Pendidikan

73 Sarjana STIT Muhammadiyah Abdya di Wisuda

ACEHTERKINI.COM | Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Aceh Barat Daya (Abdya) mewisudakan 73 mahasiswa dan mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). Wisuda ke V Program Strata Satu (S1) itu, berlangsung di Gedung Serba Guna SMA Tunas Abdya, Kompleks Pendidikan, Padang Meurante, Kecamatan Susoh, Kabupaten setempat, Kamis (25/8/2016).

Prosesi wisuda turut dihadiri Pimpinan Wilayah Muhamadiyah Aceh , Prof H Alyasa Abukar, MA, Koordinator Kopertais Wilayah V Aceh, Muhibud Thabari MA,  Sekda Abdya, Drs Ramli Bahar, Ketua Badan Pengurus Harian STIT Muhammadiyah, Mismahruddin Mahdi dan keluarga besar civitas akademika STIT Muhammadiyah.

73 Sarjana STIT Muhammadiyah Abdya di Wisuda
Ketua STIT Muhammadiyah Abdya Mukhlis MS MA memindahkan tali toga pada salah satu mahasiswi yang diwisuda menjadi Sarjana Pendidikan Agama Islam (SPdI), Kamis (25/8). 

Dalam kesempatan itu, Ketua STIT Muhamadiyah Abdya, Mukhlis MS MA menyampaikan, semua lulusan kali ini masih didominasi oleh jurusan PAI, sedangkan jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) belum bisa menghasilkan lulusan karena baru menerima mahasiswa angkatan ke tiga.

“Untuk dapat bersaing dengan perguruan tinggi lainnya, kami telah mendorong para dosen untuk meningkatkan kualifikasi keilmuan dengan mengikuti program S2 dan S3 dan hal itu telah tercapai,”katanya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Pimpinan Wilayah Muhamadiyah Aceh , Prof H Alyasa Abukar MA menyampaikan, pendidikan tidak harus berakhir sampai dengan tahap wisuda saja, dimana persaingan kedepan akan semakin berat.

“Nantinya seluruh perguruan tinggi di Indonesia akan membuat sertifikat pendamping ijazah yang menyatakan keahlian wisudawan. Sertifikat dimaksud sama pentingnya dengan ijazah, dan kemungkinan akan segera diberlakukan,”tuturnya.

Secara singkat, Sekda Abdya, Drs Ramli Bahar dalam sambutannya menyampaikan, perguruan tinggi harus mampu membuahkan pribadi-pribadi yang bisa melahirkan etos kerja dan motivasi yang tinggi, kreatif dan inovatif. Karena pendidikan di Indonesia umumnya dan khususnya Abdya, masih mencari cara dan strategi, sementara daerah lain sudah mempopulerkan keahliannya masing-masing.

“Saat ini bukanlah akhir perjuangan bagi mahasiswa STIT Muhammadiyah Abdya, tapi mulai hari ini adalah perjuangan memperlihatkan hasil yang sudah dipelajari selama beberapa tahun duduk di bangku perkuliahan. Diharapkan para sarjana tidak hanya siap bekerja tetapi juga siap menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat,” demikian harapnya. (Rizal)

To Top