Sosial

Rasa Cinta Terhadap Adat Aceh Mulai Berkurang

ACEHTERKINI.COM | Perkembangan arus globalisasi semakin gencar saat ini. Rasa cinta terhadap adat dan budaya Aceh semakin berkurang.

“Pemangku adat dan pengurus MAA harus tetap aktif menggerakkan lembaga-lembaga adat di Aceh agar lebih berperan supaya dapat mencegah gesekan sosial budaya yang bersifat negative,” kata Sekda Aceh, Drs. Dermawan saat menbuka rapat kerja Majelis Adat Aceh (MAA) di Grand Nanggroe, Rabu (18/11/2015).

Dermawan mengajak tokoh masyarakat dapat berperan dalam penguatan dan pelestarian adat agar tradisi dan budaya sebagai identitas ke-Acehan tetap melekat dalam kehidupan masyarakat.

Penguatan adat Aceh, kata Dermawan sudah dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh yang merupakan urusan wajib Pemerintah Aceh dan kabupaten kota.

“Mari kita lestarikan adat dan budaya Aceh gampong-gampong, seperti gotong royong, solidaritas dan sosial yang tinggi, sopan santun,” ujar Sekda Aceh dalam acara itu yang juga dihadiri Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Haytar.

Pada kesempatan itu, Malik Mahmud Al Haytar mengatakan, adat dan budaya merupakan benteng bagi masyarakat dari pengaruh-pengaruh yang tidak sesuai dengan adat istiadat Aceh yang datang dari luar

“Pengaruh teknologi yang kian berkembang dan menyebarkan kebudayan-kebudayaan luar yang bertolak belakang dengan kehidupan masyarakat Aceh. Begitu juga dengan budaya seperti Gotong Royong yang kini sudah ditinggalkan oleh sebagian Masyarakat dan timbulnya budaya individualistik ditengah-tengah Masyarakat,” kata Malik Mahmud. [Edi]

To Top