Dalam
dr_saidaandysaida@yahoo.com

To Top