Sosial

Angka Penderita TB di Abdya Cukup Tinggi

ACEHTERKINI.COM | Angka penderita Tuberkulosis (TB) dalam tahun 2015 hingga 2016 di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) cukup tinggi. Data dari Bidang Pengendali Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatan setempat menunjukkan pada tahun 2015 terdapat 228 kasus dan di tahun 2016 sebanyak 213 kasus.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Abdya, dr Suherdi SpPD yang dihubungi wartawan, Rabu (29/3/2017) membenarkan tingginya angka penderita TB di Abdya. Dimana, penyakit TB tersebut sangat mudah menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium Tuberkulosa (bakteri penyebab penyakit tuberkulosa) yang keluar ketika penderita TB batuk atau bersin dan tanpa sengaja terhirup oleh orang disekitarnya.

Foto Ilustrasi

Kondisi itu juga tergantung pada tingkat daya tahan tubuh seseorang. Biasanya orang yang mudah tertular penyakit TB adalah orang-orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah serta kekurangan gizi. “Lingkungan buruk juga dengan mudah seseorang bisa terinfeksi bakteri mikobakterium tuberkulosa,” sebut dr Suherdi.

Ditambahkan, penyakit ini sering kali muncul tanpa gejala-gejala yang khas, hanya batuk-batuk ringan sehingga banyak masyarakat yang mengabaikannya dan menganggap hanya sekedar penyakit biasa dan hanya ditangani dengan pengobatan tradisional tanpa melakukan pengecekan ke Puskesmas atau rumah sakit. Selain itu, kepatuhan penderita untuk melakukan pengobatan secara rutin juga masih rendah, sehingga penyakit itu semakin sulit untuk diobati, karena tidak rutin meminum obat yang dianjurkan dokter.

Kepatuhan pasien sangat diharapkan pada pengobatan TB ini. Sangat dibutuhkan peran dari keluarga untuk selalu mengingatkan meminum obat dan melakukan kontrol pada anggota keluarga yang menderita TB.

Terkadang kondisi pasien membaik dalam waktu satu bulan setelah melakukan pengobatan, bahkan keluhannya pun hilang. Inilah yang menjadi penyebab pasien menghentikan pengobatannya karena merasa sudah sembuh. Hal tersebut bisa sangat berisiko karena pengobatan yang terputus dapat menyebabkan pasien mengalami kekebalan pada obat-obatan yang sudah diberikan.

“Akan semakin sulit ditangani setelah penderita TB berhenti meminum obat. Biasanya juga akan mudah terjadi komplikasi TB,”ungkap Suherdi yang juga salah satu dokter di Rumah Sakit Umum Tengku Peukan (RSUTP) setempat. (Rizal).

To Top