Politik

Zakaria Saman “Curhat” Begini Orasi Kampanye Politiknya

ACEHTERKINI.COM | Kampanye politik Calon Gubernur Aceh Nomor Urut (2), Zakaria Saman di Beureunen, Kabupaten Pidie disambut ribuan masyarakat yang antusias mendengarkan orasi politiknya, Kamis (26/1/2017).

Putra Aceh yang lahir di Keumala dan tinggal di Blang Maloe, Kabupaten Pidie ini mengaku sudah 23 tahun hidup di Eropa Barat bersama Wali Nanggroe, Tgk. Muhammad Hasan Di Tiro dan para petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) lainnya.

Kampanye Politik Zakaria Saman di Beureunen, Pidie (Ist)

Dalam kampanye politiknya itu, Zakaria Saman atau yang dikenal Apa Karia banyak menceritakan bagaimana hidup dalam perjuangan GAM masa konflik hingga pasca Perdamaian Aceh.

“Waktu saya pulang ke Aceh, mereka yang dulunya anak-anak sudah punya anak tapi saya belum apa-apa. Selama di luar, apa yang tidak ada. Trok bak beusoe batok lon bloe untuk kombatan gam, bek gam gob gam tanyo. (red- sampai dengan batok besi saya beli untuk GAM, jangan GAM orang, GAM Kita), saya selalu ingat kepada bangsa Aceh kemana pun saya pergi tetap saya pulang ke Aceh,” kata Apa Karia dalam orasi politiknya itu.

Kampanye Politik Zakaria Saman di Beureunen, Pidie (Ist)

Apa Karia mengenang saat dirinya pulang ke Aceh 15 hari setelah ditetapkan status Darurat Militer. Berbicara GAM, menurutnya, orang pertama paling atas yaitu Wali Nanggroe Tgk. Hasan Di Tiro, setelah dirinya sebagai menteri Pertahanan GAM.

“Jadi, sekarang saya sebagai ayah kalian dalam kombatan. Saya tidak punya kepentingan apa-apa, tetapi ini semua saya lakukan hanya untuk rakyat Aceh. Maka kalau saya ngomong “lage na laju” (red- apa adanya),” tutur Apa Karia disambut teriakan massa.

Apa Karia juga mengaku yang menetapkan Malik Mahmud sebagai Wali Nanggroe, Zaini Abdullah untuk Gubernur dan Muzakir Manaf sebagai wakil Gubernur Aceh pasca didirikannya Partai Aceh dulu adalah dirinya.

Kampanye Politik Zakaria Saman di Beureunen, Pidie (Ist)

“Saya tidak punya Anak, istri muda dan cukup untuk makan, jadi saya tidak perlu yang lain, saya hanya perlu untuk mensejahterakan rakyat Aceh Hari ini sudah 10 tahun, yang menetapkan dr. Zaini adalah saya, yang menetapkan Muzakir Manaf dan Malek Mahmud juga saya, bukan orang lain. Ini karena Allah saya paksa mereka untuk duduk sebagai gubernur, wakil gubernur dan wali nanggroe. Tip-tip ka lon jak pantang lon surot, hana lon takot rimung ngen buya (setiap saya maju, pantang saya mundur, tidak takut dengan harimau dan buaya),” ucap Apa Karia.

Ia menambahkan, dahulu dipanggil dengan sebutan Bang Karya ketika bersama mantan kombatan GAM merasakan pahitnya hidup di gunung. Namun sekarang, ia mengaku kecewa setelah sebagian mantan kombatan GAM merasakan buah manis, lalu melupakan dirinya, seperti kacang lupa kulit.

Kampanye Politik Zakaria Saman di Beureunen, Pidie (Ist)

“10 tahun sudah kepemimpinan sama orang Partai Aceh. Partai Aceh saya yang buat waktu itu, yang berarti PA (Partai Aceh, Peusaboh Aceh dan Pemerintah Aceh). Tetapi sekarang PA menjadi “Peunget Aceh” (red- tipu Aceh). Setelah saya turun dari gunung, saya tidak perlu untuk jadi gubernur, bupati dan DPR, karena itu bukan main-main, tapi karena sekarang sudah begini makanya saya nekat mencalonkan diri sebagai gubernur untuk rakyat,” terang Apa Karia.

“Kalau rakyat Aceh tidak memilih saya, maka saya tidak peduli lagi dengan politik. Kalau mau berkunjung ke rumah saya, silahkan. Kalau mau tanya masalah politik saya usir, sudah 10 tahun dibohongi,” sebutnya.

Calon Gubernur Nomor Urut 2 itu juga mengaku dirinya sangat kasihan kepada kombatan, anak yatim dan masyarakat miskin. Setiap hari meugang ada yang datang ke rumahnya meminta uang. Bahkan yang membuatnya sangat sedit dan melinangkan air mata ketika ada janda yang membawa anak kecil datang meminta bantuan kepadanya. Apa Karia juga mengaku prihatin ketika melihat di kampung-kampung masih ada rumah yang tidak layak huni.

“Waktu saya sudah jadi gubernur nanti. Saya akan minta tagih janji uang yang akan di kasih ke kombatan GAM. Mereka yang kasih sendiri kepada kombatan, saya tidak mau pegang uang itu,” sebut Apa.

Dulu, kata Apa Karia, dirinya yang mempertanyakan ada janji setelah damai terkait pemberlakuan pengobatan gratis di Aceh. Menurut Apa, Mustafa Abu Bakar selaku Pj. Gubernur Aceh kala itu bersama DPR Said Fuad Zakaria sebagai ketua DPRA yang awalnya membahas persoalan pengobatan gratis. Setelah itu, Irwandi yang menjabat sebagai gubernur dan Hasbi Abdullah sebagai ketua DPRA yang menandatangani program itu. [Red]

Editor : Firman

To Top