Sosial

Musda Muhammadiyah Ke-III Abdya Berlangsung Satu Hari

ACEHTERKINI.COM | Musyawarah Daerah (Musda) Ke-III Muhammadiyah, ‘Asyiyah dan Nasyiatul ‘Asyiyah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) berlangsung Aleuhat (21/2/2016) di Halaman Mesjid At-Taqwa, Desa Kedai, Kecamatan Manggeng, Kabupaten setempat, dengan mengusung tema “Meneguhkan Konsitensi Bermuhammadiyah Menuju Islam Berkemajuan”.

Dalam acara itu tampak hadir, Wakil Bupati Abdya Erwanto SE MA, mewakili unsur Forkompinkab Abdya, Ketua Pengurus Wilayah (PW) Muhammadiyah Aceh, Dr H Aslam Nur LML MA, Ketua dan Sekretaris Pengurus Daerah (PD) Muhammadiyah Abdya Drs Ramli Bahar dan Yusman Ablad, para pengurus PD Muhammadiyah ‘Asyiyah dan Nasyiatul ‘Asyiyah.

Musda Muhammadiyah Ke-III Abdya Berlangsung Satu Hari
Ketua Muhammadiyah Aceh, Aslam Nur Membuka Musda Ke-III di Abdya, Aleuhat (21/2/2016)

Dalam kesempatan itu, Ketua PD Muhammadiyah Abdya Drs Ramli Bahar menyampaikan, organisasi Muhammadiyah tidak terikat dengan partai politik manapun, namun Muhammadiyah mengijinkan kadernya untuk berpartisipasi dalam politik.

Dikatakan Ramli, diperkirakan sekitar 300 lebih perguruan tinggi di bawah payung Muhammadiyah tersebar diseluruh Indonesia, begitu banyak amal pendidikan yang didirikan oleh Muhammadiyah.

“Maka dari itu, kita berharap tidak ada yang salah persepsi dengan Muhammadiyah, selagi masih berpodoman pada Al-Quran dan Sunnah tidak perlu dipertentangkan, terkecuali sudah menyimpang menurut kedua pedoman itu,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua PW Muhammadiyah Aceh Dr H Aslam Nur LML MA, dalam sambutan sekaligus membuka kegiatan Musda itu, menyampaikan, sejak pertama berdiri pada tahun 1912, Muhammadiyah sudah mencanangkan, bahwa organisasi Islam itu bukan hanya di Djogjakarta aja, akan tetapi berkembang keseluruh Nusantara. Ide-ide mendirikan itu sudah pernah terpikirkan oleh masyarakat Aceh sejak tahun 1921 silam.

“Sehingga pada tahun 1927 Organisasi Muhammadiyah mulai berkembang dan berdiri di Aceh dengan Ketuanya ketika itu Tgk Muhammad Hasan Geulumpang Payong, dimana, Muhammadiyah sudah exis jauh sebelum Indonesia Merdeka,” tuturnya.

Khusus untuk wilayah Pantai Barat Selatan, lanjut Aslam Nur, ada versi lain. Sebenarnya ide-ide Muhammadiyah sudah masuk sejak 1917 silam. ”Karena itu berdesarkan sejarah ini, apa yang ingin kita katakan, kalau ada orang tidak faham tentang Muhammadiyah, maka disini salah kita bahwa tidak memberikan pengetahuan tentang Muhammadiyah ke generasi selanjutnya,” ujarnya singkat.

Dalam teknis pemilihan nanti, secara singkat Ketua Panitia Pelaksana Pemilihan Musyda Muhammadiyah Abdya H Syamsidik Ibrahim, menjelaskan, masing-masing cabang akan mengusulkan 11 orang, sehingga terseleksi 28 orang.

Setelah dikumpulkan nantinya akan terpih peserta Musda sebanyak 11 orang (fomatur). Baru dalam fomatur itu nanti akan dirembuk siapa yang layak untuk dijadikan ketua.

“Tidak menjadi patokan bahwa suara terbanyak menjadi ketua. Namun tetap hasil dari formatur,” demikian singkatnya.

Sampai berita ini diturunkan, prosesi Musda untuk pemilihan ketua terus berlangsung hingga sore dan ditutup pada pukul 20.00 WIB malam. (Rizal)

To Top