Layanan Publik

Membangun Keselamatan, ATC Paling Lama Melayani Penerbangan

ACEHTERKINI.COM | Keselamatan penerbangan dapat ditentukan oleh tiga sektor, yaitu Air Traffic Controller (ATC), Pilot dan Bandar Udara (Bandara). Masing-masing punya tugas, pokok dan fungsinya yang tersendiri. ATC memiliki waktu paling lama melayani penerbangan. Ia bisa dikatakan pemegang kuasa di udara.

Air Traffic Controller (ATC) yang menentukan perintah landing dan takeoff dalam sebuah penerbangan. Nizwar, Manager ATC di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mengatakan tugas ATC adalah memandu lalu lintas penerbangan.

“Pesawat itu akan terus dipandu sampai landing ke tempat tujuan, ada tata cara komunikasi dengan Pilot selaku pengendali pesawat,” kata Nizwar saat ditemui di ruang kerjanya.

ATC, kata Nizwar bukan yang paling menentukan dalam keselamatan sebuah penerbangan. Menurutnya peran pilot dan bandara juga mempengaruhi keselamatan penerbangan.

Teks Foto : Kabut Asap Sempat Menggangu Penerbangan di Provinsi Aceh [Firman Hidayat]

Katanya, seberapa hebat ATC mengontrol tapi pilotnya tidak bisa memahami dan kemudian fasilitas runway di Bandara tidak mendukung ini juga berpengaruh dalam keselamatan penerbangan. “Tiga serangkai ini harus saling mendukung, tidak bisa dipisahkan,” ujar Nizwar, 31 Agustus 2015.

Diakuinya, kerja ATC sedikit lebih berat jika dalam cuaca buruk. Kondisi ini memang membuat ATC merasa khawatir, kewaspadaan meningkat karena akan mengancam keselamatan penerbangan itu sendiri.

ATC tidak memiliki peran yang besar dalam menentukan keselamatan penerbangan. Tapi tugas ATC adalah paling lama dalam melayani penerbangan selama di udara.

Ia mengatakan kesalahan komunikasi antara ATC dan Pilot lumrah terjadi. Ini akan berakibat fatal dalam keselamatan penerbangan. “Umumnya faktor bahasa, karena dalam dunia penerbangan “wajib” menggunakan bahasa Inggris. Karena bahasa kita adalah bahasa Indonesia dan kadang Pilot kurang memahami bahasa Indonesia, ini akan terjadi salah paham,” ujar Manager ATC di Bandara Sultan Iskandar Muda.

Selain faktor bahasa, juga kata Nizwar adalah persoalan peralatan yang dimiliki ATC. Orangnya bagus tapi alatnya jelek, ini juga akan berakibat fatal. “Jadi tidak ada yang dominan, tiga sektor ini paling berperan dalam menentukan keselamatan penerbangan,” tutur putra kelahiran Aceh yang lulus sekolah penerbangan tahun 1995 ini.

Menyinggung cuaca buruk, Nizwar mengungkapkan pengendalian untuk melanjutkan atau balik ke Bandara cadangan itu merupakan keputusan Pilot.

“ATC hanya menyampaikan kondisi cuaca kepada Pilot, pengaruh jarak pandang seperti kabut asap itu paling sering terjadi, pilot bisa balik ke Bandara cadangan atau jika pilot bisa melihat runway, sah-sah saja untuk landing,” kata dia.

Kemudian kecelakaan sebuah pesawat juga dapat disebabkan oleh karakteristik sebuah Bandara. “Jika ada bangunan tinggi atau lokasi bandara di pergunungan maka berpeluang besar terjadi kecelakaan bila dibandingkan dengan Bandara yang datar. Kalau Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) ini aman,” katanya.

Teks : Manager ATC Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Provinsi Aceh, Nizwar [by.Firman Hidayat]

ATC bisa dikatakan pemegang kuasa udara. Perintah landing dan takeoff dalam sebuah penerbangan menjadi tugas ATC. Nyaris memang jika ATC dan Pilot salah berkomunikasi, bencana akan mengancam penerbangan.

Sejak tahun 2013, ATC menjadi lembaga yang terpisah dengan pengelola Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) yaitu PT. Angkasa Pura II.

Pemerintah bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan navigasi penerbangan terhadap pesawat udara demi keselamatan penerbangan. Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 77 Tahun 2012 Tentang Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia.

Menjadi pemandu lalu lintas udara ini tidak mudah. Di Aceh, personil ATC sudah memiliki lisensi atau sertifikat kompetensi. Personilnya berjumlah 17 orang yang juga ikut mengawasi penerbangan di Kabupaten Nagan Raya, Simeulue, Tapak Tuan, Takengon dan Sabang.

Untuk menjadi petugas ATC, seseorang mesti mengikuti pendidikan khusus di lembaga yang ada di bawah naungan Kementerian Perhubungan.

Dilansir dari wikipedia, pada Tahun 2008 Indonesia terpilih sebagai salah satu pemenang Air Traffic Control (ATC) Global Awards. Hadiah tersebut diterima oleh DR. Budi Muliawan Suyitno, Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Departemen Perhubungan pada tanggal 11 Maret 2008 di Amsterdam.
lndonesia ditetapkan sebagai pemenang atas upaya lndonesia dalam merealisasikan penggunaan penemuan teknologi baru, yaitu pembangunan stasiun “automatic dependent surveillance” (ADS) guna memantau dan melacak posisi pesawat terbang yang melintasi wilayah lndonesia secara akurat dan terintegrasi.

Pada tanggal 29 Juli 1999 di Jakarta dideklarasikan Organisasi Profesi Air Traffic Controller dengan nama Indonesia Air Traffic Controller Association (IATCA).

Kemudian Organisasi ini dikukuhkan sebagai anggota organisasi International Federation of Air Traffic Controllers’ Associations ( IFATCA ) pada tanggal 23 Maret 2001 di Gedung PBB Geneva – Switzerland.

Karakteristik Bandara SIM saat ini memiliki landasan pacu sepanjang 3.000 meter yang mampu menampung pesawat berbadan lebar. Pada 9 Oktober 2011 sebuah Boeing 747-400 berhasil melakukan takeoff dan landing, yang membuktikan bahwa bandara ini bisa dijadikan tempat transit bagi perusahaan penerbangan internasional.

Sekilas sejarah Bandara SIM, dikutip dari Wikipedia, Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) dibangun oleh Pemerintah Jepang pada tahun 1943. Pada saat itu, bandara ini hanya memiliki landasan pacu sepanjang 1.400 meter dan lebar 30 meter dalam bentuk huruf T dari Selatan akhir memanjang dari timur ke barat.

Pada tahun 1953 Sultan Iskandar Muda Airport (pada waktu itu disebut Blang Bintang Airport) dibuka kembali oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk tujuan pendaratan pesawat.

Runway digunakan hanya landasan membentang dari Selatan ke Utara 1400 meter. Pada saat itu pesawat pertama mendarat adalah Dakota DC-3, dan beberapa tahun kemudian ditambah dengan pendaratan pesawat Convair 240.

Pada tahun 1968, bandara ini telah mengembangkan perpanjangan landasan pacu 1850 meter dengan lebar 45 meter, dan Apron dengan dimensi 90 x 120 meter, sehingga telah mampu menampung pesawat besar seperti F28 Fokker.

Pada tahun 1993 dan 1994 Sultan Iskandar Muda Airport kembali mengalami perkembangan dengan menambah 2.250 landasan pacu dengan lebar 45 meter, yang dapat menampung pesawat DC-9 dan B-737 dan didukung dengan instalasi dari Radar yang terletak di Gunung Linteung dalam waktu kurang lebih 14 km dari bandara.

Pada 9 April 1994 Sultan Iskandar Muda Airport bergabung dengan PT (Persero) Angkasa Pura II, berdasarkan Surat Menteri Keuangan Nomor 533 / MK.016 / 1994 dan Surat Menteri Perhubungan A. 278 / AU.002 / SKJ / 1994

Pada tahun 1999, pengembangan melanjutkan Bandara Sultan Iskandar Muda dengan menambahkan 2500 meter panjang landasan untuk dapat menampung pesawat A330, dalam rangka untuk melayani keberangkatan Jamaah Haji.

Perkembangan terbaru dari bandara ini adalah pada tahun 2009, pasca tsunami, dimana panjang landasan pacu ditingkatkan lagi menjadi 3000 meter dengan lebar 45 meter, bangunan terminal baru menggantikan gedung terminal lama.

Bandara ini diresmikan secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 20 Agustus 2009.

Saat ini, Nizwar menambahkan Pergerakan pesawat satu hari di Bandara SIM rata-rata 20 kali dan Pesawat transit rata-rata 10 kali per bulan, pesawat kecil dari kolumbo dan dari timur tengah sering transit untuk isi minyak. [Firman Hidayat]

To Top