Politik

Koalisi PA dan Gerindra Abdya Diragukan

ACEHTERKINI.COM | Koalisi Partai Aceh (PA) dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dinilai tidak berjalan mulus dan tidak seperti yang diharapkan. Pasalnya, ada sejumlah pengurus Partai Gerindra tidak yakin akan eksistensi partai dan masih ada yang ragu dan tidak tunduk dengan aturan partai.

Koalisi PA dan Gerindra Abdya Diragukan
Foto: suasana rapat tim pemenangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, Bupati dan Wakil Bupati bersama Kader Partai Gerindra di Abdya [ Foto: Rizal / acehterkini.com ]

“Meskipun begitu, perbedaan itu wajar dan itu merupakan suatu rahmat,” kata Calon Bupati Abdya Erwanto SE MA saat menghadiri acara rapat koordinasi dan pembekalan tim pemenangan terhadap kader Partai Gerindra terkait pencalonan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, Bupati dan Wakil Bupati usungan PA dan Gerindra yang berlansung di Lantai III, Hotel Grand Lauser, Blangpidie, Jum’at (4/11/2016) sore.

Erwanto Calon Bupati Abdya yang diusung PA dan Gerindra itu, mengaku sangat mengetahui betul bagaiman sosok Muzakir Manaf dalam menseleksi Calon Wakil Gubernur yang penuh dengan tantangan dan rintangan dari internal PA dan akhirnya terpilihlah TA Khalid untuk menjadi wakil beliau dengan banyak pertimbangan.

Dipilihnya pendamping Calon Wakil Gubernur dari Partai Gerindra dikarenakan pertimbangan koordinasi dengan pusat harus sejalan sejalur dengan daerah serta Partai Gerindra mempunyai komitmen yang kuat serta garis komando yang jelas dan terarah.

TA Khalid: Jangan Jadi Pecundang

Ketua DPD Gerindra Aceh yang juga Calon Wakil Gubernur Aceh, TA Khalid, mengatakan, kondisi Partai Gerindra di Abdya tidak militansi lagi dan tidak sesuai dengan instruksi pimpinan pusat.

Selaku Ketua Gerindra di Provinsi, harus meluruskan kenapa kader Gerindra banyak berpaling dari yang di instruksikan partai. “Mengaku kader, kok malah mendukung calon lain,” kata TA Khalid.

Instruksi dari DPP Gerindra sudah jelas yang diusung tingkat Provinsi Aceh Muzakir Manaf-TA Khalid, sedangkan tingkat kabupaten Abdya Erwanto-Muzakir. “Itu tidak boleh ditawar-tawar lagi, karena berkoalisi dengan PA itu merupakan sebuah kehormatan sebagai partai lokal yang besar di Aceh,” sambungnya.

Selaku Ketua DPD Partai akan tetap mengindahkan kebijakan pimpinan pusat yang terkomando dan terstruktur. “Lebih baik memiliki sepuluh orang kader sebagai pejuang partai, dari pada, seribu orang tetapi justru jadi pecundang dalam partai,” demikian TA Khalid.

Sementara itu, Wakil Ketua Harian DPD Gerindra Aceh, Safaruddin SSos MSc menyampaikan, konsekwensi kader Gerindra harus ditegakkan. Banyaknya kader Gerindra yang enggan mendukung paslon merupakan suatu pelanggaran anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) partai.

“Siapa yang tidak suka lagi menjadi kader Gerindra silahkan keluar dari partai, karena kader Gerindra harus mendukung calon yang diusung oleh partai, dan itu harus dipatuhi,” ujar Safaruddin singkat dalam acara rapat itu. (Rizal)

To Top