Lingkungan

12 Tahun Tsunami Aceh Momentum Lestarikan Manggrove

ACEHTERKINI.COM | 12 tahun tsunami Aceh, pada 26 Desember 2016 lalu, merupakan bentuk refleksi musibah gempa dan tsunami Aceh.

Rangkaian kegiatan yang bertema Majukan negeri, bangun budaya siaga bencana masyarakat berupa zikir dan doa, ziarah, pameran foto tsunami dan rekonstruksi Aceh, serta peringatan yang dipusatkan di Masjid Ulee Lheu diharapkan mampu menggugah seluruh masyarakat dan pemerintah daerah untuk membangun kesadaran menuju budaya siaga bencana, Kepala Humas Pemda Aceh (Tempo, 26/12/2016).

aceh tsunami
[ lampost.co ]

Tsunami 2004 di Aceh menjadi bencana kemanusiaan terbesar di Indonesia. Kerusakan dan kerugian gempa dan tsunami Aceh dan Sumatera Utara diperkirakan mencapai 4,4 miliar dolar AS atau Rp42,7 triliun (Tempo, 2005).

Kerusakan mencakup hancurnya 1,3 juta rumah dan gedung, 8 pelabuhan, 4 depot bahan bakar, 120 kilometer jalan, 18 jembatan, dan 92% sistem sanitasi, yang mencapai 2,9 miliar dolar.

Sedangkan kerugian mencapai 1,5 miliar dolar meliputi sektor pertanian, perikanan, industri, lingkungan, pemerintahan, perbankan, transportasi, komunikasi, energi, sanitasi, perumahan, dan pendidikan.

Di Negeri Sakura Jepang, gempa dan tsunami juga dialami di Kobe (1995) dan Sendai (2011).

Bahkan, kerugian gempa di Kobe menimbulkan kerugian ekonomi hingga 100 miliar dolar (Kompas, 2013), yang merupakan bencana alam termahal sepanjang sejarah negeri Jepang.

Upaya menghilangkan bencana alam adalah tidak mungkin, namun upaya mengurangi dampak menjadi sebuah upaya yang harus dilakukan, terutama wilayah yang rawan bencana gempa dan tsunami.

Langkah yang harus dilakukan dalam menghadapi musibah tersebut adalah upaya agar semua pihak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup dalam menghadapi bencana.

Pengalaman menjadi sebuah pelajaran berharga, utamanya kesiapsiagaan masyarakat dan aparat.

Di Jepang, untuk mempertahankan tingkat kesiapsiagaan yang baik, pemerintah melaksanakan sosialisasi, pendidikan, dan pelatihan di sekolah dan masyarakat, dan peningkatan sumber daya manusia aparat baik di tingkat nasional dan daerah secara rutin dan terencana, serta penggunaan teknologi di antaranya melalui sistem deteksi dini (early warning system).

Sistem jaringan komunikasi dan informasi terpadu (integrated network system concerning information and communication).

Hal ini memberikan bukti bahwa Jepang lebih siap dan mampu mengurangi dampak negatif yang timbul dari musibah gempa dan tsunami yang menimpanya.

Hutan Mangrove

Hutan mangrove mampu menahan dan menghambat kerusakan akibat tsunami.

Apabila hutan mangrove tidak ada, dampak yang ditimbulkan akan semakin besar. Hal ini juga dapat dilihat pada daerah yang terkena dampak tsunami Aceh tahun 2004 lalu, terlihat perbedaan antara yang pesisirnya terdapat hutan mangrove yang masih baik dengan pesisir yang terbuka.

Hutan mangrove merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan penting di wilayah pesisir dan laut.

Hal ini terkait dengan hutan mangrove yang memiliki tiga fungsi yaitu ekologi, ekonomi, dan sosial.

Terkait dengan fungsi ekologi hutan mangrove, di antaranya sebagai penahan abrasi dan interusi air laut, penyerap limbah, dan habitat berbagai jenis satwa dan flora.

Dalam rangka meningkatkan peran para pihak dalam pengelolaan ekosistem mangrove, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 73 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove.

Para pihak terkait di antaranya Kementerian Kehutanan (saat ini telah berubah menjadi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Kementertian Kelautan dan Perikanan, serta pihak lainnya.

Pihak-pihak terkait itu dapat tergabung dalam Tim Koordinasi Terpadu Pengelolaan Ekosistem Mangrove guna menyinergikan program dan kegiatan dalam pengelolaan ekosistem mangrove ini.

Ada sebuah harapan dengan keberadaan tim ini ke depan ekosistem mangrove semakin terjaga dengan baik.

Tanam dan Pelihara Mangrove

Dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 24 Tahun 2008 yang salah satunya menetapkan Desember sebagai Bulan Menanam Nasional (BMN), sangatlah tepat pada bulan ini kita secara bersama-sama berbuat dalam perbaikan ekosistem mangrove.

Tidak saja di Aceh, namun di seluruh wilayah Indonesia. Menanam dan memelihara mangrove di seluruh pesisir Nusantara.

Hal ini karena kita harus sadar bahwa negara kita adalah negara maritim dengan lebih dari 17 ribu pulau yang sangat terkait dengan ekosistem hutan mangrove dan hutan pantai.

Di era kepemimpinan Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo, juga telah menetapkan One Map Policy (Kebijakan Satu Peta), sehingga hanya satu lembaga yang memiliki legalitas pembuatan peta.

Dengan demikian, kita memiliki satu peta sebagai rujukan bersama, termasuk Peta Mangrove Indonesia sebagai panduan semua pihak dalam pengelolaan dan pelestarian ekosistemnya.

Beberapa jenis mangrove, khususnya tanaman bakau, yang dapat ditanam di hutan mangrove di antaranya Rhizpora stylosa, Rhizophora apiculata, dan Rhiziphora mucronata menjadi pilihan terbaik dalam merehabilitasi kawasan hutan mangrove.

Hal ini karena perakaran jenis ini yang cukup tangguh dan kuat dalam menahan abrasi dan intrusi air laut, tetapi juga sebagai habitat berbagai satwa, khususnya ikan, udang, dan kepiting yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar.

Saat ini upaya rehabilitasi dan pemeliharaan mangrove telah menjadi program prioritas. Banyak pihak terlibat dalam pelaksanaan di lapangan, di antaranya organisasi pemuda, organisasi pencinta alam, organisasi kemahasiswaan, organisasi profesi, organisasi sosial dan kemasyarakatan juga swasta melakukannya.

Bahkan, beberapa perusahaan mengambil peran ini dalam program CSR (corporate social resposibility).

sumber lampost.co

To Top