Sosial

Sering Terendam Air, Petani Kuta Makmur Terancam

Sering Terendam Air, Petani Kuta Makmur Terancam
Anggota DPRK Abdya Zul Ilfan bersama Kadistannak Abdya Maswadi meninjau puluhan hektar sawah milik warga yang terancam gagal panen akibat sering terendam air, Rabu (26/8/2015)

ACEHTERKINI.COM | Puluhan hektar sawah Petani di Desa Kuta Makmur, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) sering terendam air akibat dangkalnya saluran.

Akibatnya tanaman padi milik petani setempat, bakal mengalami gagal panen. Zul llfan salah satu Anggota DPRK Abdya mendesak Dinas Pekerjaan Umum (PU) kabupaten setempat, agar melakukan normalisasi pada saluran tersebut, supaya tanaman padi yang sudah berumur sekitar 2 bulan lebih itu tidak terendam air dengan waktu yang cukup lama.

“Kalau dibiarkan terendam, maka tanaman padi akan mati, kecil kemungkinan untuk dipetik hasilnya,” ungkap Zul Ilfan saat meninjau kelokasi lahan sawah milik petani yang sering terandam air di Desa Kuta Makmur, Kecamatan Jeumpa, didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Abdya Maswadi SP, Rabu (26/8/2015).

Zul Ilfan menyebutkan, panjang saluran tersebut sekitar 1,5 kilometer, hanya dengan dana seratusan juta rupiah saja, normalisasi saluran itu akan selesai. Selama ini, lanjut Zul Ilfan, puluhan hektare sawah di Desa Kuta Makmur itu terkesan diabaikan dari mata-mata para pemangku kepentingan di Abdya.

Termasuk para penyuluh pertanian di Kecamatan Jeumpa, juga jarang untuk meninjau kelokasi lahan pertanian milik warga tersebut, sehingga para petani di wilayah itu kurang pembinaan. Alhasil mereka terpaksa bergantung pada nasib untung-untungan semata.

“Kita sangat prihatin, padahal bila penyuluh mau membina dengan serius, maka lahan sawah di wilayah ini dapat menghasilkan padi yang berkualitas, disamping itu tanahnya juga sangat subur, hanya dengan sedikit air saja padi bisa tumbuh dengan baik,” ungkapnya.

Dikatakan Zul Ilfan, petani setempat rata-rata mengembangkan varietas lokal unggulan yang merupakan kebanggaan masyarakat Abdya yakni “Sugupai”, ironisnya akibat kurang pembinaan, petani setempat melakukan pemeliharaan padi unggulan itu layaknya padi-padi biasa lainnya, sehingga tanaman itu tumbuh tidak maksimal.

“Kita berharap, instansi terkait dapat melakukan pembinaan dengan serius kepada para petani di Desa Kuta Makmur, agar varietas Sigupai bisa mendapatkan hasil yang maksimal, sehingga sigupai tak hanya tinggal nama saja,” ujarnya singkat.

Dilokasi yang sama, Kepala Distannak Abdya Maswadi akan berupaya untuk membantu lahan pertanian di Kuta Makmur, supaya varietas Sigupai dapat terus berkembang dan menjadi padi unggulan bagi petani Abdya.

Untuk masalah penyuluh yang kurang melakukan pembinaan, Maswadi berjanji akan segera melakukan koordinasi dengan pihak penyuluh agar melakukan pembinaan serius pada petani diwilayah tersebut.

“Kita akan minta penyuluh lebih serius untuk melakukan pembinaan, dimana ada sawah disitu penyuluh harus turun untuk melakukan pengawasan dan pendampingan,” katanya singkat. (Rizal)

To Top