Sosial

Kemampuan Menulis Hanya Bisa Didapat Dari Proses Kreatif Terus-Menerus

ACEHTERKINI.COM | Tidak ada jalan pintas untuk menjadi seorang penulis, karena kemampuan tersebut hanya bisa didapatkan secara bertahap dari proses kreatif yang terus menerus. Hal itu diungkapkan penulis Edi AH Iyubenu dalam diskusi bertema “Tips dan trik menulis fiksi cerpen dan novel” di Padang, Ahad (26/2/2017).

“Bahkan penulis eksperimental dan anti mainstream juga harus memulai dari nol. Dari awal agar bisa menghasilkan tulisan yang baik,” kata Edi yang juga CEO DIVA Press Group itu.

Menurut dia orang yang ingin menjadi penulis fiksi harus berproses dan mengembangkan imajinasinya sebagai salah satu pendukung utama tulisan yang akan dibuat.

“Imajinasi ini tidak memiliki batas. Seorang penulis sah-sah saja mengimajinasikan sesuatu untuk dijadikan sebuah tulisan. Bahkan bila imajinasi itu beranjak dari novel orang lain, atau memutar balik cerita-cerita dongeng yang telah mengakar di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Hanya saja menurutnya sebuah tulisan yang baik, harus mampu memberikan sesuatu pada pembacanya, semacam pesan moral. “Saya berpendapat seperti itu, meskipun ada juga penulis yang berpendapat tidak harus ada pesan moral dalam sebuah tulisan,” katanya.

Senada, penulis asal Bogor Reza Nufa dalam kesempatan yang sama mengatakan sebuah tulisan, termasuk fiksi membawa kegelisahan penulisnya. Kegelisahan tentang nilai-nilai yang dipercayainya, yang diperjuangkannya dalam tulisan yang ia buat. “Kegelisahan itulah yang dirasakan dan kemudian memercikkan suatu kesadaran dan dorongan pada pembacanya,” kata dia.

Namun dalam menuliskan kegelisahan tersebut menurut Reza, terkadang harus ada pertimbangan lain, terutama jika sudah bersentuhan dengan penerbit. “Pada titik ini, penulis akan dihadapkan pada pilihan, terus menulis sesuai idealisme dan cara sendiri dengan kemungkinan tidak diterima penerbit, atau sedikit berkompromi agar bisa diterbitkan dan dibaca oleh banyak orang,” kata dia.

Menurutnya untuk tema dan jenis tulisan yang sedang diinginkan banyak orang, penerbit cenderung lebih paham dari pada penulis.

Sementara itu moderator yang juga merupakan seorang penulis Maya lestari GF mengatakan diskusi dengan penulis dalam rangkaian acara Minangbook Fair 2017 di Masjid Raya Sumbar tersebut merupakan kesempatan penulis muda Sumbar untuk menimba pengalaman. “Jarang-jarang bisa bertemu dan berdiskusi dengan penulis andal ini,” katanya.

Selain penulis tersebut, penulis asal Sumbar seperti Yetti A.KA dan Deddy Arsya juga berkesempatan untuk membagikan pengalaman menulis pada penulis muda Sumbar. [Rol]

To Top