internasional

Hari HAM Sedunia GEMPITA Peringati Pelanggaran HAM di Patani

ACEHTERKINI.COM | Bertepatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia (International Human Rights Day) yang jatuh pada  10 Desember ini, Gerakan Mahasiswa Indonesia Peduli Patani (GEMPITA) memperingati Pelanggaran HAM berat di  Patani

Hari HAM Sedunia GEMPITA Peringati Pelanggaran HAM di Patani

Tanggal 10 Desember adalah hari lahirnya Deklarasi Universal HAM (DUHAM)  di mana dalam deklarasi ini DUHAM menyatakan penjanji dari berbagai negara di dunia internasional untuk menghormati, melindungi dan memenuhi Hak Asasi Manusia (HAM) bagi setiap manusia.

Dalam press release yang dikirimkan ke redaksi Acehterkini.com, Aiman bin Ahmad selaku Koordinator GEMPITA menyatakan, “Di hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia (International Human Rights Day) 2016 kali ini, kami Gerakan Mahasiswa Indonesia Peduli Patani (GEMPITA) ingatkan kepada masyarakat di dunia internasional supaya melaksanakan kewajiban-kewajiban Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia (International Human Rights Day).”

Aiman menambahkan “November 1785-2016, genap 231 tahun Muslim Patani (Thailand Selatan) mengalami penindasan, tanah mereka rampas oleh penjajah Thailand, kini mereka hidup penuh dalam keadaan konflik di wilayah Thailand Selatan, mereka tidak bisa mengunakan nama-nama Islam, bahasa melayu dan budaya melayu. Mereka dicabut dari akar budayanya dan dijauhkan dari agamanya.”

“Rakyat Patani mengalami penangkapan, pembunuhan, diancam dengan penculikan, dibatasi semua hak kemanusiaan mereka”. ujar Aiman bin Ahmad

Sebagaimana diketahui bahagian Thailand Selatan telah menjadi daerah paling kental dengan aktifitas militer Thailand dan memiliki sejarah panjang tentang kekerasan yang terjadi terhadap masyarakat Patani (Thailand Selatan).

“Peran mahasiswa menjadi penting ketika terjadi konflik dan membutuhkan kelompok intelektual untuk membangun perdamaian, mahasiswa harus menjadi kelompok terdepan dalam idiealisme bangsa dan kepentingan rakyat, karena itu menjadi penting bagi mahasiswa untuk difasilitasi dalam pengingatan kapasitas intelektual mereka, supaya bisa mendukung gerakan-gerakan sosial yang konstruktif.”, demikian Aiman. []

Editor: Ian Samara.

To Top