Sosial

Kebijakan Pemerintah Belum Menyentuh Persoalan Perempuan di Aceh

ACEHTERKINI.COM | Solidaritas Perempuan (SP) Aceh tetap terus berkomitmen membangun gerakan dalam rangka mewujudkan kedaulatan perempuan di Aceh. Hal itu disampaikan Ketua SP Aceh, Ratna Sari pada peringatan HUT Solidaritas Perempuan ke-25, Kamis (10/12/2015).

Ratna Sari mengatakan HUT SP tahun ini mengangkat tema “25 Tahun Solidaritas Perempuan: Bergerak Bersama Memimpin Gerakan, Wujudkan Kedaulatan Perempuan”.

Ratna menambahkan peringatan hari jadi SP tahun ini diperingati secara sederhana bersama para anggota, pengurus dan aktifis PSP serta perempuan akar rumput secara serentak di 14 wilayah di Indonesia.

SP Aceh selama ini konsen dengan isu-isu perempuan dan konflik sumber daya alam dan politisasi agama.

Bersama komunitas perempuan di 17 desa di Aceh Besar and 7 desa di Bener Meriah, SP Aceh melihat masih banyak persoalan yang dialami oleh perempuan, salah satunya lemahnya akses dan kontrol perempuan terhadap dirinya dan sumber-sumber kehidupan yang mengakibatkan perempuan Aceh semakin termarjinalkan.

“Lahirnya kebijakan yang diskriminatif masih membatasi akses perempuan terhadap ruang-ruang publik,” ujar Ratna Sari.

Kebijakan yang dilahirkan pemerintah belum menyentuh persoalan dasar bagi perempuan, seperti akses terhadap pendidikan, ekonomi, dan dalam pembangunan berkelanjutan lainnya.

“Perempuan kerap dijadikan objektifitas dari program yang ada, bukan sebagai subjek pembangunan itu,” ujar Ratna Sari.

Ratna Sari bersama 781 anggota Solidaritas Perempuan mendesak negara untuk melakukan evaluasi terhadap kebijakan dan program pemerintah yang menghilangkan kedaulatan perempuan khususnya di Provinsi Aceh.

“Kami berharap agar pemerintah membangun kebijakan yang menjamin perlindungan, penghormatan dan pemenuhan hak asasi perempuan di segala aspek,” pinta Ratna Sari.

Enam Orang Perempuan Mendapat Penghargaan

Sebanyak enam orang perempuan Aceh mendapat penghargaan di Hari Ulang Tahun (HUT) Solidaritas Perempuan Aceh ke– 25, pada Kamis (10/12/2015) di Resto Café Lampuuk, Kabupaten Aceh Besar.

Kebijakan Pemerintah Belum Menyentuh Persoalan Perempuan di Aceh
Enam Perempuan Aceh Ini Mendapat Penghargaan di HUT SP Aceh ke-25, 10 Desember 2015. 

Penghargaan ini diberikan sebagai tanda terima kasih Perserikatan Solidaritas Perempuan (PSP) atas pengabdian dan pengorbanannya membela hak-hak perempuan di Aceh.

Enam orang perempuan yang mendapat penghargaan itu adalah, Mardhiah Amin dari Leupung, Desa Dayah Mamplam, Aceh Besar yang mendapat penghargaan akar rumput.

Kemudian Sani, dari Kabupaten Bener Meriah. Ia dikenal sebagai perempuan Aceh yang gigih berjuang semasa konflik Aceh tahun 2007 sampai hari ini.

Selanjutnya penghargaan yang lain juga diberikan kepada para anggota yang membangun loyalitasnya kepada organisasi perempuan di Aceh, yaitu Rosnidar, (Alm) Nurmala, Puspa Dewi dan Mukramati. [Edi]

To Top