Nasional

Menteri Agama Berharap Kedepan Tidak Ada Lagi Guru Honorer

ACEHTERKINI.COM | Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, didapuk sebagai Pimpinan Rombongan dua ribuan anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi DKI Jakarta yang melakukan upacara dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, Selasa (24/11), pagi.

Menteri Agama Berharap Kedepan TIdak Ada Lagi Guru Honorer

Upacara dan Tabur Bunga ini dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional dan Ulang Tahun PGRI ke-70.

Dalam Upacara dan Tabur Bunga yang bertema Persembahan Bagimu Pahlawan tersebut, turut hadir Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PGRI, Sulistyo dan rombongan dan jajaran pengurus Provinsi PGRI DKI Jakarta pimpinan Agus Suradika. Didampingi para pengurus teras PB PGRI pusat dan Provinsi, Menag melakukan tabur bunga ke tiga makam, di Komplek TMP Kalibata.

Makam pertama adalah makam mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Dr Ir Sumantri Brojonegoro (03-06-1916/18-12-1973). Selanjutnya Menag menabur bunga ke Makam KH Moch Dahlan, mantan Menteri Agama dan anggota DPA RI (02-06-1909/01-02-1977). Terkahir, Menag menabur bunga ke makam mantan ketua umum PB PGRI yang juga mantan anggota MPRS, RME Subiadinata (10-07-1915/19-09-1969).

Sempat ditanya wartawan terkait kesejahteraan guru, Menag menyatakan, bahwa Pemerintah berjanji mensejahterakan para pendidik tersebut. “Harapan Kami, ke depan, tidak ada yang namanya Guru Honorer. Karena posisi guru adalah posisi yang sangat mulia dan harus kita hormati,” terang Menag.

Hal ini, lanjutnya, juga sesuai dengan undang-undang. Jika seorang pengajar sudah mengajar minimal 2 tahun, selayaknya, guru tersebut tidak disebut sebagai guru honorer. “Kami akan mengupayakan semaksimal mungkin, agar pemerintah menambah ASN untuk guru,” katanya.

Namun, Menag mengatakan  bahwa saat ini  kemampuan pemerintah sangat terbatas. Perekonomian Indonesia dan dunia belum menggembirakan. “Meski demikian, kami, Pemerintah, akan semaksimal mungkin mensejahterakan masyarakat,” terang Menag.

Menag melihat, ke depan, tidak ada perbedaan antara guru ilmu umum dan guru ilmu agama, karena keduanya mempunyai profesi yang sama penting dan mulianya. “Kita lihat kondisi APBN kita, tapi intinya, pemerintah serius untuk meningkatkan kesejahteraan guru,” imbuhnya.

Tanggal 25 November ditetapkan sebagai hari lahir PGRI, karena pada tanggal tersebut, 70 tahun lalu, PGRI berdiri di Surakarta, Jawa Tengah. Eksistensi PGRI semakin kentara, saat tanggal 24 November juga diperingati sebagai Hari Guru Nasional, melalui Kepres No 78 tahun 1994.

Puncak HUT PGRI rencananya akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada 13 Desember 2015 yang akan dihadiri lebih dari 100 ribu guru dan tenaga kependidikan dari seluruh Indonesia. 

To Top