Lingkungan

Revisi Zona Inti TNGL di Gayo Lues, WALHI “Lawan” Gubernur Aceh

ACEHTERKINI.COM | Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Aceh secara tegas menyatakan menolak perubahan zonasi inti Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Gayo Lues untuk pengembangan Potensi Panas Bumi oleh PT. Hitay Panas Energy.

WALHI menilai masalah itu akan memperburuk kerusakan yang terjadi di TNGL dan mengancam sumber air serta sumber ekonomi masyarakat setempat.

Direktur WALHI Aceh, Muhammad Nur melayangkan surat kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta, Selasa (23/8/2016) yang ditembuskan juga kepada Presiden RI, Joko Widodo.

Revisi Zona Inti TNGL di Gayo Lues, WALHI “Lawan” Gubernur Aceh
Ilustrasi

Walhi mendesak agar Menteri LHK, Siti Nurbaya menolak surat Gubernur Aceh nomor 677/14266 tanggal 16 Agustus 2016 terkait dukungan pengembangan potensi panas bumi oleh PT.  Hitay Panas Energy itu.

Dalam surat itu, Gubernur Aceh, Zaini Abdullah memohon agar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) merevisi sebahagian zona inti TNGL menjadi zona pemanfaatan dan memberi izin kepada PT. Hitay Panas Energy untuk melakukan eksplorasi.

“Ini bukanlah sikap yang bijak dari seorang gubernur, dan akan menjadi preseden buruk dimasa yang akan datang,” kata M. Nur dalam siaran tertulisnya, Selasa (23/8/2016).

Menurut M. Nur pada faktanya kawasan TNGL pada saat ini terus dirusak oleh kegiatan penebangan liar, perkebunan liar baik dalam skala kecil maupun besar tanpa mampu dihentikan oleh otoritas terkait yang berwenang untuk melakukan penegakkan hukum.

“Kita patut khawatir pemberian izin eksplorasi kepada PT Hitay Panas Energy  di zona inti akan memperburuk  kerusakan yang terjadi di TNGL, seperti pembagunan fisik diantaranya pembagunan jalan yang akan menuju zona inti yang akan mempermudah akses pencurian kayu, perambahan dan aktifitas illegal lainnya,” kata M. Nur.

Kawasan TNGL  yang dimohonkan oleh Gubernur Aceh, Zaini Abdullah itu adalah Cagar Biospher dan ASEAN Heritage Park yang merupakan  satu-satunya kawasan hutan di dunia yang menjadi habitat bersama Gajah Sumatera, Badak Sumatera, Harimau Sumatera dan Orangutan yang tersisa di dunia.

“Masalah itu juga akan mengancam sumber air dan sumber ekonomi masyarakat sekitarnya yang sebagian bergantung pada pemanenan ikan air deras,” tambah Direktur WALHI Aceh, M. Nur.

Sebelumnya Gubernur Aceh, Zaini Abdullah selaku Kepala Pemerintahan Aceh merencanakan pengembangan potensi panas bumi di Gayo Lues bersama PT. Hitay Panas Energy. Namun terkendala karena arealnya berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan terindikasi berada pada zona inti.

Atas kendala itu, Gubernur Aceh menyurati Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar berkenan merevisi sebahagian zona inti menjadi zona pemanfaatan dan dapat memberikan izin kepada PT. Hitay Panas Energy melakukan eksplorasi potensi panas bumi. Permintaan Gubernur Aceh ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2015, pemanfaatan panas bumi dapat dilakukan pada kawasan taman nasional. [Red]

To Top