Sosial

Putra Berdarah Aceh Ini Dapat Gelar Professor Dari Kampus China

ACEHTERKINI.COM | Mungkin tak banyak yang tahu bila mantan menteri perhubungan era SBY yang kini menjabat komisaris utama PT Garuda Indonesia Tbk, Jusman Syafii Djamal mendapat gelar kehormatan profesor.

Pada 4 Maret lalu, Rektor Zhejiang University of Technology and Science, menganugerahi Jusman gelar profesor (kehormatan). Lantaran, alumni ITB ini, berhasil memberikan sumbangsih intelektual serta perannya membangun kerjasama riset dan teknologi bagi Indonesia dan Cina.

Atas prestasi ini, Rektor Zheziang University of Technology and Science, Cai Yuan Qiang memberikan langsung sertifikat penghargaan profesor kepada Jusman.

Usai mendapat gelar profesor, Jusman yang juga mantan Dirut PT Dirgantara Indonesia (DI) ini, diminta untuk memberikan kuliah umum mengenai perbandingan pengalaman Indonesia dan Cina selama 25 tahun membangun industri teknologi maju.

Dalam kesempatan ini, hadir 400 civitas akademi perguruan tinggi tersebut.

Putra Berdarah Aceh Ini Dapat Gelar Professor Dari Kampus China
Jusman Syafii Djamal

Dalam acara ini, sejumlah pejabat turun menyanksikan diantaranya Konsul Jenderal RI untuk Shanghai Kenssy D Ekaningsih, Sekretaris Dewan Pertimbangan Presiden Kemal Taruc, anggota Dewan Pertimbangan Presiden Suharso Monoarfa, dan Kepala Badan Otorita Batam Mustafa Wijaya.

“Penghargaan ini diberikan atas sumbangsih intelektual dan kerjasamanya, tetapi juga persahabatan bagi dua negara di masa-masa mendatang,” kata Cain Yuan Qiang.

Dalam pidatonya Jusman mengatakan, akuisisi teknologi akan mendorong terciptanya kreativitas dan inovasi, namun juga memunculkan perubahan struktural dan ketidakpastian dalam kehidupan. Lantaran, menyangkut produk baru, investasi, profit, suplai dan mekanisme pasar.

“Disinilah muncul dua paradigma yang dianut Indonesia dan China. Indonesia memilih pola technology driven yang dilaksanakan secara bertahap, sedangkan China menganut market driven yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan,” kata mantan Menteri Perhubungan itu.

Kata pria berdarah Aceh ini, Indonesia dan Cina, memiliki kesamaan orientasi dalam membangun teknologi majunya. Namun demikian dalam perjalanannya dan kebijakan yang diambil justru berbeda yang disebut Indonesia ways dan Cina ways.

Selanjutnya Jusman menceritakan latar belakang yang membuat China dan Indonesia berbeda style. Cina memulainya di era Deng Xiao Ping yang memilih untuk membangun daerah-daerah perkotaan (metropolitan), namun melengkapinya dengan menciptakan kawasan khusus terpadu seperti industrial zone, areal komersial, kawasan perumahan serta industri pariwisata, dimana kebutuhan pasar dan teknologi bisa bertemu.

“Cina dengan cepat akhirnya memiliki kawasan-kawasan khusus seperti Guandong, Shenzen, dan Fujian dan berkembang menjadi kawasan untuk ekspor. Kawasan-kawasan tersebut memberikan fleksibilitas untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar. Proses akuisisi teknologi maju dilakukan melalui kebijakan dan mekanisme yang berlaku di pasar,” kata Jusman.
Sedangkan Indonesia, kata Jusman, mengawali akuisisi teknologi maju dengan langsung membangun pabrik perakitan elektronik hasil kerjasama dengan perusahaan asing untuk bisa dinikmati hasilnya.

Baru kemudian berlanjut ke era pembangunan industri pesawat terbang di Bandung. Hal itu dimulai dengan modal lisensi dari CASA Spanyol dan Bell Helicopter serta Superpuma dari Perancis, baru kemudian mendisain sendiri pesawat turboprop N250.

Dalam pandangan Jusman, ide menjalankan akuisisi teknologi maju baik China dan Indonesia berawal dari fenomena formasi terbang burung angsa (Flying Geese)formasi terbang berbentuk huruf “V” yang mampu memberikan daya dukung bagi seluruh kawanan agar dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh ketimbang setiap angsa harus terbang sendiri-sendiri.

“Logika dari formasi terbang burung angsa adalah menekankan pentingnya mengelola pasar secara bertahap mulai dari tahapan nasional hinga ke tahap regional yang didukung sektor terkait lainnya dalam mengembangkan suatu industri maju. Kini, saatnya baik China dan Indonesia menciptakan landskap pembangunan ekonomi bersama dengan bisnis model baru, sekaligus membangun industri teknologinya,” kata Jusman. [inilah]

To Top