Ekonomi

Hasil PAD Sedot Tinja Ditutupi, BLHKP Abdya Membantah

ACEHTERKINI.COM | Oknum di Badan Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (BLHKP) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) diduga menutupi laporan maupun realisasi pendapatan asli daerah (PAD) dari sumber penyedotan tinja, karena hingga penghujung tahun 2015 realisasinya tidak jelas dan setoranya juga sangat kecil ke Kas daerah.

Data dari BLHKP setempat, menyebutkan kalau, ongkos sedot tinja itu dikutip tergantung banyak cincin sumur dari lobang WC. Untuk satu cincin pemilik atau warga harus membayar beban sebesar Rp.100 ribu, jika ada 4 cincin, maka harus membayar Rp 400 ribu.

Hasil PAD Sedot Tinja Ditutupi, BLHKP Abdya Membantah
Ilustrasi 

“Biasanya warga di Abdya banyak menggunakan cicin sumur WC, antara 3 sampai 5 cincin, terkadang ada juga hingga 7 cicin,”kata salah seorang staf di BLHKP Abdya yang meminta identitasnya disembunyikan, Selasa (29/12/2015).

Dikatakannya, terkadang petugas mampu menyedot delapan sumur dalam satu hari, dan itu bukan hanya cicin sumur saja.

Bahkan, ada juga rumah warga yang membuat lubang WC berbentuk bak segi empat, maka biaya yang dikenakan sebagai ongkos sedot bisa bisa mencapai diatas Rp.500 ribu tergantung luas diameternya.

Sayangnya, sejak bulan Januari hingga penghujung Desember 2015, pertanggung jawaban hasil sedot tinja yang dikatakan menjadi sumber andalan PAD dari BLHKP Abdya tersebut tidak jelas. Bahkan, setoran PAD ke Kas daerah juga diketahui sangat kecil, tidak mencapai 20 persen dari target PAD yang dibebankan.

“Kita para staf disini pernah menanyakan masalah tersebut baik kepada Kepala Badan maupun Kepala Bidang, namun jawaban mereka, kalau itu urusan kami, bukan urusan kalian para staf,”sebut sumber itu lebih lanjut.

Terkait dengan hal itu, Kepala Bidang Kebersihan BLHKP Abdya Usman Adami yang dimintai tanggapannya terpisah membantah keras terkait tudingan ketidakjelasan laporan realisasi PAD dari hasil penyedotan tinja dimaksud.

“Jelas kok, siapa bilang tidak jelas, data-datanya lengkap, dan tidak ada yang ditutup-tutupi,” katanya dengan tegas.

Namun saat awak media meminta data hasil sedot tinja tersebut, Usman Adami tidak dapat menunjukkan data-data yang dibanggakannya itu, dengan alasan hingga saat ini, data-data dimaksud belum direkap.

Malahan katanya, untuk menunjukkan data tersebut, pihaknya harus minta izin dulu pada Kepala Badan hingga izin Bupati. “Maaf saya hanya mampu menyampaikan sebatas itu,”ujarnya singkat. (Rizal)

To Top