Ekonomi

Minim Investasi di Aceh, Soal Keamanan dan Syariat Islam

Minim Investasi di Aceh, Soal Keamanan dan Syariat Islam
Kepala Bappeda Aceh, Abubakar Karim (tengah)

ACEHTERKINI.COM | Nilai investasi Aceh pasca tsunami dan penandatanganan MoU Helsinki belum menggembirakan. Kendatipun nilai investasinya meningkat setiap tahun, terutama bidang Perkebunan.

Demikian dikatakan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Aceh, Prof. Abubakar Karim menyikapi pertumbuhan ekonomi Aceh yang terpuruk di Dekmi Café, Sabtu (9/5/2015).

Dihadapan puluhan wartawan dan masyarakat yang hadir, Abubakar Karim menjelaskan, dua alasan kenapa investasi di Aceh belum menggembirakan.

Menurut Abubakar Karim, investor yang datang selalu menanyakan keamanan di Aceh. “Itu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh investor yang datang,” ujar Kepala Bappeda.

Kemudian investor dari asing, seperti China, Korea juga sering menanyakan pelaksanaan Syariat Islam di Aceh dengan penerapan Qanun Jinayah. “Kalau maisir, khalwat, apa hukuman bagi orang asing ini,” ujar Abubakar.

Menurut Kepala Bappeda Aceh, Qanun Jinayah ini tidak mengancam keberadaan orang asing di Aceh.

“Dua pertanyaan masalah keamanan dan syariat Islam di Aceh sering ditanyakan investor, kalau masalah perizinan tidak ditanyakan, karena menyangkut perizinan sudah lebih baik,” kata Abubakar Karim.

Lanjut Guru Besar Unsyiah ini, minimnya investasi private sektor berimbas pada angka pengangguran di Aceh. Tentu banyak pengangguran berimbas pada ekonomi, Pertumbuhan ekonomi melambat. “Ekonomi Aceh adalah ekonomi pemerintah bukan ekonomi bisnis,” kata Abubakar Karim.

Pasalnya kata pria kelahiran Rikit Gaib, Kabupaten Gayo Lues ini, ekonomi di Aceh digerakkan uang APBN, APBA dan APBK. [ate]

Berikut Nilai Investasi PMDN dan PMA di Aceh 2010-2014;

Tahun 2010 = Rp86,755,000,000
Tahun 2011 = Rp388,407,000,000
Tahun 2012 = Rp1,268,328,800,000
Tahun 2013 = Rp5,091,120,859,000
Tahun 2014 = Rp4,099,198,990,000
Sumber; Badan Investasi dan Promosi Aceh

To Top