Hukum

Cukong Kayu dan Oknum Pejabat Rambah TNGL bukan Petani

ACEHTERKINI.COM | Sebenarnya Petani yang tinggal di Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) adalah pahlawan. Petanilah yang melakukan penghijauan di Kawasan TNGL selama ini.  Sedangkan pelaku “perusak” TNGL adalah oknum pejabat serta cukong kayu yang berduit.

Hal ini di ungkapkan mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Tenggara, Thalib Akbar yang juga sebagai Wakil Ketua Majelis Adat Aceh (MAA), kepada acehterkini, Minggu (11/10/2015).

“Pelaku “perusak” TNGL adalah gerombolan cukong dari luar daerah yang berduit, serta para oknum pejabat di Aceh Tenggara dan Sumatera Utara,” katanya.

Mereka hanya memanfaatkan warga miskin yang masih lemah pengetahuan dan ekonomi tentang manfaat hutan dan segala isinya untuk mengarap TNGL yang telah di lindungi oleh Negara.

Kata Thalib Akbar, selama ini pemerintah pusat dan pemerintah daerah hanya bisa menghimbau petani untuk menjaga hutan tanpa memberikan kompensasi apapun kepada petani secara langsung.

Ada pribahasa Alas mengatakan nasib rakyat kecil itu “Nggo ndabuh nitimpai tangge, kakhat biyang tule” (red-sudah jatuh tertimpa tangga, digigit anjing lagi).

Sebenarnya dalam kehidupan masyarakat miskin bisa berarti sudah miskin disuruh pula menjaga hutan 24 jam agar hutan lestari tapi tak diberi apa-apa.

“Sekarang ada oknum main tebang, sungguh malanglah nasip petani miskin itu,” kata Thalib prihatin.

Katanya, hal yang harus dilakukan dalam pengelolaan TNGL adalah mengajak semua stakeholder untuk duduk bersama merumuskan tata kelola Taman Nasional Gunung Leuser satu-satunya di Aceh ini.

Karena secara antropologi sosial bahwa sifat orang-orang di Tanah Alas ini jika sudah diajak urun rembug berarti orang tersebut sudah dihargai dan diangkat harga dirinya, maka timbullah istilah petuah adat di Aceh Tenggara yang dikenal dengan Sepakat Segenep. [Dinni]

To Top