Layanan Publik

Petani Abdya Kecewa Pemkab Tak Serius Tangani Banjir

ACEHTERKINI.COM | Para petani di areal persawahan Paya Laot, Desa Lhueng Baro dan Desa Suka Damai, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) merasa sangat kecewa. Pasalnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Abdya terkesan pilih kasih dalam menangani urusan pertanian. Dimana masalah luapan air di kawasan areal persawahan Paya Laot itu tak kunjung mampu ditangani hingga sekerang ini.

Petani Abdya Kecewa Pemkab Tak Serius Tangani Banjir
Areal Perswahan Paya Laot, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Abdya direndam banjir. Padi yang sudah ditanami petani banyak yang mati. [ Foto Rizal/acehterkini.com ]

Buktinya, puluhan hektare bahkan mungkin mencapai seratusan hektare sawah direndam banjir. Para petani setempat tak hanya merasakan luapan air pada saat proses tanam saja, bahkan saat hampir memasuki masa panen mereka juga merasakan hal yang serupa.

Pengalaman beberapa tahun lalu, para petani di Paya Laot harus menggunakan ban dalam mobil untuk mengangkut ubinan yang sudah dipotong. Meskipun demikian pemerintah terkesan tutup mata dan mengabaikan kondisi yang dirasakan petani. “Katanya perhatian sama petani, tapi mana buktinya, penderitaan dan kerugian yang kami rasakan tak kunjung berakhir,” kata Sandiman salah satu petani dikawasan setempat, Jumat (20/1/2017) kepada wartawan dengan nada kesal.

Jika hujan deras mengguyur wilayah ini, lanjut Sandiman, air dari saluran pinggir sawah akan meluap. Selain sendimen yang sudah menebal, juga gorong-gorong jembatan yang dibangun dibawah badan jalan nasional terlalu sempit, sehingga tidak mempu menampung aliran air.

“Sekitar puluhan tahun yang lalu, tentara Jerman pernah membangun gorong-gorong dilokasi ini. Kemudian sekitar tahun 2015 dibangun baru oleh instansi terkait, akan tetapi pekerjaannya tidak maksimal, air tetap saja meluap kedalam sawah warga,” sebutnya.

Dipastikan, petani akan melakukan tanam ulang. Padahal target panen akhir Januari dan awal Februari. “Jika seperti ini, kami tidak bisa memastikan kapan akan panen, karena kita terus tanam dan menanam berulang-ulang padi yang sudah mati,” kata Hamzah petani lainnya dengan nada kecewa.

Beberapa kali diberitakan media massa, areal persawahan Paya Laot Manggeng tersebut perlu dibangun Box Culver dengan kapasitas besar, sehingga air akan lancar mengalir. Malahan beberapa kali dikonfirmasi pihak wartawan, instansi terkait telah menyusun rencana akan membangun Box Culver diwilayah tersebut. Akan tetapi realisasi dilapangan justru gorong-gorong biasa yang dibangun yang belum memberikan solusi terbaik untuk petani setempat.

Tak hanya Paya Laot saja yang sering direndam banjir luapan, bahkan areal persawahan Jeumpa Barat, Asoe Nanggroe, Ikue Lhueng, Kuta Makmur Kecamatan Jeumpa, juga merasakan kondisi yang serupa. Kemudian persawahan Rubek Meupayong, Padang Panjang, Ladang, Padang Baru dan Ujung Padang, Kecamatan Susoh juga tak ketinggalan. Bahkan masih banyak lokasi-lokasi lainnya yang justru akan mengancam kerugian besar bagi petani.

Data yang diperoleh dari Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya, diperkirakan ada sekitar 246 hektare lebi areal persawahan yang terendam banjir. Belum lagi data diluar itu.

Untuk itu, petani berharap agar pemerintah dengan serius memperhatikan kemakmuran petani. Bukan hanya dengan pupuk atau alat pertanian lainnya dianggap sudah selesai masalah. Akan tetapi masih banyak masalah yang dihadapi petani belum tertangani dengan serius. Salah satunya masalah luapan air yang merugikan petani. Artinya perlu pembenahan saluran air bukan membangun mega proyek yang belum jelas manfaatnya.

“Jika Bupati Abdya kedepan terpilih, kami petani di Paya Laot tidak berharap banyak, hanya kami minta satu hal saja, selesaikan masalah banjir luapan kedalam sawah kami,” kata petani setempat dengan penuh harap. (Rizal)

To Top