Sosial

Dituduh Memaksa Kehendak, Kadistannak Abdya: Staf Saya Cengeng

ACEHTERKINI.COM | Sejumlah staf di Dinas Pertanian dan Peternakan (Kadistannak) Aceh Barat Daya (Abdya) menyatakan kalau kebijakan yang diambil oleh Kepala Distannak setempat terlalu maju dan terkesan memaksakan kehendak, sehingga beresiko terhadap bawahannya.

Kepada wartawan Rabu (5/8/2015), para staf Distannak yang tidak mau dipublikasikan namanya itu menyatakan, kebijakan pimpinan mereka selama ini membuat para bawahannya resah, pasalnya, tiap mengambil kebijakan, Kadis selalu melakukan tanpa kompromi.

“Kesannya beliau terlalu memaksakan kehendak, tanpa memikirkan resiko-resiko baik dalam masalah kinerja kita maupun dalam hal keuangan yang tentu saja akan bermuara pada proses hukum nantinya,”kata seorang staf.

Dalam hal ini, Kadis memaksakan agar laporan luas lahan diatas yang sewajarnya, dimana dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), luas lahan Abdya diketahui hanya berkisar 8 ribu hektare, sementara Kadis meminta laporan yang akan beliau laporkan ke Jakarta luas lahan harus diatas 10 ribu hektar.

“Saat kita komplain, Kadis marah dan mengatakan kita-kita ini terlalu lamban dalam bergerak dan berakibat pada ketertinggalan daerah Abdya dalam sektor pertanian, mau tidak mau kami ikuti saja saran Kadis,” ujarnya.

Begitu juga dengan masalah pertanian, Kadis seperti tidak faham akan permasalahan di areal sawah milik rakyat, dimana kata sumber itu, disamping permasalahan petani, lahan dan jaringan irigasi, juga tidak terlepas dari persoalan alat mesin pertanian (Alsinta) termasuk persoalan pupuk dan obat-obatan serta mengenai paska panen (gabah).

“Demikian juga benih, semua itu merupakan persoalan rutin tiap musim tanam tiba, Kadis beranggapan setelah benih dan pupuk serta obat-obatan disalurkan semua sudah beres,” ungkapnya.

Terkait masalah itu, Kadistannak Abdya Maswadi SP MPd yang dimintai tanggapannya terpisah mengaku segala kebijakan yang diambilnya selama ini penuh pertimbangan dan jauh dari kesan pemaksaan kehendak, hanya saja kata Maswadi, para bawahannya itu merasa keberatan karena tidak biasa bekerja ekstra. kebanyakan bawahannya sangat cengeng.

“Saya ajak berlari dalam mengejar ketertinggalan daerah di sektor pertanian, mereka melempem, malah menyalahkan saya yang terlalu kencang, istilahnya mereka terbiasa dengan jalan berbatu, sedangkan kita harus makai mesin jumbo,” tutur Maswadi.

Kata Maswadi, dirinya tidak masalah jika harus di mosi atau semacamnya oleh bawahannya, karena, bupati Abdya memakai dirinya di Distannak hanya untuk memperbaiki sektor pertanian, bukan melayani para bawahannya yang hanya ingin kerja santai-santai saja.

“Kerja harus digenjot, saya juga faham, selama ini mereka hanya kerja menurut keinginan mereka saja, bukan berdasarkan tanggung jawab, saya tidak mau itu, saya ingin perubahan, jika pertanian kali ini gagal, saya akan mengundurkan diri dari Kadis, jangan tantang saya, pertanian ini bidang saya, saya ahlinya,” demikian tegas Maswadi. (Rizal).

To Top