Sosial

Mahasiswa Abulyatama Diberi Pemahaman Kependudukan

ACEHTERKINI.COM | Ratusan mahasiswa Universitas Abulyatama diberi pemahaman tentang kependudukan yang diharapkan dapat meningkatkan minat dan bakat remaja Aceh terhadap kependudukan yang akan menjadi di salah satu mata kuliah pelajaran di kampus tersebut.

Kuliah umum tentang Bonus Demografi dalam Perspektif Kependudukan disampaikan oleh Sekretaris Utama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Republik Indonesia Nofrijal, SP, MA, Kamis (02/03/2017), di Aula Lantai 2 Universitas Abulyatama, Kabupaten Aceh Besar.

Kepala BKKBN Provinsi Aceh, M. Yani mengatakan, mahasiswa adalah cara strategis untuk menyampaikan pesan-pesan kependudukan.

“Jika nanti kalian menjadi pemimpin, konsep pembangunan berwawasan kependudukan ini sudah ada dalam kerangka pikiran kalian. Pembangunan kependudukan artinya tidak saja manusia sebagai sasaran atau obyeknya tetapi juga sebagai subyek dalam pembangunan,” kata dr. M. Yani di depan ratusan mahasiswa Universitas Abulyatama.

Kualiah Umum Pemahaman Kependudukan di Universitas Abulyatama

Sementara itu Sekretaris Utama BKKBN RI, Nofrijal, SP, MA menyampaikan tentang sembilan agenda prioritas pembangunan 2015-2019 (nawa cita). Ada tiga nawa cita (3,5, dan 8) yang menjadi prioritas dalam program KKBPK.

Nawa cita ketiga yaitu, membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-derah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Nawa cita kelima yaitu, meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia dan kedelapan melakukan revolusi karakter bangsa.

“Dalam program BKKBN, kami memulai dari hulu. Hulu artinya membangun sumber daya manusia sejak dini atau sejak awal. Ada dua faktor membangun yaitu, sejauh mana kita mengenal proses keberadaan manusia (dari bertemunya sel sperma dengan indung telur hingga hamil dan melahirkan) dan membangun peradaban manusia,” kata Nofrijal.

Lanjutnya, BKKBN mulai menjalankan program kerjanya dari dasar. Makanya BKKBN membangun dari hulu sekali. “Di sini BKKBN tidak bisa bekerja sendiri perlu mitra kerja untuk membantu sukseskan program kerjanya. Kemudian industri hulu akan mewarnai dari hulu ke muara. Kalau hulunya sudah tercemar maka muara juga akan tercemar,” katanya lagi.

Ia menyinggung soal tiga dimensi pembangunan yaitu dimensi pembangunan manusia, dimensi pembangunan kependudukan, dan dimensi pembangunan global.

Dimensi pembangunan manusia yang dimaksud yaitu, bersentuhan langsung dengan persoalan pendidikan, kesehatan, dan pendapatan. Dimensi pembangunan kependudukan bersentuhan dengan kuantitas, dimana laju pertumbuhan penduduk dikendalikan.

Kemudian kualitas sumber daya manusia ditingkatkan, mobilitas penduduk diarahkan ke arah yang lebih baik dan berguna bagi kehidupan masyarakat, dan kemudian menbuat data keluarga mikro by name by adress.Sedangkan dimensi pembangunan global terkait dengan MDG/SDG’S, hak-hak reproduksi, dan pasar bebas.

“Bonus demografi dan Indonesia emas 2045, akan bisa kita dicapai jika syarat manusia berkualitas yang kompeten dan berakarakter sudah tercapai dalam pembangunan keluarga. Untuk membentul karakter perlu revolusi mental. Selain itu kita juga fokus pada pembangunan ketahanan kelurga. Untuk mencapai itu maka di dalam keluarga perlu menanamkan delapan fungsi keluarga. Fungsi agama, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, dan fungsi lingkungan,” demikian tutupnya.

Turut hadir Kepala Biro Umum BKKBN RI, Dra. Maryana, MM, Wakil Rektor, Drs. Saipuddin M.Pd, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Aceh, Dr. dr. M. Yani, M.Kes, Kabid Pengendalian Penduduk, Irma Dimyati, SE, M.Si, Kabid ADPIN, Ir Nurzikra Hayati, Sekretaris, M. Razali, SE, dan Ka Latbang, Drs. Saflawi, TR, MM, dan para Kasubbid di Dalduk. [Ril]

To Top