Ekonomi

Tak Ada Irigasi, Areal Sawah di Abdya Jadi Lahan Tidur

ACEHTERKINI.COM | Akibat tidak maksimalnya suplai air, sekitar 200 hektar (ha) areal persawahan di kawasan Desa Ie Mirah, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) hingga beberapa tahun terakhir tidak pernah digarap dan dibiarkan menjadi lahan tidur oleh petani setempat.

Para petani memanfaatkan areal persawahan untuk lokasi gembala hewan ternak.

Informasi yang dihimpun acehterkini, Jumat (26/2/2016), lahan tersebut awalnya memang merupakan lahan pertanian produktif yang setiap musim tanam digarap oleh petani.

Tak Ada Irigasi, Areal Sawah di Abdya Jadi Lahan Tidur

Namun dikarenakan kondisi sawah yang tidak dilengkapi dengan irigasi maka lahan tersebut dibiarkan terlantar begitu saja.

“Hampir delapan tahun lamanya, lahan itu tidak pernah digarap, sehingga kondisinya saat ini hanya ditumbuhi semak belukar dan dijadikan untuk gembala hewan ternak,” ujar Herman warga Kecamatan Babahrot.

Ditambahkan, jika pemerintah memiliki perhatian khusus meningkatkan produktifitas padi, tentunya irigasi perlu dibangun sebagai upaya mensejahterahkan petani setempat.

“Saya rasa tak perlu sibuk untuk cetak sawah baru, sementara lahan yang telah ada saja belum bisa dimanfaatkan dengan optimal, salah satunya mesti adanya irigasi yang maksimal,” singkatnya.

Mananggapi hal itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Abdya, Maswadi membenarkan adanya areal sawah di Babahrot sudah tidak bisa dimanfaatkan sebagai lahan bercocok tanam.

Kata Maswadi, persoalan tersebut karena kondisi lahan itu sering dilanda banjir luapan dan kalau musim kemarau areal itu mengalami kekeringan.

Selain itu, 100-an hektar sawah memang tidak memiliki saluran air yang memadai, sehingga suplai air tidak maksimal. Namun, pihaknya telah mencoba melakukan musyawarah dengan masyarakat agar lahan tersebut diaktifkan kembali, dengan membangun saluran yang memadai sebagai penunjang keberhasilan tanam padi.

Akan tetapi, masyarakat setempat menolak dengan alasan, lokasi itu telah dijadikan sebagai tempat mengumpulkan pakan ternak sekaligus sebagai tempat ternak mereka berkeliaran.

“Memang lahan itu milik masyarakat, dimana sebelumnya merupakan lahan produktif. Namun telah lama tidak digunakan akibat tidak adanya saluran yang memadai. Kami telah menawarkan untuk mengembalikan fungsi awal lahan, namun banyak yang keberatan dan beralasan lokasi itu sebagai tempat masyarakat melepaskan ternaknya,” demikian Maswadi. (Rizal)

To Top