Ekonomi

Pabrik Panasonic dan Toshiba Tutup

ACEHTERKINI.COM | Dominasi Tiongkok dan Korea Selatan di sektor elektronik mulai memakan korban. Dua raksasa elektronik asal Jepang, Toshiba dan Panasonic terpaksa harus menutup pabrik mereka di Indonesia. Akibat hal itu ada lebih dari 2500 karyawan yang akan diputus masa kerjanya.

”Sebetulnya keputusan mereka dilakukan sejak tahun lalu. Hanya, penyelesaian hak-hak karyawannya memakan waktu cukup lama sehingga baru terdengar sekarang. Tentu ada ribuan yang harus dirumahkan,” ujar Ketua Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) Ali Oetoro. Selasa (2/2/2016).

Pabrik Panasonic dan Toshiba Tutup

Berdasar laporan yang diterima Gabel, pabrik televisi Panasonic di Indonesia ditutup seiring dengan penutupan pabrik-pabrik Panasonic di berbagai negara.

Itulah keputusan bisnis prinsipal Panasonic Jepang untuk beralih fokus memproduksi chips.

”Bukan karena industri elektronik di Indonesia sedang memburuk,” jelasnya.

Pabrik televisi Toshiba di Cikarang tahun lalu dijual ke perusahaan Tiongkok. Sekarang mereka memproduksi televisi dengan merek Sky Worth untuk pasar dalam negeri. ”Itu murni keputusan bisnis karena Toshiba ingin fokus ke bisnis yang lebih menguntungkan,” kata Ali.

Pasar televisi di Indonesia, menurut dia, masih tetap seperti biasa. Hanya, sekarang ini produk televisi merek Jepang mendapat banyak saingan dari pabrikan asal Korea dan Tiongkok yang menawarkan harga kompetitif dan produk berkualitas. ”Pasar televisi di Indonesia bergeser ke merek Korea dan Tiongkok beberapa tahun ini,” tuturnya.

Pabrik lampu hemat energi (LHE) juga ditutup Panasonic lantaran dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sekarang ini pasar sedang meminati produk lampu LED (light-emitting diode) yang konsumsi listriknya lebih irit.

”Kemudian, Panasonic memutuskan mensubkontraktorkan produksi lampu LED-nya di Tiongkok,” ungkap dia.

Menurut Ali, langkah Panasonic itu termasuk telat karena kompetitornya, Philips, sudah melakukan subkontraktor produksi lampu ke Tiongkok. Langkah tersebut dinilai wajar lantaran dalam biaya produksi dianggap lebih efisien. ”Untuk produk televisi dan lain-lain, pabrik Panasonic masih jalan seperti biasa,” paparnya. [jpnn]

To Top