Sosial

Inilah Hari Pantang Melaut di Aceh. Pemerintah Belum Komit

Foto Ilustrasi [Internet]
ACEHTERKINI.COM | Hari Nelayan Nasional yang diperingati setiap tanggal 6 April merupakan hari yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia, terutama para nelayan di Aceh. Lembaga Panglima Laot mengatur pengelolaan sumberdaya pesisir dengan 6 hari pantang melaut. 
Di Aceh hampir sebagian besar pasokan gizi dan protein masyarakatnya berasal dari perikanan laut. Maka dari itu, sudah sepantasnya masyarakat Aceh turut merayakannya sebagai ungkapan terima kasih atas jasa-jasa para nelayan.
Melalui siaran tertulis Sahabat Laut Aceh, hari nelayan di provinsi paling barat pulau Sumatera ini diperingati secara seremonial. Fauca K. Ramadhan selaku Koordinator Sahabat Laut Aceh mengatakan rangkaian kegiatan menyambut hari nelayan di Aceh dengan diskusi publik, aksi damai, pemutaran film dan pameran fotografi. 
Sekjen Jaringan KuALA, Marzuki mengatakan Pemerintah Aceh tidak komit terhadap keberlanjutan sumber daya pesisir dan laut Aceh. Hal ini dapat kita lihat dari sangat kecilnya dana yang dikucurkan untuk program konservasi. 
“Seharusnya Pemerintah Aceh menyambut baik keinginan nelayan dan masyarakat pesisir yang terus menjaga dan melestarikan sumberdaya pesisir dan laut,” ungkapnya.
Konon kata Marzuki, pengawasan laut Aceh dari pencurian ikan dan pengrusakan sumber daya pesisir dan laut oleh nelayan dari luar Aceh masih sangat kurang. 
Lembaga Hukum Adat Panglima Laot dari dulu telah menjaga kedaulatan wilayahnya dengan wilayah adatnya. Selain itu, Lembaga Hukum Adat Panglima Laot juga mengatur pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautnya dengan enam hari pantang melaut, diantaranya :
  1. Dilarang melaut pada hari jum’at yang berjumlah 52 hari dalam setahun
  2. Dilarang melaut pada Hari Raya Idul Fitri yang berjumlah 3 hari
  3. Dilarang melaut pada Hari Raya Idul Adha yang berjumlah 3 hari
  4. Dilarang melaut pada Kenduri Laot yang berjumlah 3 hari
  5. Dilarang melaut pada Peringatan 17 Agustus yang berjumlah 1 hari
  6. Dilarang melaut pada Peringatan tsunami 26 Desemeber yang berjumlah 1 hari
Akumulasi dari seluruh hari pantang melaut di Provinsi Aceh adalah sebanyak 63 hari, artinya nelayan Aceh tidak melaut sebanyak 2 bulan dalam 1 tahun, selain ditambah dengan cuaca buruk dan ekstrim. 
Dari penjelasan ini, Pemerintah harus mengapresiasi aturan ini, dimana masyarakat nelayan Aceh sangat mematuhi aturan ini ketimbang aturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah. 
“Aturan adat laut ini merupakan kearifan lokal yang sangat baik, selain mengandung nilai spiritual dan sosial, yang  mengndung nilai keberlanjutan,” demikian Marzuki.

Kegiatan hari nelayan tahun 2015 di Aceh ini diinisiasi oleh beberapa lembaga, diantaranya dari Sekretariat Jaringan KuALA, Sahabat Laut Aceh, ODC Unsyiah, BEM Fakultas Kelautan dan Perikanan Unsyiah, Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan FKP Unsyiah, Himpunan Mahasiswa Budidaya FKP Unsyiah dan Himpunan Mahasiswa Pemanfataat Sumberdaya Perikanan FKP Unsyiah. [red]

To Top