Sosial

Bentuk Nikmat Allah kepada Manusia

ACEHTERKINI.COM | Para Ulama Ahlussunah wal Jamaah menyepakati bahwa Allah Swt yang menciptakan segala perbuatan manusia, sebagaimana firmanNya yang artinya: “Dan Allah Swt. lah yang menciptkan kalian dan segala perbuatan yang kalian lakukan”. (QS. Asshaffat/37: ayat 96)

Syekh Yusri Rusydi menjelaskan dari kitab al-Hikam, bahwasanya ketika Allah Swt. menampakkan nikmat dan keutamaanNya kepada seorang hamba, maka Dialah yang memberikan kemudahan untuk melakukannya dan menisbatkan keutamaan tersebut kepada hambaNya.

Hal ini secara jelas disebutkan dalam Al Qur’an, sebagaimana firman Allah Swt yang artinya : “Wahai ahli surga, masuklah kalian ke dalam surga atas amal-amal yang telah kalian perbuat semasa hidup kalian “. [QS.Annahl/16: ayat 32].

Bersyukur [Ilustrasi]

Secara hakikat, kita mengetahui bahwa Allah Swt. lah yang telah memberikan taufik, hidayah, serta kekuatan sehingga kita bisa mengerjakan sebuah ketaatan. Akan tetapi Allah Swt. menisbatkan amal-amal yang menjadikan sesorang masuk ke dalam surgaNya kepada diri seorang hamba. Hal ini bisa dipahami sebagai bentuk keutaman yang Allah Swt. berikan kepada seorang hamba dengan tujuan memuliakannya.

Syekh Yusri hafidzahullah juga menambahkan, bahwasanya ketika Allah Swt menciptkan sebuah kemanfaatan, ketaatan, dan amal Ibadah, Dia menisbatkan semua hal itu kepada diri kita. Nabi Muhammad Saw bersada yang artinya : barang siapa yang melapangkan urusan dunia seorang mukmin, maka Allah Swt. akan melapangkan kesulitannya di hari kiamat kelak.

Dari hadits diatas, bisa dikatakan bahwa seorang mukmin aalah “Farij al-Kurbi (penghapus kesulitan), meskipun hakikatnya hal tersebut merupakan kehendak dari Allah Swt.

Syekh Yusri juga menambahkan, bahwa Nabi Muhamammad Saw. merupakan “Farij al-Kurbi al-A’dham”, yaitu sang penghapus kesulitan terbesar. Dimana pada hari kiamat kelak, ketika semua makhluk menghadap kepada Allah Swt di padang mahsyar, Nabi Muhammad Saw lah yang akan memberikan syafa’at kepada kita dan bahkan kepada orang kafir sekalipun, dengan dipersingkatnya masa penantian; bagi orang kafir, masa penantian 50 ribu tahun, akan menjadi 1000 tahun. Adapun bagi seorang mu’min bagaikan menunggu antara waktu asar sampai maghirb.

Inilah yang dinamakan dengan Maqam al Hamdu, yaitu kedudukan yang hanya dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw dan tidak dimiliki oleh para nabi selaiannya. Beliau Saw mengatakan, “saya lah pemilik syafa’at itu”.

Allah Swt. juga berfirman yang artinya : “Dan Allah Swt telah memberikan kepadamu nikmatNya yang sangat agung “ [QS Annisa/4: Ayat 113], sambung Syekh Yusri dalam penjelasannya.

Beliau pun memberikan contoh akan nikmat yang telah Allah Swt. anugerahkan kepada kita, namun Dia menisbatkan nikmat tersebut kepada kita, yaitu seperti halnya anak kita.

Kita tidaklah menciptakan mereka, akan tetapi mereka dinisbatkan kepada kita. Sebagaimana Syekh Yusri juga menganalogikan dengan sebuah kesuksesan, dan hidayah yang datang kepada seseorang atas perantara diri kita.

“Ketika ada seorang yang bertaubat dan insaf karena mendengarkan tausiahmu, atau masuk islam karena dirimu, maka mereka akan memujimu dan berterimakasih kepadamu. Dimana pada hakikatnya, hidayah itu datangnya dari Allah Swt”.

Maka dari itu, seorang wali itu tidak akan sombong meskipun dirinya bisa mendatangkan hujan sebagai bentuk karomah yang dia miliki, karena dia tahu persis akan hakikat “la haula wa la quwwata illa billah” (tidak ada daya, upayah, dan kekuatan melainkan hanya milik Allah Swt)”.

Maka jikalau ada seorang wali yang sombong, maka sesungguhnya dirinya itu bukanlah wali. Allah Swt.berfirman yang artinya : “ Dan tidaklah dari setiap kenikmatan itu melainkan dari Allah Swt “ [QS Annahl/16: Ayat 53].

Maka Allah Swt akan memberikan kemanfaatan kepada manusia melalui dirinya. Dan Allah Swt tidaklah akan memberikan kenikmatan ini melainkan kepada seorang yang ahli dalam kebaikan, yaitu mereka yang merupakan wali-wali Allah Swt, para orang salih, dan pewaris para Nabi. Wallahu a’lam.

Sumber : aktual.com

To Top