Sosial

Sosok presiden harus menjadi kebanggaan kita

ACEHTERKINI.COM | – Presiden, pemimpin tertinggi di Indonesia tidak luput dari kritikan. Hebatnya perkembangan teknologi sangat memudahkan rakyatnya untuk menyampaikan kritikan tersebut. Tidak sedikit kritikan itu disampaikan melalui meme yang terkesan mengejek dan menghina.

Pakar Ilmu Politik Unsyiah: Sosok presiden harus menjadi kebanggaan kita
[ Foto: acehtekrini.com ]

“Sosok presiden harus menjadi kebanggaan kita, ” papar Dr Effendi Hasan MA, Pakar Ilmu Politik Unsyiah saat menjadi pemateri pada Diskusi Publik Proteksi Negara Dalam Menjaga Wibawa Presiden Sebagai Simbol Negara dan Substansi Demokrasi Indonesia di Aula FISIP Unsyiah, Darussalam, Rabu (16/11/2016).

Kata Effendi, masyarakat jangan salah memahami makna bebas berekspresi. Sehingga lahirnya meme yang banyak bernada ejekan. Menurutnya, sistem demokrasi yang berlaku di Indonesia jangan dimaknai sebagai kebebasan mengkritik pemimpin tanpa tanggung jawab dan tidak terkontrol.
“Demokrasi bukanlah sistem yang ideal karena merupakan hasil pemikiran manusia,” pungkasnya.

Harapnya, masyarakat bisa mengimplementasikan nilai-nilai agama, memantapkan pemahaman nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang 1945. Gunanya, kritikan yang disampaikan masyarakat kepada pemimpin lebih terkontrol dan bersifat membangun.

Dua pemateri lain yang mengisi diskusi yakni Nur Anisah MSi dan Kurniawan SH LLM.

Anisah menuturkan, setiap penyampaian kritikan memiliki kode etik. Etikanya seperti menggunakan bahasa yang baik, bersifat membangun, dan menyertakan solusi terhadap masalah.

“Islam telah mengatur bagaimana cara menyampaikan kritikan,” pungkasnya.

Kata Anisah, ribuan tahun lalu Islam telah menjelaskan cara menyampaikan kritikan, bukan mencela. Ia mengutip ayat 11 dalam surat Al-Hujarat di Al-Quran yang menyebutkan,”

Pakar Ilmu Politik Unsyiah: Sosok presiden harus menjadi kebanggaan kita
[ Foto: acehterkini.com ]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

Menurut Kurniawan, meme kritikan terhadap presiden merupakan hasil kreatifitas masyarakat. Namun seharusnya, meme yang dibuat tersebut tidak boleh bersifat ejekan dan hinaan. “Tapi kreatifitas ini harus diarahkan ke yang positif,” imbuhnya.

Tetapi, ia menjelaskan bahwa ejekan terhadap presiden sama dengan mengejek teman sejawat. Sebab, dalam perundang-undangan, tidak ada yang mengatur tentang pelecehan atau pengejekan terhadap presiden

To Top