Pendidikan

Kementerian Agama Kelola Rp48 Triliun, Guru MIN Ulee Lheue Berkantor di WC

Kementerian Agama Kelola Rp48 Triliun, Guru MIN Ulee Lheue Berkantor di WC
MIN Ulee Lheue Kota Banda Aceh

ACEHTERKINI.COM | Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, M. Ishom Yusqi mengatakan problem utama saat ini adalah validitas data yang kita miliki tentang madrasah. Berapa jumlah Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK), berapa kebutuhan jumlah ruang kelas, berapa yang rusak dan berapa sarana laboratorium yang kita butuhkan untuk meningkatkan mutu pembelajaran di madrasah.

Dikutip dari laman Kemenag RI, Minggu (14/6/2015) ia menegaskan anggaran pendidikan Islam saat ini masih sangat terbatas, dan kita sedang memperjuangkan terus-menerus agar ada kenaikan dana pendidikan Islam.

“Total anggaran pendidikan nasional dalam APBN 2015 sekitar Rp 445 Trilyun (20% anggaran pendidikan). Riciannya Kementerian Pendidikan Kebudayaan Rp 53 Trilyun, Kementerian Dikti dan Riset Rp 44 Trilyun, Kementerian/lembaga lain yang menjalankan fungsi pendididkan  Rp 10 Trilyun dan Kementerian Agama RI baru sekitar Rp 48 Trilyun,” ujarnya.

Di berbagai kesempatan dan forum, pihaknya menyuarakan tentang keadilan distribusi anggaran pendidikan untuk pendidikan Islam dengan kalangan DPR, BAPPENAS, Kementerian Kordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan kalangan Pemda dan DPRD untuk terus memikirkan pendidikan Islam termasuk madrasah melalaui berbagai langkah afirmasi.

Kelemahan kita selama kata Ishom Yusqi adalah pada penyediaan data yang valid terkait dengan kebutuhan pendidikan Islam.

“Kasi Sarpras Bidang Pendidikan Madrrasah Kanwil Kementerian Provinsi harus paham betul kondisi madrasah-madrasah yang ada di wilayahnya. Berapa kebutuhan riilnya, ada berapa jumlah yang perlu dibangun dan juga direhabilitasi”, kata Ishom Yusqi.

Guru MIN Ulee Lheue Banda Aceh Berkantor di WC

Di Ibu Kota Provinsi Aceh, kondisi sarana dan prasarana Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Ulee Lheue, di Gampong Punge Blangcut, Kecamatan Jaya Baru Kota Banda Aceh sungguh sangat memprihatinkan. Sekolah yang pernah hancur total karena tsunami 2004 silam mendapat bantuan pembangunan dari Australia yang sangat terbatas ruang kelas belajarnya.

Kini, jumlah muridnya semakin bertambah, ruang kelas belajar dan bangku pun tidak tersedia.

Kepala Sekolah MIN Ulee Lheue, Tasmiati mengatakan tahun ini terpaksa hanya bisa menerima murid baru sebanyak 70 orang. “Padahal peminatnya banyak sekali,” ujarnya Minggu, (14/6/2015).

Murid baru ini, kata Tasmiati ditempatkan di kelas yang selama ini dipakai anak-anak kelas VI. Kemudian anak-anak kelas VI itu dipindahkan ke ruang guru yang akan kami siapkan menjadi ruang kelas belajar.

“Sedangkan untuk kantor guru kami pakai ruang WC dan gudang yang selama ini tidak di pakai,” ujar Kepala Sekolah MIN Ulee Lheue sembari mengharapkan kepedulian pemerintah terhadap pembangunan RKB dan sarana prasana MIN Ulee Lheue Kota Banda Aceh.
Tasmiati mengaku sudah mengusulkan 4(empat) Ruang Kelas Belajar (RKB) berikut sarana dan prasarana, WC dan Air Bersih kepada Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh untuk tahun 2016. “Semoga apa yang kami usulkan dapat diterima,” harapnya. [red/ate]

To Top