Ekonomi

Produksi Pala di Aceh Barat Daya Memprihatinkan

Produksi Pala di Aceh Barat Daya Memprihatinkan
Petani Pala [Ilustrasi]

ACEHTERKINI.COM | Produktifitas Pala di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dinilai rendah dan sangat memprihatinkan. Pasalnya, dalam setahun petani pala di Abdya hanya mampu menghasilkan 500 kilogram biji pala per hektar. Selain itu harga pala juga tergolong murah, sehingga banyak petani pala beralih ke tanaman lain.

Saudi, warga Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Abdya, Jum’at (30/10/2015) mengaku, tidak bisa berharap banyak dari hasil pala miliknya, sehingga terpaksa beralih ke tanaman lain seperti kopi dan tanaman yang sifatnya bisa menguntungkan lebih banyak.

Kata Saudi, harga pala saat ini terlalu murah, dalam kondisi basah, agen pengepul hanya mampu membayar Rp8 ribu sampai dengan Rp12 ribu per kilogram.

“Kondisi saat ini jauh berbeda dengan masa lalu, dimana pala bisa menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat di Abdya yang ketika itu masih bergabung dengan Kabupaten Aceh Selatan. Saat itu daerah kita dikenal dengan penghasil minyak pala, sirup pala dan kue pala,” sebutnya.

Disisi lain, lanjut Saudi, ada sejumlah lahan pala yang terbengkalai, tanpa ada perawatan yang serius dari pemiliknya, sehingga sejumlah pohon pala itu dibiarkan tumbuh diantara semak belukar yang terus mengancam pertumbuhan pohon pala.

“kita berharap, pemerintah mampu mendongkrak nilai jual pala supaya lebih baik, agar komoditi pala yang pernah terkenal ini bisa berkembang lagi,” ujarnya singkat.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Abdya, Herman Suriadi, mengatakan, sebelum tanaman pala di Abdya terserang penyakit, hasil produktifitas pala dalam setahun bisa mencapai satu ton per hektar, bahkan bisa lebih dari itu.

Namun saat ini, pasca banyaknya penyakit yang menyerang tanaman pala, sehingga produktifitas pala jauh menunurun, karena banyak tanaman yang mati secara mendadak. Selain itu kurangnya perawatan dari para petani akibat rendahnya harga pala, juga menjadi faktor utama merosotnya produksi pala di Abdya.

“Dalam setahun bisa dikatakan petani hanya mampu menghasilkan 500 kilogram untuk satu hektar tanaman pala,” sebutnya.

Dari 3000 hektar lebih lahan pala yang tersebar di sembilan kecamatan dalam Kabupaten Abdya, tambah Herman, baru setengah yang sudah menghasilkan pala, selebihnya masih dalam tahap pertumbuhan dan perawatan.

Akan tetapi, bila dilihat dari cara pengembangan, termasuk penanggulangan hama penyakit, sistem pertanian pala di Aceh masih belum memenuhi standar yang maksimal dan jauh tertinggal dari provinsi lain.

“Makanya produktifitas pala di Abdya belum ada kemajuan yang berarti,” katanya.

Dengan demikian, sambung Herman, untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah akan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, agar mendukung pengembangan komoditi pala sekaligus mendorong terbukanya pasar yang mampu menampung pala petani di Abdya. (Rizal)

To Top