Lingkungan

Revisi Zona Inti TNGL, LSM Tidak Boleh Melihat Kepentingan Satwanya Saja

ACEHTERKINI.COM | Menanggapi kekhawatiran para aktivis lingkungan terkait permintaan Pemerintah Aceh kepada Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) merevisi sebagian zona inti menjadi zona pemanfaatan untuk pengembangan potensi panas bumi yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL), Kepala Dinas Kehutanan Aceh, Ir Husaini Syamaun, MM meminta para aktivis lingkungan agar tidak khawatir dan melihat kepentingan lingkungan secara menyeluruh.

Revisi Zona Inti TNGL, LSM Tidak Boleh Melihat Kepentingan Satwanya Saja
Kepala Dinas Kehutanan Aceh, Husaini Syamaun

Husaini menjelaskan, Pemerintah Aceh meminta Kementerian LHK untuk mengevaluasi sejauh mana fungsi zona inti tersebut benar–benar sebagai lokasi dimana satwa langka berada.

Kalau ternyata hasil evaluasi daerah tersebut kurang cocok sebagai zona inti, maka lebih baik direvisi atau digeser ketempat yang memang banyak satwa sehingga panas bumi dapat di manfaatkan.

“Usulan revisi adalah untuk di evaluasi, barangkali akan lebih menguntungkan kedepan baik untuk kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati didalamnya maupun untuk kepentingan umat manusia di planet bumi ini,” kata Husaini Syamaun dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/8/2016).

Pemanfaatan panas bumi kata Husaini merupakan program strategis nasional yang ramah lingkungan atau energi hijau.

“Barangkali setelah dievaluasi ternyata lebih tepat atau lebih Besar manfaatnya bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Husaini.

Husaini mengatakan, sebelum mempersiapkan surat yang ditujukan kepada Kementrian LHK, Pemerintah Aceh sudah terlebih dahulu berkoordinasi dengan Kepala Balai Besar Taman Nasional.

Menurutnya, LSM yang bergerak dibidang satwa atau para aktivis lingkungan tidak boleh hanya melihat kepentingan satwa saja, tapi harus melihat kepentingan secara menyeluruh.

Jika  energi panas bumi dapat dikembangkan di kawasan tersebut, Pemerintah Aceh kata Husaini, tidak perlu lagi mengejar-ngejar penebang kayu untuk kayu bakar penyulingan sere wangi karena sudah ada energi listrik panas bumi.

“Energi Hijau ini sangat membantu planet Bumi melalui pengurangan emisi gas rumah kaca, menghambat kenaikan suhu rata secara global, pada akhirnya juga melestarikan hutan untuk kepentingan manusia termasuk satwa langka,” Pungkas Husaini.

Sebelumnya WALHI Aceh secara tegas mengkritisi surat Gubernur Aceh nomor 677/14266 tanggal 16 Agustus 2016 terkait dukungan pengembangan potensi panas bumi oleh PT.  Hitay Panas Energy itu.

Dalam surat itu, Gubernur Aceh, Zaini Abdullah memohon agar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) merevisi sebahagian zona inti TNGL menjadi zona pemanfaatan dan memberi izin kepada PT. Hitay Panas Energy untuk melakukan eksplorasi.

Menurut Direktur WALHI Aceh, Muhammad Nur kawasan TNGL  yang dimohonkan oleh Gubernur Aceh, Zaini Abdullah itu adalah Cagar Biospher dan ASEAN Heritage Park yang merupakan  satu-satunya kawasan hutan di dunia yang menjadi habitat bersama Gajah Sumatera, Badak Sumatera, Harimau Sumatera dan Orangutan yang tersisa di dunia. [Ate]

To Top