Hukum

Sengketa Tapal Batas, Warga Aceh dan Sumatera Utara Bentrok

ACEHTERKINI.COM | Ratusan warga diwilayah perbatasan Aceh dengan Provinsi Sumatera Utara terlibat bentrok karena perebutan lahan persawahan pada, Selasa (30/8/2016) sekitar pukul 15.00 wib di Kampung Lae Balno, Kecamatan Danau Paris, Kabupaten Aceh Singkil. Dalam peristiwa tersebut, sebanyak empat orang warga terluka sabetan senjata tajam dan hantaman benda tumpul.

Kapolres Aceh Singkil, AKBP Muhammad Ridwan.SIK, Kamis (01/9/2016) mengatakan warga yang terlibat dalam bentrok tersebut merupakan warga kampung Lae Balno, Kecamatan Danau Paris, Kabupaten Aceh Singkil dengan warga dari Desa Saragih Barat, Saragih Timur, dan Tambahan Najur, Kecamatan Manduamas, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Sengketa Tapal Batas, Warga Aceh dan Sumatera Utara Bentrok
Upaya Mediasi Pasca Terjadinya Konflik Tapal Batas di Aceh Singkil

Dalam bentrokan itu, sebanyak tiga sepeda motor dan dua gubuk milik warga Kampung Lae Balno yang berada di areal persawahan di Dusun Perti, Kecamatan Danau Paris Kabupaten Aceh Singkil ikut hangus dibakar oleh kelompok masyarakat asal kecamatan Manduamas Kabupaten Tapanuli Tengah.

Menurut Kapolres, peristiwa itu dipicu oleh sengketa lahan sawah yang menyebabkan terjadi perkelahian. “ada empat korban yang terluka tersebut yaitu Lasniroha Meha dan Toko Berutu, keduanya merupakan warga Lae Balno. Sedangkan kedua orang warga lainnya adalah Belprima, warga desa Sarmanauli dan Muler Berutu yang merupakan warga desa Saragih Barat Kecamatan Manduamas,kabupaten Tapanuli Tengah,” kata M. Ridwan.

Kapolres menjelaskan bentrokan antara kelompok masyarakat itu bermula saat sekitar 50-an warga desa Saragih Barat, Desa Saragih Timur, Desa Tambahan Najur, dan warga dari Desa Sarmanauli, menanam padi di lokasi kejadian, tepatnya di Dusun Perti, Kampung Lae Balno, Kecamatan Danau Paris Kabupaten Aceh Singkil yang jika dilihat dari geografis dan administrasi lokasi lahan persawahan itu berada di wilayah hukum Pemerintah Provinsi Aceh.

Tidak terima kawasan mereka ditanami padi oleh warga dari provinsi lain, tiba-tiba sekelompok masyarakat tani dengan jumlah enam orang yang merupakan warga Kampung Lae Balno Kecamatan Danau Paris itupun melakukan penghadangan dengan mengunakan parang panjang.

Akibatnya bentrokan itupun terjadi, hingga jatuh korban dipihak warga kecamatan Manduamas atas nama Belprima yang terkena sabetan di bagian leher dan pahanya.

Sengketa Tapal Batas, Warga Aceh dan Sumatera Utara Bentrok
Lokasi Kejadian Terjadinya Konflik Tapal Batas di Aceh Singkil

Melihat pihaknya sudah ada korban, lalu kelompok masyarakat tani itupun pada berlarian menyebar ke perkampungan masing-masing guna menyelamatkan diri.

Menurut Kapolres, tidak lama berselang, warga asal Kecamatan Manduamas yang tadinya sempat berlarian kembali kelokasi persawahan dengan membawa masa sekitar 150 orang mendatangi kelompok masyarakat tani yang berjumlah enam orang yang merupakan warga Kampung Lae Balno.

Perkelahian yang tidak seimbang itupun kembali terjadi di tengah areal persawahan yang berujung kedua belah pihak mengalami luka-luka serius. Begitu menyadari diantara kedua belah pihak ada yang jatuh korban, maka para warga itu pun mulai mundur, sehingga perkelahian tidak sempat berlanjut.

Pasca bentrokan tersebut, membuat para personil polisi dari Polres Aceh Singkil dan Polres Tapanuli Tengah yang dibantu dari para personel TNI bertindak cepat menenangkan situasi.

Bukan hanya itu, para personil dari TNI-Polri sampai saat ini masih disiagakan mencegah terjadinya konflik susulan antar kedua belah pihak. Sehingga situasi yang semula diwilayah perbatasan tersebut sempat mencekam, saat ini hingga memasuki 1 September 2016 telah mulai berangsur kondusif.

Upaya Mediasi

Pemerintah kabupaten Aceh Singkil dan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah mengelar pertemuan guna memediasi kedua kelompok yang bertikai bertempat  di Wisma PT Nauli Sawit Desa Tambahan Nanjur, Kecamatan Manduamas, kabupaten Tapanuli Tengah provinsi Sumatera Utara, Rabu (31/08/2016).

Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Setdakab Aceh Singkil, Drs, Azmi, unsur Muspika Danau Paris,  Muspika Manduamas, tokoh masyarakat, tokoh adat, perwakilan masyarakat yang bertikai, pihak perusahaan dan insan pers.

Sekda Aceh Singkil, Drs Azmi menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak. Menurutnya, bentrokan yang terjadi antara kedua kelompok masyarakat asal Aceh dan Sumut itu disebabkan adanya kesalahpahaman antar masyarakat pada dua daerah perbatasan terkait salah dalam penafsiran tentang pengarapan dan kepemilikan lahan/tanah.

Dijelaskannya, permasalahan sengketa lahan /tapal batas di wilayah perbatasan ini merupakan ranahnya pihak pemerintah. “masalah ini kita percayakan penanganannya kepada pihak kepolisian,” ujar Sekda.

Ia mengajak kepada semua pihak agar permasalahan yang telah terjadi tersebut untuk dapat diselesaikan dengan kepala dingin dan musyawarah serta mufakat karena pihak yang bertikai masih satu rumpun tali persaudaraan.

Upaya mediasi tersebut merupakan tindak lanjut pasca konflik lahan tapal batas di Kecamatan Danau Paris Kabupaten Aceh Singkil dengan Kecamatan Manduamas Kabupaten Tapanuli Tengah.

Bukan hanya itu dalam pertemuan tersebut, kedua pihak pemerintah daerah itu akan melakukan pertemuan lanjutan dalam menyelesaikan permasalahan yang nyaris merengut korban jiwa. (Jamaluddin)

To Top