Sosial

Bahasa Lokal Aceh Terancam Punah, Ini Sebabnya

ACEHTERKINI.COM | Bahasa lokal di Aceh terancam semakin tergerus dikalangan anak-anak muda karena intensitas penuturannya semakin hari semakin berkurang. Hal ini disebabkan karena pergaulan, perpindahan anak-anak muda dari desa ke kota juga termasuk karena perkawinan silang.

Ini mencuat dalam konperensi pers yang digagas panitia Kongres Peradaban Aceh (KPA) di Skala and Tea Café Banda Aceh, Selasa (8/12/2015). Mustafa Ismail, panitia Kongres Peradaban Aceh mengatakan, banyak anak-anak muda tidak lagi menuturkan bahasa lokalnya dalam pergaulan maupun saat berpindah dari desa ke kota.

Bahasa Lokal Aceh Terancam Punah, Ini Sebabnya
Mustafa Ismail 

“Ini yang menjadi keresahan di kalangan masyarakat, kita akan mendorong anak-anak muda agar jangan malu dengan bahasa lokalnya masing-masing,” kata Mustafa Ismail.

“Kita harus bangga dengan bahasa Ibu,” katanya lagi.

Salah satu cara agar bahasa lokal ini bisa diangkat kembali adalah dengan melakukan penguatan bahasa lokal di daerahnya masing-masing. “Ada sebuah lembaga yang akan direkomendasikan oleh kongres untuk bertanggungjawab melakukan pengembangan bahasa lokal,” ujar Mustafa Ismail yang hobi menulis cerpen dan puisi.

Usaha yang bisa dilakukan dengan rekontruksi ulang, pencatatan dan mempromosikan bahasa lokal di Aceh. Semua harus ikut bertanggungjawab. “Bukan saja pemerintah, tapi juga masyarakat dan anak muda secara sukarela dan gotong royong,” ujar Mustafa mengaku terselenggaranya Kongres Peradaban Aceh ini tidak menggunakan dana APBN, APBA maupun APBK tapi lebih kepada meuripee atau gotong royong.

Ada 14 bahasa lokal di Aceh seperti bahasa Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Kluet, Jamee, Devayan, dan lain-lain. Bahkan, ada satu kabupaten yakni Simeulue, konon memiliki lima bahasa lokal yaitu bahasa Devayan, Sigulai, Leukon, dan lainnya.

Menurut Fajri, dari LIPI juga panitia Kongres Peradaban Aceh, bahasa yang paling banyak digunakan adalah bahasa Aceh dan bahasa gayo.

“Saya mendalami ada 14 bahasa di Aceh yang mayoritasnya adalah bahasa Aceh dan Gayo,” ujar putra kelahiran Aceh Singkil ini.

Dikatakannya bahasa Aceh digunakan lebih dari 3 juta penduduk Aceh, sedangkan bahasa Gayo sekitar 500 ribu orang. Kemudian ada bahasa lokal di Aceh Singkil, Aceh Selatan, Aceh Tamiang, Simeulue yang penuturnya kurang dari 10 ribu orang.

Bahasa yang penuturnya kurang dari 10 ribu orang ini dikatagorikan rentan terancam punah. “Kalau hanya digunakan dalam rumah tangga bisa dikatagorikan terancam punah, ini yang kita fokus bagaimana peradaban bahasa lokal di Aceh bisa bangkit,” ujar Fajri melengkapi.

Kami melakukan penelitian banyak mahasiswa dan anak muda di Kota Banda Aceh menggunakan bahasa Indonesia yang cikal bakalnya bahasa Indonesia juga berasal dari bahasa jawi, bahasa melayu. [Firman]

To Top