Peristiwa

Banjir Rendam Ratusan Hektar Sawah di Abdya

ACEHTERKINI.COM | Curah hujan yang cukup tinggi di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengakibatkan sungai dan anak sungai meluap hingga merendam ratusan hektar (Ha) tanaman padi milik warga yang sudah mulai berbuah.

Diperkirakan sekitar 246 hektar areal persawahan warga yang terendam banjir luapan. Seperti, areal persawahan di Jeumpa Barat, Asoe Nanggroe, Ikue Lhueng, Kuta Makmur Kecamatan Jeumpa. Kemudian areal persawahan Rubek Meupayong, Padang Panjang, Ladang, Padang Baru dan Ujung Padang, Kecamatan Susoh.

Luapan air rendam tanaman padi milik petani hingga menghilang dari permukaan di kawasan Kuta Makmur, Kecamatan Jeumpa, Abdya, Kamis (5/1/2017). [Rizal]

Kondisi serupa juga dialami hamparan sawah di Kecamatan Setia, seperti Tangan-Tangan Cut dan Mon Mameh. Kemudian areal persawahan Paya Laot, Desa Lhueng Baro, Kecamatan Manggeng juga banjir.

“Kita kuatir panen musim ini akan gagal, apalagi tanaman padi yang masih berusia muda bakal terancam mati,” kata salah seorang petani kepada acehterkini, Kamis (5/1/2017).

Mengenai hal itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Abdya, Jasmadi didampingi Kabid Produksi, Hamdan menyebutkan, sejumlah areal persawahan di Abdya yang terendam banjir, seperti di Kecamatan Jeumpa, Jeumpa Barat seluas 10 hektar (Ha), Asoe Nanggroe 20 Ha, Ikue Lhueng 60 Ha. Di Kecamatan Susoh meliputi areal persawahan Rubek Meupayong 35 Ha, Padang Panjang 30 Ha, Ladang 40 Ha, Padang Baru 40 Ha dan Ujung Padang 3 Ha.

Untuk Kecamatan Setia, 2 Ha di Tangan-Tangan Cut, dan Mon Mameh 6 Ha. Sementara untuk kawasan Kuta Makmur dan Paya Laot, Kecamatan Manggeng masih dalam proses pendataan.

Kawasan Ikue Lhueng merupakan areal persawahan terluas terendam banjir. Kondisi itu disebabkan, aliran sungai yang berada di kawasan itu menampung sebanyak tujuh aliran anak sungai. Sehingga saat curah hujan tinggi, air dengan cepat meluap dan merendam tanaman padi, bahkan bisa mengamcam pemukiman warga setempat.

“Aliran sungai yang berhulu di Ikue Lhueng cukup banyak, jadi wajar kalau terjadi luapan, karena debit air telah melebihi daya tampung sungai,” sebut Jasmadi yang juga turut dibenarkan Hamdan selaku Kabid Produksi.

Selain itu, banyaknya sungai-sungai di Abdya semakin dangkal, termasuk Muara dan sejumlah saluran. Maka, upaya yang harus dilakukannya yakni proses normalisasi untuk mengangkat sedimen yang telah lama mengendap di dasar sungai.

“Upaya tersebut akan kami bahas dengan instansi terkait, termasuk pimpinan, agar dapat segera terlaksana. Hingga saat ini, kami masih menunggu laporan dari mantri tani dan penyuluh terkait kondisi terkini areal persawahan yang terendam banjir luapan,” demikian tuturnya.(RiZal)

To Top