Lingkungan

Ribuan Batang Sawit Ilegal Dalam KEL Dimusnahkan

Salah seorang anggota Pamhut Aceh Tamiang
menumbangkan kelapa sawit ilegal dalam Hutan Lindung Kawasan
Ekosistem Leuser (KEL), Minggu (29/3/2015). 
ACEHTERKINI.COM | Sedikitnya 3.000 hektar areal perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Tamiang akan dimusnahkan secara bertahap oleh Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama LSM Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAKA), KPH wilayah III dan pemerintah setempat. 
Rudi Putra dari Forum Konservasi Leuser (FKL) mengatakan pemusnahan ribuan kelapa sawit ini dilakukan karena sudah masuk hutan lindung dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). 
“Ada 3.000 hektar yang akan dimusnahkan. Sejak tahun 2009 sampai sekarang kita sudah menumbangkan kelapa sawit di areal sekitar 1.000 hektar,” ujar Rudi, Minggu (29/3/2015). 
Diasumsikan jika dalam satu hektar terdapat 120 batang kelapa sawit maka saat ini Forum Konservasi Lesuer telah menumbangkan 120.000 batang kelapa sawit illegal di Kecamatan Tamiang Hulu, Kecamatan Bandar Pusaka dan Kecamatan Tenggulung. 
Rudi menambahkan Bupati Aceh Tamiang, Hamdan Sati juga sudah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) 6 November 2014 terkait restorasi kawasan hutan lindung dan rehabilitasi hutan mangrove di Aceh Tamiang 
Dalam SK tersebut, Bupati Aceh Tamiang akan membangun kehutanan secara terintegrasi dengan melibatkan masyarakat sekitar kawasan hutan melalui kegiatan restorasi hutan lindung seluas lebih kurang 1.071 hektar di Kecamatan Tenggulun. 
Bupati Aceh Tamiang, Hamdan Sati mengatakan pada tahun 2000 telah terjadi pembukaan lahan dalam kawasan hutan lindung di Kecamatan Tenggulun untuk perkebunan kelapa sawit secara illegal seluas kurang lebih 1.000 hektar yang dilakukan oleh beberapa orang pelaku. 
Namun akhirnya para pelakunya kini telah menyerahkan lahan tersebut kepada Pemerintah Aceh. Penebangan kelapa sawit ini sudah dilakukan secara seremoni pada 29 September 2014 oleh Sekda Aceh Tamiang. 
“Target kita pada tahun 2016, kegiatan ini sudah selesai,” tambah Rudi Putra.
Dikatakan Rudi kegiatan restorasi yang akan dilakukan adalah penanaman non sawit. “Lahan ini menjadi milik pemerintah, tetap hutan lindung dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL),” demikian Rudi Putra. [FH]

To Top