Sosial

LSM Kecam Cara Kerja Polisi di Aceh Menangkap Din Minimi

Din Minimi

ACEHTERKINI.COM | Sejumlah LSM di Aceh mengecam sikap Polda Aceh dalam melakukan pengejaran dan penangkapan terhadap kelompok Din Minimi. Sementara itu Kapolda Aceh, Husein Hamidi mengatakan upaya persuasif sudah dilakukan.

Komisi untuk Orang hilang dan Korban Tindak kekerasan (KontraS) Aceh mengatakan tindakan tembak di tempat yang menyebabkan kematian terhadap orang yang tidak menggunakan senjata merupakan suatu tindakan yang sangat tidak bermoral dan inprosedural yang dilakukan oleh Polisi di Aceh.

Dalam keterangan tertulisnya, Jum’at (28/8/2015), Koordinator KontraS Aceh, Hendra Saputra mengatakan apa yang dilakukan polisi terhadap Junaidi di SPBU Batuphat, Kecamatan Muara Satu, Lhokseuamwe adalah tindakan tidak bermoral. Walaupun Junaidi terduga pelaku kejahatan.

Menurut Hendra, apa yang dilakukan Polisi bukanlah sebuah tindakan yang melumpuhkan.”Kalau untuk melumpuhkan kenapa harus dengan senjata api,” kata Hendra.

“Tindakan yang dilakukan kepolisian sudah sangat menyalahi aturan yang dibuat oleh kepolisian sendiri sebagaimana diatur dalam Peraturan Kapolri  Nomor 1 Tahun 2009, dimana dalam pasal 5 menjelaskan tentang tahapan kepolisian dalam upaya penggunaan kekuatan, dimana penggunaan senjata api merupakan upaya terakhir bukan upaya pertama, akan tetapi selama ini upaya dengan menggunakan senjata api yang lebih ditonjolkan oleh pihak kepolisian kita,” tulis Hendra.

KontraS Aceh mendesak pihak Kompolnas untuk mengusut tindakan anggota kepolisian yang selama ini kerap melakukan upaya penembakan daripada pencegahan lainnya terhadap aksi-aksi krimininalitas bersenjata di Aceh.

Sementara itu Safaruddin dari YARA meminta Polisi di Aceh untuk tidak terlalu reaksional. “Din Minimi tidak menembak orang, kasusnya ini adalah ketidakadilan di internal GAM, ini persoalan ekonomi,” kata Safaruddin.

“Saya minta aparat penegak hukum, jangan menjadikan kasus ini sebagai proyek,” tegas Safaruddin.

Pengamat Politik dan Keamanan Aceh, Aryos Nivada juga angkat bicara pasca tewasnya Junaidi, Kamis (27/8/2015). Dalam keterangannya, Aryos menilai tindakan Polisi sudah menyalahi prosedur penanganan Kamtibmas.

Junaidi tidak bersenjata, menurut Aryos tindakan Polisi cukup hanya melumpuhkan bukan menembak mati.

“Harus dipahami tindakan penumpasan kelompok Din Minimi adalah kriminalitas biasa, bukan terkesan seperti memburu teroris,” katanya.

“Saya melihat ada unsur pelanggaran HAM yang dilakukan Polisi dalam melumpuhkan Junaidi, Komnas HAM harus turun mengungkap kasus ini,” demikian Aryos Nivada.

LSM Kecam Cara Kerja Polisi di Aceh Menangkap Din Minimi
Irjen Pol Husein Hamidi

Menanggapi persoalan tersebut, Kapolda Aceh, Irjen Pol. Husein Hamidi mengatakan selama ini pihaknya telah melakukan upaya persuasif agar Din Minimi menyerahkan diri beserta senjatanya.

“Tidak boleh siapapun yang menggunakan senjata, termasuk Polisi harus ada izin. Kelompok Din Minimi tidak mau menyerah,” ujar Kapolda dalam konperensi Pers yang digelar di Mapolda Aceh, Jum’at (28/8/2015) pagi.

Husein Hamidi menegaskan petugas di lapangan sudah melakukan penembakan sesuai dengan Protap yang ada. Sebelum dilumpuhkan, petugas memberikan tembakan peringatan, namun semua yang tewas itu melakukan perlawanan.

“Kita ingin tangkap hidup-hidup, tapi mereka melawan, kita minta mereka menyerah diri,” pinta Kapolda Aceh.

Dilansir dari situs merdeka, sudah tujuh orang yang diduga kelompok din minimi diringkus dan tewas ditembak sejak Mei 2015.

Anggota yang diduga Kelompok Din Minimi yang diringkus adalah T. Plang di Desa Limpok, Kecamatan Darussalam. Kemudian Faisal alias Komeng yang diringkus 11 Juli 2015 di Paya Bakong, Aceh Utara.

Selanjutnya yang tewas ditembak adalah Ibrahim Yusuf warga Delima Kabupaten Pidie, Subki warga Aceh Utara dan Yusliadi alias Ma Epong warga Julok, Aceh Timur. Ketiganya tewas ditembak aparat keamanan di Kecamatan Grong-Grong, Kabupaten Pidie pada 20 Mei 2015.

Kemudian Ridwan, warga Desa Pulo Meuria, Geurundong Pasee, Aceh Utara juga tewas di tempat pada Kamis 20 Agustus 2015.

Berikutnya Junaidi juga tewas di tempat. Ia ditembak Polisi di SPBU Batuphat, Lhokseumawe pada Kamis, 27 Agustus 2015.  [Edi]

To Top